My Dear

Monday, December 25, 2017

"It's gonna be okay. No matter what the problem is. It's always nice to hear someone telling you 'it's gonna be okay'. I think it's not about how factual that statement is. But more about hearing what you want to hear when you just need the slightest hope"
-Diana Rikasari-


Sepertinya saya belum pernah cerita tentang seseorang yang nyata yang sangat berpengaruh dalam hidup saya di blog ini. Sebelum 2017 berakhir saya ingin cerita tentang orang yang sangat saya cintai, yang selalu menasehati dan saya rindukan. Dia adalah Femy Dianola, kakak saya, yang saat kecil saya panggil Cece, lalu sudah beranjak besar saya suka mengganti panggilannya sesuka hati saya, menjadi teteh, eseng, dan sekarang gondo. Saat kecil, saya dan Cece lebih sering bertengkar daripada main bersama. Pernah saya memukul dan mendorongnya hingga terjatuh dan benjol, maafkan Ce.

Lalu ketika Cece sudah SMP dan saya masih SD, kami sekamar. Pertengkaran fisik itu sudah tidak ada, tapi ngambekan tetap ada. Walaupun satu kamar dan satu kasur, tapi kalau sudah ngambek, kami tidak akan bertegur sapa, pernah sampai beberapa hari tidak bertegur sapa. Lalu Mama bertanya pada saya, belum ngobrol sama Cece? Saya jawab belum. Dan saya lupa bagaimana akhirnya kami baikan.

Ketika sudah SMA dan kuliah, kami semakin akrab, punya hobi yang sama, cita-cita yang sama, dan sama-sama putus cinta setelah bertahun-tahun pacaran. Kami selalu saling curhat tentang apa saja, tentang pengusaha sukses yang memulai karir dari bawah, tentang buku yang bisa memotivasi, tentang skin care, tentang wanita, tentang patah hati, tentang jatuh cinta, tentang drama korea, tentang running man, segalanya. Bukan berarti tidak pernah marahan lagi, namun karena sudah sedikit lebih dewasa, ketika marahan, kami bisa mengungkapkan kekesalan itu, lalu baikan.

Akhir 2016 ke 2017 adalah hari-hari terberat saya. Saya seperti kehilangan arah, saya kehilangan mental entrepreneur saya, pokoknya saat itu saya seperti seorang yang sangat-sangat kebingungan dan tak tau arah. Hari-hari saya lalui dengan tidur, bangun tidur, makan, dan nonton K-Drama. Kalau kata peribahasa "hidup segan, mati tak mampu". Alhamdulillah saya masih punya Cece, tempat berbagi cerita dan yang menasehati saya. Nasehatnya yang masih saya ingat "kamu ini sudah di usia, kamulah penanggung jawab segala keputusan yang kamu ambil, boleh bertanya pada orang lain, tapi keputusan tetap ditanganmu dan kamulah penanggung jawabnya".

Awal 2017 saya mulai menyelesaikan perasaan yang tersendat itu, saya berusaha bangkit dan memilih merantau ke Jakarta. Tentunya dengan dukungan dari Cece. Ternyata jarak membuat kami saling memberi motivasi dan menasehati. Dan kegalauan saya berlanjut. Nasehat berikutnya adalah "habiskan jatah galaumu". Cece sudah seperti obat penenang bagi saya, dia adalah orang terakhir tempat saya bercerita, dan selalu memberikan energi. Saya merasa lebih beruntung daripada Jonghyun karena masih punya iman dan orang tempat berbagi cerita suka dan duka.

Karena sebenarnya Suci Ramdasari itu adalah seorang yang rapuh dan melankolis. Bukan berarti saya tidak tau cara berdoa pada Yang Maha Kuasa. Tapi saya memang seseorang yang membutuhkan orang lain saat menentukan pilihan. Walaupun memang pilihan itu ada ditangan saya, tapi saya tetap butuh seseorang yang memberikan nasehat agar saya yakin dengan pilihan tersebut. Saya seseorang yang membutuhkan orang lain untuk mengatakan kalau saya bisa dan baik-baik saja. Dan Cece adalah orang yang tepat.

Terima kasih Ce, aku cinta mati sama kamu.


xoxo,
uciramda

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...