SOCIAL MEDIA

Sejak Pemerintah mengumumkan untuk social distancing atau self isolation, saya dan suami mengikuti kebijakan itu dengan tetap #dirumahaja. Berharap tidak tertular, atau menjadi carrier untuk orang lain, ya kita tidak tau kan, karena banyak yang positif tanpa mengalami gejala, pokoknya #dirumahaja.

Awalnya saya tidak apa-apa, karena memang saya adalah stay at home wife, suami pun freelancer, jadi memang lebih sering di rumah, jadi sepertinya #dirumahaja itu tidak akan terasa berat untuk saya, apalagi saya introvert, rumah adalah tempat ternyaman.

Minggu pertama, masih seperti biasa, saya masih ke tukang sayur langganan dan ke pasar komplek rumah membeli bahan makanan untuk beberapa hari ke depan. Masih nafsu makan, masih bisa tidur (tapi sebelumnya jam tidur saya dan suami memang agak kemalaman ya, jam 11 atau 12 malam bahkan lewat jam 12 kami baru tertidur). Tapi saya masih bisa bangun pagi, membuang sampah, menyiapkan sarapan, membuat empon-empon, jam 11/12 nya masak, makan siang, bersih bersih, yaa seperti kehidupan saya sebelum Covid-19 datang. Bahkan ada kegiatan tambahan, kami workout bersama di rumah selama 10-15 menit.

Saya masih bisa melanjutkan cita-cita saya, seperti belajar menggambar digital, mendekor rumah, memilah sampah, mengompos, membeli tanaman baru, tentu saja saya masih happy dan mood. Di minggu pertama juga, saya masih terasa baik-baik saja, saya masih bisa tertawa nonton Running Man, masih mood nonton film, saya sudah nonton The Flu (youtube), Silenced (viu), Kim Ji-Young Born 1982 (viu), dan A Taxi Driver (viu). Bahkan sudah punya beberapa list film korea lainnya yang akan saya tonton selanjutnya.

Tiba-tiba memasuki minggu kedua #dirumahaja, saya merasa tidak semangat, seperti kehilangan arah, bosan. Yang sangat parah, jam tidur kami makin kacau, saya dan suami jadi insomnia akut. Berhari-hari kami tidak bisa tidur, padahal jam sudah menunjukkan pukul 02.30 pagi. Tapi otak saya seperti terus berfikir, entah apa yang saya fikirkan. Bangun jadi kesiangan, tidak ada lagi membuat empon-empon di pagi hari (jadi pindah ke sore, bahkan malam hari), workout pun juga tidak ada. Saya juga makin takut ke pasar, bahan makanan sudah habis, mengandalkan go-food, kadang jadi tidak nafsu makan.

Tidak nafsu menggambar digital, tidak nafsu melanjutkan nonton marathon dari list film saya. Yang membantu mood saya terjaga untuk bisa tetap melakukan aktifitas rumah tangga ya dengar lagu favorit. Tapi itu tidak membuat saya merasa saya sudah baik-baik saja. 

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa yang membedakan #dirumahaja waktu sebelum pandemi Covid-19 dan sekarang?

Saya baru sadar, kegiatan saya berbelanja ke pasar yang hampir setiap hari itu bisa membangun mood saya seharian. Walaupun saya introvert, saya butuh menghirup udara luar rumah di pagi hari untuk melakukan semua aktifitas rumah tangga. Memikirkan akan belanja apa setiap pagi, melihat keramaian dan interaksi jual beli di pasar, ternyata itu membangun mood saya untuk semua aktifitas hari-hari saya. Lalu sekarang, ke pasar menjadi takut dan dibatasi, bahkan disarankan belanja online saja.

Biasanya kami punya tempat pelarian ketika saya dan suami sudah jenuh di rumah seharian, Bxchange Mall. Kadang hanya untuk mencari makan malam, atau sekedar untuk membeli madu di Farmers Market, atau membeli Sour Sally, atau memesan wedang ronde di Imperial Dimsum Kitchen, atau sekedar window shopping. Kami selalu mencari udara luar rumah malam hari untuk melepas kepenatan siang hari di rumah. Tapi sekarang, kami harus tetap di rumah walau sudah sangat bosan rasanya.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa yang membuat saya resah akhir-akhir ini?

Saya sedih sekali, kemungkinan besar @singanddo.co tidak akan menjual hampers lebaran tahun ini, padahal saya sudah merencanakannya dari tahun lalu. Saya sedih sekali, @lucude belum bisa mengeluarkan produk baru dalam waktu dekat. Tentu saja kesedihan ini bukan saya saja yang merasakan, semua orang yang punya usaha, pekerja, ojek online, pedagang, semuanya pasti terpukul. Ternyata memang manusia hanya bisa berencana, Allah lah yang menentukan.

Saya khawatir sekali, orang tua saya di Padang, Abang saya dan istrinya di Padang, Cece saya dan suaminya di Jakarta, Uda saya dan istrinya di Lampung, mereka juga hanya berdua saja di rumah. Saya khawatir sekali, Covid-19 sangat berbahaya untuk orang tua, saya khawatir sekali, semoga orang tua saya, mertua saya, seluruh orang tua di dunia ini baik-baik saja.

Saya sedih sekali, melihat banyaknya tenaga medis yang gugur karena kurangnya APD saat merawat pasien Covid-19.

Saya sedih sekali, setiap hari semakin bertambah korban Covid-19 di Indonesia yang meninggal.

Saya sedih sekali, mendengar orang-orang yang saya kenal tiba-tiba meninggal.

Saya sedih sekali, membaca dan melihat proses pemakaman korban Covid-19.

Saya khawatir sekali, Ramadhan dan Idul Fitri masih dipenuhi kekhawatiran pandemi ini.

Saya khawatir sekali, tiba-tiba saya atau suami saya tidak terbangun lagi setelah tidur.

Begitu banyak kekhawatiran dan kesedihan yang ternyata tidak saya sadari sebelum mengetik tulisan ini. Tiba-tiba saya menangis setelah mengetik ini, sesak di dada saya sedikit berkurang. Saya berharap, setelah menuangkan beban fikiran ini, bisa kembali memperbaiki jam tidur saya, juga mood saya.

Semoga pandemi ini segera berakhir, dan kita semua bisa bepergian keluar rumah tanpa ada rasa khawatir lagi. Aamiin.


-SR-

Insomnia

Sunday, March 29, 2020

Sejak Pemerintah mengumumkan untuk social distancing atau self isolation, saya dan suami mengikuti kebijakan itu dengan tetap #dirumahaja. Berharap tidak tertular, atau menjadi carrier untuk orang lain, ya kita tidak tau kan, karena banyak yang positif tanpa mengalami gejala, pokoknya #dirumahaja.

Awalnya saya tidak apa-apa, karena memang saya adalah stay at home wife, suami pun freelancer, jadi memang lebih sering di rumah, jadi sepertinya #dirumahaja itu tidak akan terasa berat untuk saya, apalagi saya introvert, rumah adalah tempat ternyaman.

Minggu pertama, masih seperti biasa, saya masih ke tukang sayur langganan dan ke pasar komplek rumah membeli bahan makanan untuk beberapa hari ke depan. Masih nafsu makan, masih bisa tidur (tapi sebelumnya jam tidur saya dan suami memang agak kemalaman ya, jam 11 atau 12 malam bahkan lewat jam 12 kami baru tertidur). Tapi saya masih bisa bangun pagi, membuang sampah, menyiapkan sarapan, membuat empon-empon, jam 11/12 nya masak, makan siang, bersih bersih, yaa seperti kehidupan saya sebelum Covid-19 datang. Bahkan ada kegiatan tambahan, kami workout bersama di rumah selama 10-15 menit.

Saya masih bisa melanjutkan cita-cita saya, seperti belajar menggambar digital, mendekor rumah, memilah sampah, mengompos, membeli tanaman baru, tentu saja saya masih happy dan mood. Di minggu pertama juga, saya masih terasa baik-baik saja, saya masih bisa tertawa nonton Running Man, masih mood nonton film, saya sudah nonton The Flu (youtube), Silenced (viu), Kim Ji-Young Born 1982 (viu), dan A Taxi Driver (viu). Bahkan sudah punya beberapa list film korea lainnya yang akan saya tonton selanjutnya.

Tiba-tiba memasuki minggu kedua #dirumahaja, saya merasa tidak semangat, seperti kehilangan arah, bosan. Yang sangat parah, jam tidur kami makin kacau, saya dan suami jadi insomnia akut. Berhari-hari kami tidak bisa tidur, padahal jam sudah menunjukkan pukul 02.30 pagi. Tapi otak saya seperti terus berfikir, entah apa yang saya fikirkan. Bangun jadi kesiangan, tidak ada lagi membuat empon-empon di pagi hari (jadi pindah ke sore, bahkan malam hari), workout pun juga tidak ada. Saya juga makin takut ke pasar, bahan makanan sudah habis, mengandalkan go-food, kadang jadi tidak nafsu makan.

Tidak nafsu menggambar digital, tidak nafsu melanjutkan nonton marathon dari list film saya. Yang membantu mood saya terjaga untuk bisa tetap melakukan aktifitas rumah tangga ya dengar lagu favorit. Tapi itu tidak membuat saya merasa saya sudah baik-baik saja. 

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa yang membedakan #dirumahaja waktu sebelum pandemi Covid-19 dan sekarang?

Saya baru sadar, kegiatan saya berbelanja ke pasar yang hampir setiap hari itu bisa membangun mood saya seharian. Walaupun saya introvert, saya butuh menghirup udara luar rumah di pagi hari untuk melakukan semua aktifitas rumah tangga. Memikirkan akan belanja apa setiap pagi, melihat keramaian dan interaksi jual beli di pasar, ternyata itu membangun mood saya untuk semua aktifitas hari-hari saya. Lalu sekarang, ke pasar menjadi takut dan dibatasi, bahkan disarankan belanja online saja.

