Bismillah 2018

Monday, January 1, 2018

Ini postingan pertama saya di tahun 2018. Tadinya ingin jadi postingan terakhir di 2017, lalu ada ajakan dari seorang kawan yang tidak ingin saya tolak, jadi saya menunda posting blog saja akhirnya.

Agak melenceng dari judul, boleh ya saya sedikit throw back 2017 di satu paragraf ini. Hmm 2017, jika saya throw back, hidup saya biasa saja dan tak banyak pencapaian berharga di tahun lalu. Sedih. Tapi seharusnya saya tidak membicarakan hasil, karena hasil yang bagus itu hadiah dari perjuangan proses yang baik. Mungkin 2017 saya belum mendapatkan hasil, karena di tahun lalu adalah waktu dimana saya sedang bertumbuh (pikir saya). Iya bertumbuh, bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik (wishlist). Awal 2017 adalah hari-hari tergalau saya, bahkan hingga pertengahan 2017 masih galau. Alhamdulillah akhir Juli Allah menjawab do'a dan membuka mata saya untuk belajar memperbaiki diri. Saya menemukan banyak cara untuk memperbaiki proses saya saat bertumbuh, yang membuat saya berenergi untuk siap menjalani 2018.

Bismillah 2018.
Di tahun ini, saya juga ingin bisa menulis caption seperti Raisa "upload foto sendiri dengan perasaan yang disimpan sendiri, penuh haru, penuh syukur, untuk tahun 2018 yang luar biasa. Cuma bisa bilang, tahun ini jauh lebih indah dari segala yang saya bisa unggah di social media. Alhamdulillah".

Jadi akhir 2017 saya menulis resolusi 2018 saya di story instagram. Yaitu: 1. lebih bahagia, 2. sehat jasmani dan rohani, 3. bertemu jodoh, 4. menjadi Suci Ramdasari. Ini adalah resolusi secara garis besar dari 14 resolusi yang saya tulis di planner saya. Poin 2, 3, 4 adalah untuk mencapai poin 1 "lebih bahagia". Poin 1, 2, 3 untuk menjadi poin 4 yaitu "menjadi Suci Ramdasari"

Minggu-minggu terakhir 2017, saya membaca review sebuah buku yang berjudul The Happiness Project karya Gretchen Rubin. Karena saya sudah merasa kurang bahagia sejak pertengahan 2017, lalu menemukan review ini membuat saya semangat. Hingga menjadikannya resolusi 2018. Sebenarnya saya masih baca setengahnya, tapi masih setengah bacaan saja buku ini sudah sangat membantu saya. Menjadi lebih bahagia adalah tujuan Gretchen, begitu juga dengan saya.

Lalu mengapa poin 2, 3, 4 untuk mencapai poin 1 "lebih bahagia"? Karena untuk bahagia, saya membutuhkan poin 2, tubuh yang sehat agar saya bisa berenergi untuk menjalani hari-hari, tentu saja hati dan jiwa juga harus sehat agar kebahagiaan itu menjadi balance untuk dunia dan akhirat. Poin 3, poin yang sebenarnya saya butuhkan sejak lama (kode banget ya Allah T.T). Geothe mengatakan, tidak ada hal yang lebih fundamental berdasarkan kebahagiaan, kecuali pernikahan. Apalagi saya seorang yang selalu suka bercerita pada orang yang nyaman tentang suka duka hidup saya, yang pasti akan mencapai poin 1 itu. Poin 4, menurut Gretchen, menjadi diri sendiri, melakukan apa yang ingin dilakukan, akan menjadi bahagia. Walaupun tidak semua orang berkesempatan bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan, tapi saya ingin mencoba.

Lalu mengapa poin 1, 2, 3 menjadi poin 4? Karena poin 1, 2, 3 adalah proses untuk saya bertumbuh agar bisa menjadi poin 4 "menjadi Suci Ramdasari", Suci Ramdasari yang lebih baik, yang lebih bahagia, dan lebih bersyukur. Lebih daripada itu, saya tidak ingin mengingkari kehidupan yang sudah saya miliki. Saya ingin mengubah hidup tanpa mengubah kehidupan saya (The Happiness Project, hal xxii).

Bismillah 2018, semoga bahagia.


xoxo,
uciramda

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...