Biasanya kami punya tempat pelarian ketika saya dan suami sudah jenuh di rumah seharian, Bxchange Mall. Kadang hanya untuk mencari makan malam, atau sekedar untuk membeli madu di Farmers Market, atau membeli Sour Sally, atau memesan wedang ronde di Imperial Dimsum Kitchen, atau sekedar window shopping. Kami selalu mencari udara luar rumah malam hari untuk melepas kepenatan siang hari di rumah. Tapi sekarang, kami harus tetap di rumah walau sudah sangat bosan rasanya.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa yang membuat saya resah akhir-akhir ini?

Saya sedih sekali, kemungkinan besar @singanddo.co tidak akan menjual hampers lebaran tahun ini, padahal saya sudah merencanakannya dari tahun lalu. Saya sedih sekali, @lucude belum bisa mengeluarkan produk baru dalam waktu dekat. Tentu saja kesedihan ini bukan saya saja yang merasakan, semua orang yang punya usaha, pekerja, ojek online, pedagang, semuanya pasti terpukul. Ternyata memang manusia hanya bisa berencana, Allah lah yang menentukan.

Saya khawatir sekali, orang tua saya di Padang, Abang saya dan istrinya di Padang, Cece saya dan suaminya di Jakarta, Uda saya dan istrinya di Lampung, mereka juga hanya berdua saja di rumah. Saya khawatir sekali, Covid-19 sangat berbahaya untuk orang tua, saya khawatir sekali, semoga orang tua saya, mertua saya, seluruh orang tua di dunia ini baik-baik saja.

Saya sedih sekali, melihat banyaknya tenaga medis yang gugur karena kurangnya APD saat merawat pasien Covid-19.

Saya sedih sekali, setiap hari semakin bertambah korban Covid-19 di Indonesia yang meninggal.

Saya sedih sekali, mendengar orang-orang yang saya kenal tiba-tiba meninggal.

Saya sedih sekali, membaca dan melihat proses pemakaman korban Covid-19.

Saya khawatir sekali, Ramadhan dan Idul Fitri masih dipenuhi kekhawatiran pandemi ini.

Saya khawatir sekali, tiba-tiba saya atau suami saya tidak terbangun lagi setelah tidur.

Begitu banyak kekhawatiran dan kesedihan yang ternyata tidak saya sadari sebelum mengetik tulisan ini. Tiba-tiba saya menangis setelah mengetik ini, sesak di dada saya sedikit berkurang. Saya berharap, setelah menuangkan beban fikiran ini, bisa kembali memperbaiki jam tidur saya, juga mood saya.

Semoga pandemi ini segera berakhir, dan kita semua bisa bepergian keluar rumah tanpa ada rasa khawatir lagi. Aamiin.


-SR-
Beberapa minggu lalu, saya dan suami liburan ke Bali. Ini kali pertama saya dan kali kedua untuknya. Kami begitu semangat saat itu. Sesemangat saat saya menulis ini. Masih terasa hingga saat ini betapa indahnya Bali, baru saja kembali, tapi sudah rindu lagi. Bersyukur ada media untuk mengenang kenangan itu, a moment to remember, seperti sebuah judul film Korea.

Bukan ke Bali namanya kalau tidak ke pantai bukan. Karena ini pertama kalinya, saya juga ingin mengunjungi pantai yang sangat sering saya dengar jika mendengar Bali waktu dulu, seperti Kuta, Padang - Padang, atau Nusa Dua. Nggak mau, pantai - pantai itu udah ramai banget sekarang, begitu kata suami. Rencana awal yang ingin ke Pandawa, berubah ke Green Bowl Beach setelah merasa waktu kami tidak cukup untuk ke Pandawa. Pantainya keren, trus juga masih lumayan sepi, jadi aku bisa berenang di laut, begitulah keinginan suami.

Tapi menuju ke pantainya kita harus melewati anak tangga yaa, tambahnya. Oke gapapa, sekalian olahraga, jawab saya. Dan yaaa, kami menuruni anak tangga yang cukup banyak, dan ngos-ngosan. Tapi, lelahnya terbayar setelah sampai di bawah. Pasirnya yang putih, air lautnya yang bening, suara ombaknya yang menenangkan, sungguh memesona. Selain itu, disana juga ada goa yang juga tidak kalah memesona kalau mengambil foto dari sana, sayangnya saya tidak punya. Waktu itu saya lebih memilih menikmati suasana menenangkan itu, yang tidak akan saya temukan di Jakarta. 

Oiya info tambahannya, tidak dikenakan biaya tiket masuk ke pantai ini. Hanya saja lumayan banyak pedagang lokal disini, yang agak memaksa untuk membeli, kalau saya sih cukup terganggu. 

Ini beberapa potret oleh saya.



Potret oleh suami.



Ini ada bonus video. Dengarkanlah sebentar, sungguh memesona <3

Lokasi:
Green Bowl Beach, Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Indonesia.


Salam,
Suci Ramdasari

Green Bowl Beach yang Memesona

Tuesday, August 20, 2019

Beberapa minggu lalu, saya dan suami liburan ke Bali. Ini kali pertama saya dan kali kedua untuknya. Kami begitu semangat saat itu. Sesemangat saat saya menulis ini. Masih terasa hingga saat ini betapa indahnya Bali, baru saja kembali, tapi sudah rindu lagi. Bersyukur ada media untuk mengenang kenangan itu, a moment to remember, seperti sebuah judul film Korea.

Bukan ke Bali namanya kalau tidak ke pantai bukan. Karena ini pertama kalinya, saya juga ingin mengunjungi pantai yang sangat sering saya dengar jika mendengar Bali waktu dulu, seperti Kuta, Padang - Padang, atau Nusa Dua. Nggak mau, pantai - pantai itu udah ramai banget sekarang, begitu kata suami. Rencana awal yang ingin ke Pandawa, berubah ke Green Bowl Beach setelah merasa waktu kami tidak cukup untuk ke Pandawa. Pantainya keren, trus juga masih lumayan sepi, jadi aku bisa berenang di laut, begitulah keinginan suami.

Tapi menuju ke pantainya kita harus melewati anak tangga yaa, tambahnya. Oke gapapa, sekalian olahraga, jawab saya. Dan yaaa, kami menuruni anak tangga yang cukup banyak, dan ngos-ngosan. Tapi, lelahnya terbayar setelah sampai di bawah. Pasirnya yang putih, air lautnya yang bening, suara ombaknya yang menenangkan, sungguh memesona. Selain itu, disana juga ada goa yang juga tidak kalah memesona kalau mengambil foto dari sana, sayangnya saya tidak punya. Waktu itu saya lebih memilih menikmati suasana menenangkan itu, yang tidak akan saya temukan di Jakarta. 

Oiya info tambahannya, tidak dikenakan biaya tiket masuk ke pantai ini. Hanya saja lumayan banyak pedagang lokal disini, yang agak memaksa untuk membeli, kalau saya sih cukup terganggu. 

Ini beberapa potret oleh saya.



Potret oleh suami.



Ini ada bonus video. Dengarkanlah sebentar, sungguh memesona <3

Lokasi:
Green Bowl Beach, Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Indonesia.


Salam,
Suci Ramdasari
Bandung yang selalu memberikan rindu untuk ingin selalu kesana, membawa saya dan Ona berkeliling Kota Bandung pada Desember 2017 lalu. Keramahan Bandung tampak dari orang-orang disekelilingnya. Bagaimana Bandung menemani saya kala sunyi waktu itu.

Potret Bandung oleh Suci

Potret Suci oleh Ona 
Lokasi: Jalan Asia Afrika, Alun-Alun Kota Bandung, Lapangan Gasibu, dan Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat.
Photograph by Suci Ramdasari and Rahmadona

Salam,
Suci Ramdasari

Potret Bandung

Tuesday, November 6, 2018

Bandung yang selalu memberikan rindu untuk ingin selalu kesana, membawa saya dan Ona berkeliling Kota Bandung pada Desember 2017 lalu. Keramahan Bandung tampak dari orang-orang disekelilingnya. Bagaimana Bandung menemani saya kala sunyi waktu itu.

Potret Bandung oleh Suci

Potret Suci oleh Ona 
Lokasi: Jalan Asia Afrika, Alun-Alun Kota Bandung, Lapangan Gasibu, dan Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat.
Photograph by Suci Ramdasari and Rahmadona

Salam,
Suci Ramdasari
Semua orang punya pikirannya masing-masing. Tentang apa saja, pekerjaan, orang yang dicintai, kampung halaman, dan lain-lain. Mungkin juga ada yang tidak suka terlalu bawa pikiran, mungkin. Karena setiap pikiran hanya diri kita sendiri yang mengetahui. Begitu juga saya, semalam banyak sekali yang saya pikirkan, hingga susah sekali untuk tidur.

Hari ini saya ingin me time, dan terima kasih pada suami sudah mengizinkan. Saya merasa sangat nyaman di tengah keramaian Starbucks, hanya ada saya dan pikiran saya. Sebelumnya tidak pernah saya merasa senyaman ini sendirian di keramaian. Saya bisa membuat list yang ingin saya lakukan. Menuangkan semua yang saya pikirkan semalam ke dalam planner saya. Menulis resep masakan yang ingin saya masak. Menulis blog. Mencari inspirasi. Membaca. Rileks, nyaman, dengan segelas signature chocolate favorit saya.

Once more, thank you so much Hubby ❤️


Jakarta,
Suci Ramdasari

Saya dan Pikiran

Friday, October 12, 2018

Semua orang punya pikirannya masing-masing. Tentang apa saja, pekerjaan, orang yang dicintai, kampung halaman, dan lain-lain. Mungkin juga ada yang tidak suka terlalu bawa pikiran, mungkin. Karena setiap pikiran hanya diri kita sendiri yang mengetahui. Begitu juga saya, semalam banyak sekali yang saya pikirkan, hingga susah sekali untuk tidur.

Hari ini saya ingin me time, dan terima kasih pada suami sudah mengizinkan. Saya merasa sangat nyaman di tengah keramaian Starbucks, hanya ada saya dan pikiran saya. Sebelumnya tidak pernah saya merasa senyaman ini sendirian di keramaian. Saya bisa membuat list yang ingin saya lakukan. Menuangkan semua yang saya pikirkan semalam ke dalam planner saya. Menulis resep masakan yang ingin saya masak. Menulis blog. Mencari inspirasi. Membaca. Rileks, nyaman, dengan segelas signature chocolate favorit saya.

Once more, thank you so much Hubby ❤️


Jakarta,
Suci Ramdasari
Menikah. Hari yang sangat saya tunggu, akhirnya datang jua.

"Asa dan rasa yang sepertinya diijabah semesta. Dia yang sempat ada dalam do'a, lalu terlupa, kemudian ditemukan". - Suci Ramdasari

Sejak lama, sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama, ketika guru agama saya membahas perihal jodoh itu juga pilihan, sepertinya saya sudah memimpikan bertemu jodoh dengan cara yang tak pernah saya duga, namun waktu itu hanya mimpi yang berlalu saja. Ketika berumur 20 tahun saya memulai kembali impian pernikahan saya. Singkat cerita, hingga saya berumur 23 tahun namun jodoh itu belum juga ada, saya ikhlaskan kepada Allah bagaimana jadinya pertemuan saya dengan jodoh saya.

Banyak yang bertanya bagaimana pertemuan dan proses saya dengan suami, yang sebenarnya sampai detik ini pun kami masih tidak percaya sudah memiliki pasangan hidup. Hingga hampir setiap hari mengucapkan terima kasih karena sudah mau.

Awal 2017, saya merasa sangat rindu dengan jodoh saya. Saya selalu sematkan dalam do'a agar segera dipertemukan dengan jodoh. Hingga saat saya memilih merantau ke Jakarta, tanggal 17 Februari 2017 ketika di perjalanan menuju Jakarta, saya niatkan "Ya Allah, sengaja aku ke Jakarta untuk mencari kerja dan mencari jodoh". Hari terus berlalu hingga 2017 pun hampir berlalu, dan tampaknya jodoh belum menampakkan dirinya.

Menuju 2018, saya introspeksi diri, saya tambahkan do'a, saya ikhlaskan diri, saya ikhlaskan masa lalu, dan bismillah semoga 2018 bisa bertemu jodoh dan menikah, begitu resolusi 2018 saya. Awal Februari 2018, ada teman pria di kantor yang sepertinya sedang mendekati saya. Dalam hati berkata "ah mungkin dia sedang bercanda". Hari demi hari tampaknya dia tidak bercanda, namun dia juga tidak pernah chat pribadi seperti bertanya lagi apa dan basa basi lainnya. Kami hanya berbicara ketika makan siang bersama dan bertemu ketika akan atau selesai shalat ashar di Masjid. Dan ada perubahan yang dia lakukan, dia mengikuti sosial media saya dan melihat aktifitas sosial media saya. Saya terus bertanya di dalam hati, "apakah dia serius atau sedang bercanda". Akhirnya pertanyaan ini saya tujukan kepada Sang Pemilik Hati bukan kepada dia.

Seperti pada kalimat saya "asa dan rasa sepertinya diijabah semesta". Do'a saya perihal bertanya tentang dia serius atau bercanda diijabah. Tanggal 17 Februari 2018, tepat 1 tahun saya berniat bertemu jodoh di Jakarta. Dia meminta izin melalui WhatsApp kepada Mama untuk melakukan pendekatan dengan saya. Yang akhirnya dia, Mama, dan saya bertemu keesokan harinya untuk menyatakan dia serius, tidak sedang bercanda, dan mohon izin untuk melakukan pendekatan (kebetulan waktu itu Mama sedang di Jakarta). Begitulah proses saya dan suami dimulai. Kurang lebih sebulan setelah hari itu, suami menelepon Papa yang berada di Padang untuk minta izin ingin melamar. Awal Mei 2018, kami lamaran di Padang, singkat, cepat, lancar, dan tidak ada hambatan, alhamdulillah. Kami mulai menyiapkan semua kebutuhan pernikahan. Semua proses lancar dan dimudahkan Allah. Lalu, 16 September 2018 kami menikah.

Banyak yang bilang proses perkenalan saya dan suami hingga menikah cukup singkat. Yaa begitulah, saya dan suami pun tidak menyangka. Ternyata jodoh saya hanya berjarak 3 meja dari meja kerja saya.

Sekian kisah saya, semoga yang sedang merindukan jodoh bisa lebih ikhlas hingga waktunya tiba, tetap dalam do'a semoga segera.

Kunjungi juga www.sucieko.com ya, ada kisah perjalanan saya dan suami :)


Jakarta,
Suci Ramdasari

Suci Menikah

Wednesday, October 10, 2018

Menikah. Hari yang sangat saya tunggu, akhirnya datang jua.

"Asa dan rasa yang sepertinya diijabah semesta. Dia yang sempat ada dalam do'a, lalu terlupa, kemudian ditemukan". - Suci Ramdasari

Sejak lama, sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama, ketika guru agama saya membahas perihal jodoh itu juga pilihan, sepertinya saya sudah memimpikan bertemu jodoh dengan cara yang tak pernah saya duga, namun waktu itu hanya mimpi yang berlalu saja. Ketika berumur 20 tahun saya memulai kembali impian pernikahan saya. Singkat cerita, hingga saya berumur 23 tahun namun jodoh itu belum juga ada, saya ikhlaskan kepada Allah bagaimana jadinya pertemuan saya dengan jodoh saya.

Banyak yang bertanya bagaimana pertemuan dan proses saya dengan suami, yang sebenarnya sampai detik ini pun kami masih tidak percaya sudah memiliki pasangan hidup. Hingga hampir setiap hari mengucapkan terima kasih karena sudah mau.

Awal 2017, saya merasa sangat rindu dengan jodoh saya. Saya selalu sematkan dalam do'a agar segera dipertemukan dengan jodoh. Hingga saat saya memilih merantau ke Jakarta, tanggal 17 Februari 2017 ketika di perjalanan menuju Jakarta, saya niatkan "Ya Allah, sengaja aku ke Jakarta untuk mencari kerja dan mencari jodoh". Hari terus berlalu hingga 2017 pun hampir berlalu, dan tampaknya jodoh belum menampakkan dirinya.

Menuju 2018, saya introspeksi diri, saya tambahkan do'a, saya ikhlaskan diri, saya ikhlaskan masa lalu, dan bismillah semoga 2018 bisa bertemu jodoh dan menikah, begitu resolusi 2018 saya. Awal Februari 2018, ada teman pria di kantor yang sepertinya sedang mendekati saya. Dalam hati berkata "ah mungkin dia sedang bercanda". Hari demi hari tampaknya dia tidak bercanda, namun dia juga tidak pernah chat pribadi seperti bertanya lagi apa dan basa basi lainnya. Kami hanya berbicara ketika makan siang bersama dan bertemu ketika akan atau selesai shalat ashar di Masjid. Dan ada perubahan yang dia lakukan, dia mengikuti sosial media saya dan melihat aktifitas sosial media saya. Saya terus bertanya di dalam hati, "apakah dia serius atau sedang bercanda". Akhirnya pertanyaan ini saya tujukan kepada Sang Pemilik Hati bukan kepada dia.

Seperti pada kalimat saya "asa dan rasa sepertinya diijabah semesta". Do'a saya perihal bertanya tentang dia serius atau bercanda diijabah. Tanggal 17 Februari 2018, tepat 1 tahun saya berniat bertemu jodoh di Jakarta. Dia meminta izin melalui WhatsApp kepada Mama untuk melakukan pendekatan dengan saya. Yang akhirnya dia, Mama, dan saya bertemu keesokan harinya untuk menyatakan dia serius, tidak sedang bercanda, dan mohon izin untuk melakukan pendekatan (kebetulan waktu itu Mama sedang di Jakarta). Begitulah proses saya dan suami dimulai. Kurang lebih sebulan setelah hari itu, suami menelepon Papa yang berada di Padang untuk minta izin ingin melamar. Awal Mei 2018, kami lamaran di Padang, singkat, cepat, lancar, dan tidak ada hambatan, alhamdulillah. Kami mulai menyiapkan semua kebutuhan pernikahan. Semua proses lancar dan dimudahkan Allah. Lalu, 16 September 2018 kami menikah.

Banyak yang bilang proses perkenalan saya dan suami hingga menikah cukup singkat. Yaa begitulah, saya dan suami pun tidak menyangka. Ternyata jodoh saya hanya berjarak 3 meja dari meja kerja saya.

Sekian kisah saya, semoga yang sedang merindukan jodoh bisa lebih ikhlas hingga waktunya tiba, tetap dalam do'a semoga segera.

Kunjungi juga www.sucieko.com ya, ada kisah perjalanan saya dan suami :)


Jakarta,
Suci Ramdasari

Sebenarnya ide tulisan dengan judul ini sudah terfikirkan oleh saya sejak awal Januari. Tapi ide ini tersendat karena bingung bagaimana harus mengembangkan judul ini menjadi paragraf. Lalu Sabtu kemaren saya diajak Tisa ikut bookasession yang diadakan oleh @bookabukucom yang langsung saya iyakan karena pertama free, kedua karena bosan Sabtu di kosan terus. Dari sesi tersebut saya mendapatkan tambahan insprasi untuk pengembangan judul ini menjadi paragraf.

Topik dari sesi itu adalah passion and perseverance. Dimana passion itu sepertinya sudah agak lama saya lupakan. Sebenarnya passion itu apa sih? Saya sendiri belum mengetahuinya dengan pasti. Tapi yang pasti menurut kacamata saya yang sangat awam, passion itu hanya profesi. Orang-orang yang sudah mengetahui passionnya, pasti sangat bergairah agar passion itu bisa menjadi profesi. Bahkan ada quotenya "pekerjaan yang paling enak adalah hobi yang dibayar". Dan passion, sepertinya sangat berpengaruh untuk judul ini.

/ker.ja/n sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah, mata pencaharian (KBBI). Empat tahun lalu, saya mengklaim pada orang tua saya, saya tidak ingin bekerja pada orang lain, saya inginnya jadi pengusaha. Namun nyatanya saat ini, saya bekerja untuk orang lain, saya bekerja untuk membantu mewujudkan mimpi orang lain. Empat tahun lalu, saya berfikir bahwa orang yang bekerja untuk orang lain itu tidak keren. Namun nyatanya saat ini, saya menikmati saja bekerja untuk orang lain. Saya menyadari, pikiran saya empat tahun lalu itu sangat salah, tidak ada yang salah dengan kerja bukan? Selama itu halal dan tidak membebani dirinya sendiri, bahkan sebenarnya kerja itu harus. Karena kita membutuhkan uang untuk bertahan hidup, salah satu caranya ya kerja. Dan mungkin saja kerja untuk beberapa orang menjadi passionnya. Saat ini saya menyadari, mereka yang bekerja dengan posisi dan gaji yang tinggi itu juga keren. Pasti untuk mendapatkan itu, mereka butuh proses yang tidak sebentar juga.

/usa.ha/n kegiatan di bidang perdagangan (dengan maksud mencari untung) (KBBI). Apakah semua orang yang membuka usaha menjadi pengusaha? Tidak. Tapi semua orang bisa memulai untuk membuka usaha, selama punya modal dan niat, ya bisa-bisa saja. Orang yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan pada orang lain, pasti mencoba untuk berjualan. Atau yang sudah bosan bekerja di kantor mikirnya "bagusnya buka usaha apa ya?". Tapi semua yang bisa membuka usaha, tidak akan semuanya juga bisa menjadi pengusaha. Mereka yang bisa berinovasi, yang berani mengambil resiko, dan mengembangkan usahanya itulah pengusaha. Mungkin juga menjadi pengusaha itu adalah passionnya, sehingga mereka bisa.

/kar.ya/n 1. pekerjaan; 2. hasil perbuatan, buatan, ciptaan (KBBI). Sebenarnya menurut saya, orang yang paling keren itu adalah orang yang bisa meng-uang-kan karyanya. Seperti yang saya tulis di paragraf dua, mungkin ini yang dimaksud hobi yang dibayar. Tapi sesungguhnya, yang tidak kita ketahui, jalan berliku dan terjal seperti apa yang mereka lalui untuk bisa seperti itu. Mungkin karena alasan itulah mengapa orang-orang ini saya anggap sangat keren. Mereka sanggup mengambil keputusan dan tindakan untuk menghasilkan karya yang mereka inginkan, meninggalkan pekerjaan, lalu bahagia.

Orang yang bekerja pada orang lain dengan posisi dan gaji yang tinggi, sesungguhnya mereka punya beban dan tanggung jawab yang sangat tinggi. Orang yang bekerja dengan posisi yang bisa dianggap rendah atau pedagang kaki lima, mereka tetap semangat untuk tetap bekerja karena mereka harus makan dan menghidupi keluarga mereka. Seorang pengusaha, atau seorang yang berkarya, mungkin butuh waktu yang lama, konflik yang rumit, proses yang tidak mudah dan berliku hingga mereka bisa dikenal. Seperti quote yang saya lupa saya dapatkan darimana "tidak perlu iri pada rezeki orang lain, kamu tidak tau apa yang telah diambil darinya". Sekarang menurut saya, apapun pekerjaannya, apapun yang mereka jual, siapapun yang berani membuat karya. Menurut saya, mereka semua keren.


xoxo,
uciramda

Bicara Tentang Kerja, Pengusaha, dan Karya

Sunday, January 28, 2018

Sebenarnya ide tulisan dengan judul ini sudah terfikirkan oleh saya sejak awal Januari. Tapi ide ini tersendat karena bingung bagaimana harus mengembangkan judul ini menjadi paragraf. Lalu Sabtu kemaren saya diajak Tisa ikut bookasession yang diadakan oleh @bookabukucom yang langsung saya iyakan karena pertama free, kedua karena bosan Sabtu di kosan terus. Dari sesi tersebut saya mendapatkan tambahan insprasi untuk pengembangan judul ini menjadi paragraf.

Topik dari sesi itu adalah passion and perseverance. Dimana passion itu sepertinya sudah agak lama saya lupakan. Sebenarnya passion itu apa sih? Saya sendiri belum mengetahuinya dengan pasti. Tapi yang pasti menurut kacamata saya yang sangat awam, passion itu hanya profesi. Orang-orang yang sudah mengetahui passionnya, pasti sangat bergairah agar passion itu bisa menjadi profesi. Bahkan ada quotenya "pekerjaan yang paling enak adalah hobi yang dibayar". Dan passion, sepertinya sangat berpengaruh untuk judul ini.

/ker.ja/n sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah, mata pencaharian (KBBI). Empat tahun lalu, saya mengklaim pada orang tua saya, saya tidak ingin bekerja pada orang lain, saya inginnya jadi pengusaha. Namun nyatanya saat ini, saya bekerja untuk orang lain, saya bekerja untuk membantu mewujudkan mimpi orang lain. Empat tahun lalu, saya berfikir bahwa orang yang bekerja untuk orang lain itu tidak keren. Namun nyatanya saat ini, saya menikmati saja bekerja untuk orang lain. Saya menyadari, pikiran saya empat tahun lalu itu sangat salah, tidak ada yang salah dengan kerja bukan? Selama itu halal dan tidak membebani dirinya sendiri, bahkan sebenarnya kerja itu harus. Karena kita membutuhkan uang untuk bertahan hidup, salah satu caranya ya kerja. Dan mungkin saja kerja untuk beberapa orang menjadi passionnya. Saat ini saya menyadari, mereka yang bekerja dengan posisi dan gaji yang tinggi itu juga keren. Pasti untuk mendapatkan itu, mereka butuh proses yang tidak sebentar juga.

/usa.ha/n kegiatan di bidang perdagangan (dengan maksud mencari untung) (KBBI). Apakah semua orang yang membuka usaha menjadi pengusaha? Tidak. Tapi semua orang bisa memulai untuk membuka usaha, selama punya modal dan niat, ya bisa-bisa saja. Orang yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan pada orang lain, pasti mencoba untuk berjualan. Atau yang sudah bosan bekerja di kantor mikirnya "bagusnya buka usaha apa ya?". Tapi semua yang bisa membuka usaha, tidak akan semuanya juga bisa menjadi pengusaha. Mereka yang bisa berinovasi, yang berani mengambil resiko, dan mengembangkan usahanya itulah pengusaha. Mungkin juga menjadi pengusaha itu adalah passionnya, sehingga mereka bisa.

/kar.ya/n 1. pekerjaan; 2. hasil perbuatan, buatan, ciptaan (KBBI). Sebenarnya menurut saya, orang yang paling keren itu adalah orang yang bisa meng-uang-kan karyanya. Seperti yang saya tulis di paragraf dua, mungkin ini yang dimaksud hobi yang dibayar. Tapi sesungguhnya, yang tidak kita ketahui, jalan berliku dan terjal seperti apa yang mereka lalui untuk bisa seperti itu. Mungkin karena alasan itulah mengapa orang-orang ini saya anggap sangat keren. Mereka sanggup mengambil keputusan dan tindakan untuk menghasilkan karya yang mereka inginkan, meninggalkan pekerjaan, lalu bahagia.

Orang yang bekerja pada orang lain dengan posisi dan gaji yang tinggi, sesungguhnya mereka punya beban dan tanggung jawab yang sangat tinggi. Orang yang bekerja dengan posisi yang bisa dianggap rendah atau pedagang kaki lima, mereka tetap semangat untuk tetap bekerja karena mereka harus makan dan menghidupi keluarga mereka. Seorang pengusaha, atau seorang yang berkarya, mungkin butuh waktu yang lama, konflik yang rumit, proses yang tidak mudah dan berliku hingga mereka bisa dikenal. Seperti quote yang saya lupa saya dapatkan darimana "tidak perlu iri pada rezeki orang lain, kamu tidak tau apa yang telah diambil darinya". Sekarang menurut saya, apapun pekerjaannya, apapun yang mereka jual, siapapun yang berani membuat karya. Menurut saya, mereka semua keren.


xoxo,
uciramda

Ini postingan pertama saya di tahun 2018. Tadinya ingin jadi postingan terakhir di 2017, lalu ada ajakan dari seorang kawan yang tidak ingin saya tolak, jadi saya menunda posting blog saja akhirnya.

Agak melenceng dari judul, boleh ya saya sedikit throw back 2017 di satu paragraf ini. Hmm 2017, jika saya throw back, hidup saya biasa saja dan tak banyak pencapaian berharga di tahun lalu. Sedih. Tapi seharusnya saya tidak membicarakan hasil, karena hasil yang bagus itu hadiah dari perjuangan proses yang baik. Mungkin 2017 saya belum mendapatkan hasil, karena di tahun lalu adalah waktu dimana saya sedang bertumbuh (pikir saya). Iya bertumbuh, bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik (wishlist). Awal 2017 adalah hari-hari tergalau saya, bahkan hingga pertengahan 2017 masih galau. Alhamdulillah akhir Juli Allah menjawab do'a dan membuka mata saya untuk belajar memperbaiki diri. Saya menemukan banyak cara untuk memperbaiki proses saya saat bertumbuh, yang membuat saya berenergi untuk siap menjalani 2018.

Bismillah 2018.
Di tahun ini, saya juga ingin bisa menulis caption seperti Raisa "upload foto sendiri dengan perasaan yang disimpan sendiri, penuh haru, penuh syukur, untuk tahun 2018 yang luar biasa. Cuma bisa bilang, tahun ini jauh lebih indah dari segala yang saya bisa unggah di social media. Alhamdulillah".

Jadi akhir 2017 saya menulis resolusi 2018 saya di story instagram. Yaitu: 1. lebih bahagia, 2. sehat jasmani dan rohani, 3. bertemu jodoh, 4. menjadi Suci Ramdasari. Ini adalah resolusi secara garis besar dari 14 resolusi yang saya tulis di planner saya. Poin 2, 3, 4 adalah untuk mencapai poin 1 "lebih bahagia". Poin 1, 2, 3 untuk menjadi poin 4 yaitu "menjadi Suci Ramdasari"

Minggu-minggu terakhir 2017, saya membaca review sebuah buku yang berjudul The Happiness Project karya Gretchen Rubin. Karena saya sudah merasa kurang bahagia sejak pertengahan 2017, lalu menemukan review ini membuat saya semangat. Hingga menjadikannya resolusi 2018. Sebenarnya saya masih baca setengahnya, tapi masih setengah bacaan saja buku ini sudah sangat membantu saya. Menjadi lebih bahagia adalah tujuan Gretchen, begitu juga dengan saya.

Lalu mengapa poin 2, 3, 4 untuk mencapai poin 1 "lebih bahagia"? Karena untuk bahagia, saya membutuhkan poin 2, tubuh yang sehat agar saya bisa berenergi untuk menjalani hari-hari, tentu saja hati dan jiwa juga harus sehat agar kebahagiaan itu menjadi balance untuk dunia dan akhirat. Poin 3, poin yang sebenarnya saya butuhkan sejak lama (kode banget ya Allah T.T). Geothe mengatakan, tidak ada hal yang lebih fundamental berdasarkan kebahagiaan, kecuali pernikahan. Apalagi saya seorang yang selalu suka bercerita pada orang yang nyaman tentang suka duka hidup saya, yang pasti akan mencapai poin 1 itu. Poin 4, menurut Gretchen, menjadi diri sendiri, melakukan apa yang ingin dilakukan, akan menjadi bahagia. Walaupun tidak semua orang berkesempatan bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan, tapi saya ingin mencoba.

Lalu mengapa poin 1, 2, 3 menjadi poin 4? Karena poin 1, 2, 3 adalah proses untuk saya bertumbuh agar bisa menjadi poin 4 "menjadi Suci Ramdasari", Suci Ramdasari yang lebih baik, yang lebih bahagia, dan lebih bersyukur. Lebih daripada itu, saya tidak ingin mengingkari kehidupan yang sudah saya miliki. Saya ingin mengubah hidup tanpa mengubah kehidupan saya (The Happiness Project, hal xxii).

Bismillah 2018, semoga bahagia.


xoxo,
uciramda

Bismillah 2018

Monday, January 1, 2018

Ini postingan pertama saya di tahun 2018. Tadinya ingin jadi postingan terakhir di 2017, lalu ada ajakan dari seorang kawan yang tidak ingin saya tolak, jadi saya menunda posting blog saja akhirnya.

Agak melenceng dari judul, boleh ya saya sedikit throw back 2017 di satu paragraf ini. Hmm 2017, jika saya throw back, hidup saya biasa saja dan tak banyak pencapaian berharga di tahun lalu. Sedih. Tapi seharusnya saya tidak membicarakan hasil, karena hasil yang bagus itu hadiah dari perjuangan proses yang baik. Mungkin 2017 saya belum mendapatkan hasil, karena di tahun lalu adalah waktu dimana saya sedang bertumbuh (pikir saya). Iya bertumbuh, bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik (wishlist). Awal 2017 adalah hari-hari tergalau saya, bahkan hingga pertengahan 2017 masih galau. Alhamdulillah akhir Juli Allah menjawab do'a dan membuka mata saya untuk belajar memperbaiki diri. Saya menemukan banyak cara untuk memperbaiki proses saya saat bertumbuh, yang membuat saya berenergi untuk siap menjalani 2018.

Bismillah 2018.
Di tahun ini, saya juga ingin bisa menulis caption seperti Raisa "upload foto sendiri dengan perasaan yang disimpan sendiri, penuh haru, penuh syukur, untuk tahun 2018 yang luar biasa. Cuma bisa bilang, tahun ini jauh lebih indah dari segala yang saya bisa unggah di social media. Alhamdulillah".

Jadi akhir 2017 saya menulis resolusi 2018 saya di story instagram. Yaitu: 1. lebih bahagia, 2. sehat jasmani dan rohani, 3. bertemu jodoh, 4. menjadi Suci Ramdasari. Ini adalah resolusi secara garis besar dari 14 resolusi yang saya tulis di planner saya. Poin 2, 3, 4 adalah untuk mencapai poin 1 "lebih bahagia". Poin 1, 2, 3 untuk menjadi poin 4 yaitu "menjadi Suci Ramdasari"

Minggu-minggu terakhir 2017, saya membaca review sebuah buku yang berjudul The Happiness Project karya Gretchen Rubin. Karena saya sudah merasa kurang bahagia sejak pertengahan 2017, lalu menemukan review ini membuat saya semangat. Hingga menjadikannya resolusi 2018. Sebenarnya saya masih baca setengahnya, tapi masih setengah bacaan saja buku ini sudah sangat membantu saya. Menjadi lebih bahagia adalah tujuan Gretchen, begitu juga dengan saya.

Lalu mengapa poin 2, 3, 4 untuk mencapai poin 1 "lebih bahagia"? Karena untuk bahagia, saya membutuhkan poin 2, tubuh yang sehat agar saya bisa berenergi untuk menjalani hari-hari, tentu saja hati dan jiwa juga harus sehat agar kebahagiaan itu menjadi balance untuk dunia dan akhirat. Poin 3, poin yang sebenarnya saya butuhkan sejak lama (kode banget ya Allah T.T). Geothe mengatakan, tidak ada hal yang lebih fundamental berdasarkan kebahagiaan, kecuali pernikahan. Apalagi saya seorang yang selalu suka bercerita pada orang yang nyaman tentang suka duka hidup saya, yang pasti akan mencapai poin 1 itu. Poin 4, menurut Gretchen, menjadi diri sendiri, melakukan apa yang ingin dilakukan, akan menjadi bahagia. Walaupun tidak semua orang berkesempatan bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan, tapi saya ingin mencoba.

Lalu mengapa poin 1, 2, 3 menjadi poin 4? Karena poin 1, 2, 3 adalah proses untuk saya bertumbuh agar bisa menjadi poin 4 "menjadi Suci Ramdasari", Suci Ramdasari yang lebih baik, yang lebih bahagia, dan lebih bersyukur. Lebih daripada itu, saya tidak ingin mengingkari kehidupan yang sudah saya miliki. Saya ingin mengubah hidup tanpa mengubah kehidupan saya (The Happiness Project, hal xxii).

Bismillah 2018, semoga bahagia.


xoxo,
uciramda

"It's gonna be okay. No matter what the problem is. It's always nice to hear someone telling you 'it's gonna be okay'. I think it's not about how factual that statement is. But more about hearing what you want to hear when you just need the slightest hope"
-Diana Rikasari-


Sepertinya saya belum pernah cerita tentang seseorang yang nyata yang sangat berpengaruh dalam hidup saya di blog ini. Sebelum 2017 berakhir saya ingin cerita tentang orang yang sangat saya cintai, yang selalu menasehati dan saya rindukan. Dia adalah Femy Dianola, kakak saya, yang saat kecil saya panggil Cece, lalu sudah beranjak besar saya suka mengganti panggilannya sesuka hati saya, menjadi teteh, eseng, dan sekarang gondo. Saat kecil, saya dan Cece lebih sering bertengkar daripada main bersama. Pernah saya memukul dan mendorongnya hingga terjatuh dan benjol, maafkan Ce.

Lalu ketika Cece sudah SMP dan saya masih SD, kami sekamar. Pertengkaran fisik itu sudah tidak ada, tapi ngambekan tetap ada. Walaupun satu kamar dan satu kasur, tapi kalau sudah ngambek, kami tidak akan bertegur sapa, pernah sampai beberapa hari tidak bertegur sapa. Lalu Mama bertanya pada saya, belum ngobrol sama Cece? Saya jawab belum. Dan saya lupa bagaimana akhirnya kami baikan.

Ketika sudah SMA dan kuliah, kami semakin akrab, punya hobi yang sama, cita-cita yang sama, dan sama-sama putus cinta setelah bertahun-tahun pacaran. Kami selalu saling curhat tentang apa saja, tentang pengusaha sukses yang memulai karir dari bawah, tentang buku yang bisa memotivasi, tentang skin care, tentang wanita, tentang patah hati, tentang jatuh cinta, tentang drama korea, tentang running man, segalanya. Bukan berarti tidak pernah marahan lagi, namun karena sudah sedikit lebih dewasa, ketika marahan, kami bisa mengungkapkan kekesalan itu, lalu baikan.

Akhir 2016 ke 2017 adalah hari-hari terberat saya. Saya seperti kehilangan arah, saya kehilangan mental entrepreneur saya, pokoknya saat itu saya seperti seorang yang sangat-sangat kebingungan dan tak tau arah. Hari-hari saya lalui dengan tidur, bangun tidur, makan, dan nonton K-Drama. Kalau kata peribahasa "hidup segan, mati tak mampu". Alhamdulillah saya masih punya Cece, tempat berbagi cerita dan yang menasehati saya. Nasehatnya yang masih saya ingat "kamu ini sudah di usia, kamulah penanggung jawab segala keputusan yang kamu ambil, boleh bertanya pada orang lain, tapi keputusan tetap ditanganmu dan kamulah penanggung jawabnya".

Awal 2017 saya mulai menyelesaikan perasaan yang tersendat itu, saya berusaha bangkit dan memilih merantau ke Jakarta. Tentunya dengan dukungan dari Cece. Ternyata jarak membuat kami saling memberi motivasi dan menasehati. Dan kegalauan saya berlanjut. Nasehat berikutnya adalah "habiskan jatah galaumu". Cece sudah seperti obat penenang bagi saya, dia adalah orang terakhir tempat saya bercerita, dan selalu memberikan energi. Saya merasa lebih beruntung daripada Jonghyun karena masih punya iman dan orang tempat berbagi cerita suka dan duka.

Karena sebenarnya Suci Ramdasari itu adalah seorang yang rapuh dan melankolis. Bukan berarti saya tidak tau cara berdoa pada Yang Maha Kuasa. Tapi saya memang seseorang yang membutuhkan orang lain saat menentukan pilihan. Walaupun memang pilihan itu ada ditangan saya, tapi saya tetap butuh seseorang yang memberikan nasehat agar saya yakin dengan pilihan tersebut. Saya seseorang yang membutuhkan orang lain untuk mengatakan kalau saya bisa dan baik-baik saja. Dan Cece adalah orang yang tepat.

Terima kasih Ce, aku cinta mati sama kamu.


xoxo,
uciramda

My Dear

Monday, December 25, 2017

"It's gonna be okay. No matter what the problem is. It's always nice to hear someone telling you 'it's gonna be okay'. I think it's not about how factual that statement is. But more about hearing what you want to hear when you just need the slightest hope"
-Diana Rikasari-


Sepertinya saya belum pernah cerita tentang seseorang yang nyata yang sangat berpengaruh dalam hidup saya di blog ini. Sebelum 2017 berakhir saya ingin cerita tentang orang yang sangat saya cintai, yang selalu menasehati dan saya rindukan. Dia adalah Femy Dianola, kakak saya, yang saat kecil saya panggil Cece, lalu sudah beranjak besar saya suka mengganti panggilannya sesuka hati saya, menjadi teteh, eseng, dan sekarang gondo. Saat kecil, saya dan Cece lebih sering bertengkar daripada main bersama. Pernah saya memukul dan mendorongnya hingga terjatuh dan benjol, maafkan Ce.

Lalu ketika Cece sudah SMP dan saya masih SD, kami sekamar. Pertengkaran fisik itu sudah tidak ada, tapi ngambekan tetap ada. Walaupun satu kamar dan satu kasur, tapi kalau sudah ngambek, kami tidak akan bertegur sapa, pernah sampai beberapa hari tidak bertegur sapa. Lalu Mama bertanya pada saya, belum ngobrol sama Cece? Saya jawab belum. Dan saya lupa bagaimana akhirnya kami baikan.

Ketika sudah SMA dan kuliah, kami semakin akrab, punya hobi yang sama, cita-cita yang sama, dan sama-sama putus cinta setelah bertahun-tahun pacaran. Kami selalu saling curhat tentang apa saja, tentang pengusaha sukses yang memulai karir dari bawah, tentang buku yang bisa memotivasi, tentang skin care, tentang wanita, tentang patah hati, tentang jatuh cinta, tentang drama korea, tentang running man, segalanya. Bukan berarti tidak pernah marahan lagi, namun karena sudah sedikit lebih dewasa, ketika marahan, kami bisa mengungkapkan kekesalan itu, lalu baikan.

Akhir 2016 ke 2017 adalah hari-hari terberat saya. Saya seperti kehilangan arah, saya kehilangan mental entrepreneur saya, pokoknya saat itu saya seperti seorang yang sangat-sangat kebingungan dan tak tau arah. Hari-hari saya lalui dengan tidur, bangun tidur, makan, dan nonton K-Drama. Kalau kata peribahasa "hidup segan, mati tak mampu". Alhamdulillah saya masih punya Cece, tempat berbagi cerita dan yang menasehati saya. Nasehatnya yang masih saya ingat "kamu ini sudah di usia, kamulah penanggung jawab segala keputusan yang kamu ambil, boleh bertanya pada orang lain, tapi keputusan tetap ditanganmu dan kamulah penanggung jawabnya".

Awal 2017 saya mulai menyelesaikan perasaan yang tersendat itu, saya berusaha bangkit dan memilih merantau ke Jakarta. Tentunya dengan dukungan dari Cece. Ternyata jarak membuat kami saling memberi motivasi dan menasehati. Dan kegalauan saya berlanjut. Nasehat berikutnya adalah "habiskan jatah galaumu". Cece sudah seperti obat penenang bagi saya, dia adalah orang terakhir tempat saya bercerita, dan selalu memberikan energi. Saya merasa lebih beruntung daripada Jonghyun karena masih punya iman dan orang tempat berbagi cerita suka dan duka.

Karena sebenarnya Suci Ramdasari itu adalah seorang yang rapuh dan melankolis. Bukan berarti saya tidak tau cara berdoa pada Yang Maha Kuasa. Tapi saya memang seseorang yang membutuhkan orang lain saat menentukan pilihan. Walaupun memang pilihan itu ada ditangan saya, tapi saya tetap butuh seseorang yang memberikan nasehat agar saya yakin dengan pilihan tersebut. Saya seseorang yang membutuhkan orang lain untuk mengatakan kalau saya bisa dan baik-baik saja. Dan Cece adalah orang yang tepat.

Terima kasih Ce, aku cinta mati sama kamu.


xoxo,
uciramda
Gyeolhone daehayeo
Pernikahan adalah tentang
Joeun sarameul manna
Bertemu dengan orang yang baik
Joeun sarangeul hago
Memiliki cinta yang baik
Joeun jibeul gatneun geot
Dan membeli rumah yang bagus

Because This Is My First Life Ost Part 4 - Marriage by MoonMoon

Sebenarnya, apa arti pernikahan itu? Saya wanita yang sangat ingin menikah. Menurut agama saya, menikah adalah untuk menyempurnakan agama. Awalnya saya pikir hanya saya saja yang terlalu memikirkan pernikahan. Namun, ketika saya bertemu teman wanita yang juga single, mereka juga memiliki pernikahan dan suami impian, saat mereka menjelaskan, seperti tersirat harapan mungkin juga sebuah nama di dalam hati mereka. Keinginan menikah hanya pernah saya dengar dari sudut pandang teman wanita. Saya tidak pernah bertanya atau mendengar cerita pernikahan impian dari sudut pandang teman laki-laki.

Setelah menonton K-Drama Because This Is My First Life, saya mengetahui pandangan beberapa karakter laki-laki di drama tersebut tentang pernikahan. Saya tidak akan membahas tentang pernikahan impian saya, atau membahas alur cerita drama tersebut. Namun, saya akan membahas tentang pernikahan berdasarkan pemahaman yang saya dapatkan setelah menonton drama tersebut. Bukan tentang pernikahan secara agama atau suku budaya. Tapi tentang pernikahan secara rasional.

Nam Se-Hee, tidak ingin menikah, dia hanya ingin hidup dan meninggal bersama kucing peliharaannya dan di rumah yang dia cicil hampir seluruh hidupnya. Lalu Se-Hee memilih menikahi Yoon Ji-Ho karena dia merasa mereka sangat cocok untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing dan merasa nyaman satu sama lain, bukan karena cinta. Namun ternyata, mereka saling jatuh cinta, dan Se-Hee memilih menerima keputusan Ji-Hoo untuk bercerai sebelum dia sempat menyatakan cintanya. Kemudian dia menyadari dia sangat kehilangan sosok wanita yang dicintainya dan sangat merindukannya.

Ma Sang-Goo yang jatuh cinta dengan wanita yang tidak ingin menikah dan tidak ingin kehidupan pribadinya diganggu, Woo Soo-Ji. Tetap sabar, tetap mencintai, tetap menjaga, dan menghibur kekasihnya itu. Dia sangat peduli dan memberi pengertian pada kekasihnya arti pernikahan.

Sim Won-Seok, seseorang yang sudah berpacaran selama 7 tahun dan sangat mencintai kekasihnya, Yang Ho-Rang. Merasa belum siap menikahi kekasihnya. Sementara Ho-Rang sangat ingin menikah, dan Won-Seok merasa terbebani dengan impian kekasihnya itu. Menurut Won-Seok, pernikahan dan cinta adalah dua hal yang berbeda. Kemudian dia memilih berpisah dengan Ho-Rang, karena walaupun dia sangat mencintai Ho-Rang, dia tidak percaya diri bisa membahagiakan kekasihnya. Dia merasa terbebani karena harus merelakan impiannya.

Sebelum episode terakhir release, saya setuju dengan statement Won-Seok bahwa pernikahan dan cinta itu adalah dua hal yang berbeda. Pernikahan bukan tentang betapa aku mencintaimu, tetapi tentang bertemu orang yang tepat di waktu yang tepat. Karena walaupun saya mencintai seseorang, mungkin orang tersebut belum tentu ingin menikahi saya. Mengapa orang yang pacaran 7 tahun harus menyatakan siap menikah setelah pacaran 7 tahun? Bahkan jika mereka tidak pacaran 7 tahun pun, jika mereka memang berjodoh, pasti akan bertemu di waktu tepat dengan cara yang tak pernah mereka sangka. Itulah mengapa saya mengatakan bahwa pernikahan itu tentang bertemu orang yang tepat di waktu yang tepat.

Kemudian, setelah menonton dua episode terakhir. Saya mengubah pemahaman statement di atas. Nam Se-Hee yang merasa sangat kehilangan Ji-Ho menjual rumahnya karena berpikir tidak akan bisa bersama Ji-Ho lagi. Won-Seok yang menolak wanita yang memilihnya karena merasa pikiran dan hatinya masih untuk orang yang sama, Ho-Rang. Soo-Ji yang akhirnya mulai terbuka tentang kehidupan pribadinya dengan Song-Goo karena merasa nyaman dan dicintai.

Lalu, inilah kesimpulan saya, bahwa pernikahan itu ada karena aku mencintaimu. Karena aku mencintaimu, aku ingin hidup bersamamu. Ini adalah alasan paling rasional mengapa dua orang manusia menikah. Apapun agamanya, apapun suku dan budayanya. Seorang laki-laki akan menikahi wanita karena:
"Aku senang melihatmu tersenyum"
"Aku ingin membuatmu bahagia"
"Aku tidak bisa hidup tanpamu"

Karena jika bukan alasan rasional ini, suatu pernikahan tidak akan bisa bertahan. Mencintai seseorang bukan berarti tidak membencinya, hanya saja tak bisa. Mengapa harus pacaran 7 tahun dulu baru siap menikah? Karena seorang laki-laki butuh waktu, mental, juga materi untuk menyatakan bahwa dirinya bisa membahagiakan wanita yang dicintainya. Bahkan jika dia sangat mencintaimu, dia masih butuh waktu yang tepat untuk menyatakan ingin hidup bersamamu. Geothe mengatakan, tidak ada hal yang lebih fundamental berdasarkan kebahagiaan, kecuali pernikahan.


xoxo,
uciramda

Marriage

Saturday, December 2, 2017

Gyeolhone daehayeo
Pernikahan adalah tentang
Joeun sarameul manna
Bertemu dengan orang yang baik
Joeun sarangeul hago
Memiliki cinta yang baik
Joeun jibeul gatneun geot
Dan membeli rumah yang bagus

Because This Is My First Life Ost Part 4 - Marriage by MoonMoon

Sebenarnya, apa arti pernikahan itu? Saya wanita yang sangat ingin menikah. Menurut agama saya, menikah adalah untuk menyempurnakan agama. Awalnya saya pikir hanya saya saja yang terlalu memikirkan pernikahan. Namun, ketika saya bertemu teman wanita yang juga single, mereka juga memiliki pernikahan dan suami impian, saat mereka menjelaskan, seperti tersirat harapan mungkin juga sebuah nama di dalam hati mereka. Keinginan menikah hanya pernah saya dengar dari sudut pandang teman wanita. Saya tidak pernah bertanya atau mendengar cerita pernikahan impian dari sudut pandang teman laki-laki.

Setelah menonton K-Drama Because This Is My First Life, saya mengetahui pandangan beberapa karakter laki-laki di drama tersebut tentang pernikahan. Saya tidak akan membahas tentang pernikahan impian saya, atau membahas alur cerita drama tersebut. Namun, saya akan membahas tentang pernikahan berdasarkan pemahaman yang saya dapatkan setelah menonton drama tersebut. Bukan tentang pernikahan secara agama atau suku budaya. Tapi tentang pernikahan secara rasional.

Nam Se-Hee, tidak ingin menikah, dia hanya ingin hidup dan meninggal bersama kucing peliharaannya dan di rumah yang dia cicil hampir seluruh hidupnya. Lalu Se-Hee memilih menikahi Yoon Ji-Ho karena dia merasa mereka sangat cocok untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing dan merasa nyaman satu sama lain, bukan karena cinta. Namun ternyata, mereka saling jatuh cinta, dan Se-Hee memilih menerima keputusan Ji-Hoo untuk bercerai sebelum dia sempat menyatakan cintanya. Kemudian dia menyadari dia sangat kehilangan sosok wanita yang dicintainya dan sangat merindukannya.

Ma Sang-Goo yang jatuh cinta dengan wanita yang tidak ingin menikah dan tidak ingin kehidupan pribadinya diganggu, Woo Soo-Ji. Tetap sabar, tetap mencintai, tetap menjaga, dan menghibur kekasihnya itu. Dia sangat peduli dan memberi pengertian pada kekasihnya arti pernikahan.

Sim Won-Seok, seseorang yang sudah berpacaran selama 7 tahun dan sangat mencintai kekasihnya, Yang Ho-Rang. Merasa belum siap menikahi kekasihnya. Sementara Ho-Rang sangat ingin menikah, dan Won-Seok merasa terbebani dengan impian kekasihnya itu. Menurut Won-Seok, pernikahan dan cinta adalah dua hal yang berbeda. Kemudian dia memilih berpisah dengan Ho-Rang, karena walaupun dia sangat mencintai Ho-Rang, dia tidak percaya diri bisa membahagiakan kekasihnya. Dia merasa terbebani karena harus merelakan impiannya.

Sebelum episode terakhir release, saya setuju dengan statement Won-Seok bahwa pernikahan dan cinta itu adalah dua hal yang berbeda. Pernikahan bukan tentang betapa aku mencintaimu, tetapi tentang bertemu orang yang tepat di waktu yang tepat. Karena walaupun saya mencintai seseorang, mungkin orang tersebut belum tentu ingin menikahi saya. Mengapa orang yang pacaran 7 tahun harus menyatakan siap menikah setelah pacaran 7 tahun? Bahkan jika mereka tidak pacaran 7 tahun pun, jika mereka memang berjodoh, pasti akan bertemu di waktu tepat dengan cara yang tak pernah mereka sangka. Itulah mengapa saya mengatakan bahwa pernikahan itu tentang bertemu orang yang tepat di waktu yang tepat.

Kemudian, setelah menonton dua episode terakhir. Saya mengubah pemahaman statement di atas. Nam Se-Hee yang merasa sangat kehilangan Ji-Ho menjual rumahnya karena berpikir tidak akan bisa bersama Ji-Ho lagi. Won-Seok yang menolak wanita yang memilihnya karena merasa pikiran dan hatinya masih untuk orang yang sama, Ho-Rang. Soo-Ji yang akhirnya mulai terbuka tentang kehidupan pribadinya dengan Song-Goo karena merasa nyaman dan dicintai.

Lalu, inilah kesimpulan saya, bahwa pernikahan itu ada karena aku mencintaimu. Karena aku mencintaimu, aku ingin hidup bersamamu. Ini adalah alasan paling rasional mengapa dua orang manusia menikah. Apapun agamanya, apapun suku dan budayanya. Seorang laki-laki akan menikahi wanita karena:
"Aku senang melihatmu tersenyum"
"Aku ingin membuatmu bahagia"
"Aku tidak bisa hidup tanpamu"

Karena jika bukan alasan rasional ini, suatu pernikahan tidak akan bisa bertahan. Mencintai seseorang bukan berarti tidak membencinya, hanya saja tak bisa. Mengapa harus pacaran 7 tahun dulu baru siap menikah? Karena seorang laki-laki butuh waktu, mental, juga materi untuk menyatakan bahwa dirinya bisa membahagiakan wanita yang dicintainya. Bahkan jika dia sangat mencintaimu, dia masih butuh waktu yang tepat untuk menyatakan ingin hidup bersamamu. Geothe mengatakan, tidak ada hal yang lebih fundamental berdasarkan kebahagiaan, kecuali pernikahan.


xoxo,
uciramda

Sabtu kemaren saya ikut workshop photostory yang diadakan oleh Instax Indonesia, informasi saya dapatkan langsung dari instagramnya. Captionnya menjelaskan untuk registrasi bisa melalui email. Awalnya saya ragu untuk mendaftar karena tidak punya kamera instax, tetapi ada keterangan jika tidak punya instax bisa tulis n/a. Iseng coba daftar, saya mendapatkan balasan bahwa sudah terdaftar. Ragu apakah ini ada biaya registrasi, saya whatsapp adminnya. Jawaban adminnya, tidak ada biaya pendaftaran dan tidak perlu bawa apa-apa. Waaaa ini yang saya suka dari Jakarta, jika beruntung bakal bisa ikut workshop yang murah bahkan gratis dengan ilmu dan pengalaman yang bermanfaat.
Acara dimulai pukul 09.00, saya ketiduran dan berangkat terlambat, sampai di The Hook Cafe pukul 09.40. Sedih kenapa saya harus ketiduran yang akhirnya jadi terlambat. Saat masuk cafe teman-teman sudah hunting foto menggunakan kamera instax square SQ 10, ini dipinjamkan, dan boleh hunting dan print sepuasnya. Romantis banget kan ya. Saya bertemu teman baru, namanya Gaby, dan dia juga terlambat, hehe. Jadinya kami hunting berdua.
Workshop dimulai, acara pertama dari instax photografer Putra Djohan, beliau berbagi ilmu tentang kamera instax dan cara menggunakannya. Yang paling saya ingat dari kata Mas Putra, kamu bisa langsung mencetak momentnya saat travelling. Memang ada kebahagiaan tersendiri saat pertama kali foto saya di The Hook diprint langsung dari kamera instax square SQ 10. Kebahagiaan bertambah saat kami disajikan makanan. Peserta sibuk untuk mengabadikan makanan mereka.
Acara berikutnya belajar membuat journal story oleh @thebundandbear, ini yang paling saya tunggu. Moment diabadikan dalam buku. Dulu saya pernah buat scrapbook untuk seseorang, namun tidak pernah berhasil untuk diri sendiri. Peserta diberikan notebook, whasitape, dan peralatan lainnya untuk membuat journal story, dan ini masih gratis. Duuhhh saya yang anak kos ini ditanggal segini dikasih serba gratis, betapa beruntungnyaaa. Ini sungguh romantis.

Terima kasih untuk event yang sangat berkesan dan bermanfaat Instax Indonesia, Putra Djohan, dan @thebunandbear.


-uciramda-

Workshop Photostory by Instax Indonesia

Sunday, July 23, 2017

Sabtu kemaren saya ikut workshop photostory yang diadakan oleh Instax Indonesia, informasi saya dapatkan langsung dari instagramnya. Captionnya menjelaskan untuk registrasi bisa melalui email. Awalnya saya ragu untuk mendaftar karena tidak punya kamera instax, tetapi ada keterangan jika tidak punya instax bisa tulis n/a. Iseng coba daftar, saya mendapatkan balasan bahwa sudah terdaftar. Ragu apakah ini ada biaya registrasi, saya whatsapp adminnya. Jawaban adminnya, tidak ada biaya pendaftaran dan tidak perlu bawa apa-apa. Waaaa ini yang saya suka dari Jakarta, jika beruntung bakal bisa ikut workshop yang murah bahkan gratis dengan ilmu dan pengalaman yang bermanfaat.
Acara dimulai pukul 09.00, saya ketiduran dan berangkat terlambat, sampai di The Hook Cafe pukul 09.40. Sedih kenapa saya harus ketiduran yang akhirnya jadi terlambat. Saat masuk cafe teman-teman sudah hunting foto menggunakan kamera instax square SQ 10, ini dipinjamkan, dan boleh hunting dan print sepuasnya. Romantis banget kan ya. Saya bertemu teman baru, namanya Gaby, dan dia juga terlambat, hehe. Jadinya kami hunting berdua.
Workshop dimulai, acara pertama dari instax photografer Putra Djohan, beliau berbagi ilmu tentang kamera instax dan cara menggunakannya. Yang paling saya ingat dari kata Mas Putra, kamu bisa langsung mencetak momentnya saat travelling. Memang ada kebahagiaan tersendiri saat pertama kali foto saya di The Hook diprint langsung dari kamera instax square SQ 10. Kebahagiaan bertambah saat kami disajikan makanan. Peserta sibuk untuk mengabadikan makanan mereka.
Acara berikutnya belajar membuat journal story oleh @thebundandbear, ini yang paling saya tunggu. Moment diabadikan dalam buku. Dulu saya pernah buat scrapbook untuk seseorang, namun tidak pernah berhasil untuk diri sendiri. Peserta diberikan notebook, whasitape, dan peralatan lainnya untuk membuat journal story, dan ini masih gratis. Duuhhh saya yang anak kos ini ditanggal segini dikasih serba gratis, betapa beruntungnyaaa. Ini sungguh romantis.

Terima kasih untuk event yang sangat berkesan dan bermanfaat Instax Indonesia, Putra Djohan, dan @thebunandbear.


-uciramda-

Manusia...
Manusia makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Mereka punya akal dan fikiran. Sebagai manusia yang berakal, kecenderungan mereka tetaplah salah dan khilaf. Manusia sering khilaf bahwa pencipta mereka adalah Allah SWT, banyak yang lupa bersyukur dan merasa paling berkuasa. Banyak juga yang sadar melakukan kesalahan, lalu gengsi untuk meminta maaf pada sesama mereka. Terkadang mereka juga suka menilai bahwa orang lain selalu salah, dan dia selalu benar. Tanpa kita (manusia) sadari bahwa setiap kita punya salah dan dosa. Yang sebenarnya bukan tugas kita untuk menghitung dan menghakimi dosa orang lain. Tetaplah jadi pendosa yang tau diri.

Mohon maaf lahir bathin, selamat libur lebaran yang hampir berakhir.


-uciramda-

Manusia

Thursday, June 29, 2017


Manusia...
Manusia makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Mereka punya akal dan fikiran. Sebagai manusia yang berakal, kecenderungan mereka tetaplah salah dan khilaf. Manusia sering khilaf bahwa pencipta mereka adalah Allah SWT, banyak yang lupa bersyukur dan merasa paling berkuasa. Banyak juga yang sadar melakukan kesalahan, lalu gengsi untuk meminta maaf pada sesama mereka. Terkadang mereka juga suka menilai bahwa orang lain selalu salah, dan dia selalu benar. Tanpa kita (manusia) sadari bahwa setiap kita punya salah dan dosa. Yang sebenarnya bukan tugas kita untuk menghitung dan menghakimi dosa orang lain. Tetaplah jadi pendosa yang tau diri.

Mohon maaf lahir bathin, selamat libur lebaran yang hampir berakhir.


-uciramda-

10k views? Untuk pemula seperti saya sungguh alhamdulillah. Terima kasih untuk pembaca yang sudah berkunjung ke blog ini, semoga bisa bermanfaat yaa. Aamiin.

Di postingan sebelumnya, saya pernah mengatakan bahwa alasan saya ngeblog itu hanya untuk menyampaikan perasaan saya saja. Sekarang saya lebih suka share tulisan yang semoga lebih bermanfaat. Di tahun awal saya masih kebingungan dengan apa yang harusnya saya posting. Kemudian saya memperbanyak blogroll dan mulai memahami seperti apa blog yang saya inginkan. Lalu saya ketagihan dan menikmatinya yang ternyata cukup banyak pembaca yang berkunjung ke blog ini.

Cukup banyak perubahan yang saya lakukan untuk blog ini. Mulai dari memperbaharui tampilan blog, dulu template yang saya gunakan hanya classic bawaan blogspot, benar-benar sederhana. Kemudian saya menemukan template blog yang bagus dan sesuai dengan karakter saya di skyandstars.co, lalu saya order, dan beginilah tampilan blog saya sekarang. Untuk saya pribadi sangat menambah mood untuk menulis suatu tulisan.

Saya juga lebih rajin membaca, seperti kata Bang Efenerr bahwa penulis yang baik itu adalah pembaca yang baik. Tidak hanya membaca buku, saya juga suka membaca blog orang lain, line news, atau artikel di suatu official line. Saya juga mengusahakan untuk rajin posting, meskipun masih tidak teratur karena ada aktifitas baru.

Terakhir perubahan yang saya lakukan adalah menggantikan kata sebutan di tulisan saya. Dulu saya menggunakan 'aku' dan sekarang 'saya'. Mengapa? Karena saat membaca tulisan Kak Andra Alodita dan Bang Efenerr yang menggunakan kata 'saya' untuk sebutannya, saya merasa sangat nyaman saat membacanya. Lalu saya juga ingin agar pembaca yang berkunjung ke blog ini juga bisa nyaman saat membaca.

Tanpa saya sadari, perubahan yang saya lakukan pada blog ini memang untuk menarik pembaca untuk berkunjung. Tidak disangka yang views sudah 10k saja. Terima kasih semuanya yang sudah berkunjung.

Harapan saya, semoga saya bisa secara rutin untuk posting tulisan. Dengan kalimat yang lebih bagus dan berisi, lebih menarik, dan lebih bermanfaat. Aamiin.


-uciramda-

Thankyou 10K Views

Sunday, May 14, 2017


10k views? Untuk pemula seperti saya sungguh alhamdulillah. Terima kasih untuk pembaca yang sudah berkunjung ke blog ini, semoga bisa bermanfaat yaa. Aamiin.

Di postingan sebelumnya, saya pernah mengatakan bahwa alasan saya ngeblog itu hanya untuk menyampaikan perasaan saya saja. Sekarang saya lebih suka share tulisan yang semoga lebih bermanfaat. Di tahun awal saya masih kebingungan dengan apa yang harusnya saya posting. Kemudian saya memperbanyak blogroll dan mulai memahami seperti apa blog yang saya inginkan. Lalu saya ketagihan dan menikmatinya yang ternyata cukup banyak pembaca yang berkunjung ke blog ini.

Cukup banyak perubahan yang saya lakukan untuk blog ini. Mulai dari memperbaharui tampilan blog, dulu template yang saya gunakan hanya classic bawaan blogspot, benar-benar sederhana. Kemudian saya menemukan template blog yang bagus dan sesuai dengan karakter saya di skyandstars.co, lalu saya order, dan beginilah tampilan blog saya sekarang. Untuk saya pribadi sangat menambah mood untuk menulis suatu tulisan.

Saya juga lebih rajin membaca, seperti kata Bang Efenerr bahwa penulis yang baik itu adalah pembaca yang baik. Tidak hanya membaca buku, saya juga suka membaca blog orang lain, line news, atau artikel di suatu official line. Saya juga mengusahakan untuk rajin posting, meskipun masih tidak teratur karena ada aktifitas baru.

Terakhir perubahan yang saya lakukan adalah menggantikan kata sebutan di tulisan saya. Dulu saya menggunakan 'aku' dan sekarang 'saya'. Mengapa? Karena saat membaca tulisan Kak Andra Alodita dan Bang Efenerr yang menggunakan kata 'saya' untuk sebutannya, saya merasa sangat nyaman saat membacanya. Lalu saya juga ingin agar pembaca yang berkunjung ke blog ini juga bisa nyaman saat membaca.

Tanpa saya sadari, perubahan yang saya lakukan pada blog ini memang untuk menarik pembaca untuk berkunjung. Tidak disangka yang views sudah 10k saja. Terima kasih semuanya yang sudah berkunjung.

Harapan saya, semoga saya bisa secara rutin untuk posting tulisan. Dengan kalimat yang lebih bagus dan berisi, lebih menarik, dan lebih bermanfaat. Aamiin.


-uciramda-
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...