SOCIAL MEDIA

Showing posts with label TRAVEL. Show all posts
Showing posts with label TRAVEL. Show all posts
Kenapa saya sebut pinterestable? Karena pertama kali saya melihat coffee shop ini di pinterest. Saya kira coffee shop ini ada di Jepang. Setelah dicek lagi, ternyata ada di Indonesia, Bali!

Waktu diajak ke Bali sama suami Agustus 2019 lalu, saya masukkan Mannaka Bali ke list kami. Suami mengiyakan, alhamdulillahnya kesampaian mampir dan minum kopi disini. Ternyata konsep coffee shop Mannaka Bali, Japanese gitu. Terletak di pinggir jalan, kecil, simple, tapi cukup untuk buat foto jadi keren. Minumannya juga enak, saya pesan charcoal latte, suami hot latte (sepertinya, lupa namanya). Oh iya, mereka juga jual merchandise yang lucu-lucu banget. Saya beli totebagnya waktu itu, desainnya lucu, saya suka.

Berikut foto-foto saya dan suami sembari menunggu dan menikmati minuman kami.
Totebagnya yang dipajang di dinding sebelah kiri


Charcoal latte dan hot latte



Mannaka Bali
@mannaka.bali
Jl. Petitenget No.19C, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Badung, Bali, Indonesia



SR

Mannaka Bali, Coffee Shop yang Pinterestable

Monday, April 13, 2020

Kenapa saya sebut pinterestable? Karena pertama kali saya melihat coffee shop ini di pinterest. Saya kira coffee shop ini ada di Jepang. Setelah dicek lagi, ternyata ada di Indonesia, Bali!

Waktu diajak ke Bali sama suami Agustus 2019 lalu, saya masukkan Mannaka Bali ke list kami. Suami mengiyakan, alhamdulillahnya kesampaian mampir dan minum kopi disini. Ternyata konsep coffee shop Mannaka Bali, Japanese gitu. Terletak di pinggir jalan, kecil, simple, tapi cukup untuk buat foto jadi keren. Minumannya juga enak, saya pesan charcoal latte, suami hot latte (sepertinya, lupa namanya). Oh iya, mereka juga jual merchandise yang lucu-lucu banget. Saya beli totebagnya waktu itu, desainnya lucu, saya suka.

Berikut foto-foto saya dan suami sembari menunggu dan menikmati minuman kami.
Totebagnya yang dipajang di dinding sebelah kiri


Charcoal latte dan hot latte



Mannaka Bali
@mannaka.bali
Jl. Petitenget No.19C, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Badung, Bali, Indonesia



SR
Perempuan-perempuannya yang cantik, tempatnya yang indah. Gianyar begitu eksotis.

Agustus 2019 lalu, saya dan suami liburan ke Bali. Tempat kami menginap sewaktu sampai di Bali adalah Umah Hoshi, Sebatu, Gianyar, Bali. Mendarat di Bali sekitar pukul 17.00 an WITA, satu jaman nunggu motor sewaan. Akhirnya skip dulu lihat sunset dan makan malam di Jimbaran.

Kami cari tempat makan di pinggir jalan saja, selesai makan lanjut ke penginapan di Sebatu. Jujur, saya tidak mengira kalau tempat menginap kami akan dingin sekali. Itinerary suami yang atur, saya tinggal packing baju saja. Tidak tanya suami juga akan seperti apa weather disana, mikirnya ya Bali pasti panas ya, kan bule-bule pada berjemur ke Bali. Suami bilang kalau Sebatu itu daerah yang lebih tinggi dari kota, masih banyak hutan dan sawah-sawahnya. Tapi tidak bilang disana dingin banget (ternyata dia juga tidak tahu). Saya mikirnya ya tidak akan terlalu dingin, masih bisa ditahan lah, gitu. Ternyata fikiran itu salah besar. Sungguh Sebatu dingin sekaliiii.

Mungkin juga karena perjalanan kami menuju Sebatu sudah malam. Jalanannya sepi, gelap, tidak banyak lampu jalan, dan dingiiinnnn. Sungguh waktu itu saya kedinginan (apalagi suami yang bawa motor ya). Padahal masih pukul 20.00 atau 21.00 an WITA. Karena menuju desa, jadinya hampir tidak ada orang di luar rumah, bahkan rumahnya pun remang-remang gitu (lampu orange). Di tambah dengan pintu rumah Bali yang penuh dengan ukiran, agak merinding ya lihatnya malam-malam.

Di tengah gelap dan dinginnya jalanan, bulan dan bintang terasa terang sekali. Waktu itu banyak sekali bintang di langit Sebatu. Mungkin karena langitnya tidak banyak polusi seperti Jakarta, jadinya bintang seperti bertaburan di langit, indah sekali. Kami sampai berhenti di pinggir sawah untuk menikmati keindahan itu.

Sesampainya di Umah Hoshi, kami tidak bisa melihat pemandangan sekitar karena seperti di perjalanan tadi, gelap dan remang-remang. Disambut oleh resepsionis yang ramah, dengan pakaian khas Bali tidak ketinggalan bunga kamboja di telinganya yang membuat anggun (pokoknya Bali banget deh). Mbaknya juga informatif sekali tentang tempat wisata disekitar Sebatu, Gianyar.
Setelah pagi, semua keindahannya jelas terlihat.

Sesampainya di kamar, ternyata tidak kalah seram ya kamarnya (padahal saya yang request kalau nginap disana saja biar bisa menikmati suasana desanya Bali). Semuanya terbuat dari kayu, dinding, lantai, atap, pintu, meja, bangku, tempat tidur, lemari, bahkan kamar mandinya beratapkan langit (sebagiannya ada atap, tapi tetap agak seram  awalnya), lantai kamar mandi batu-batu putih, bathtub dari batu, hampir semua materialnya dari bahan alami, dan lampu yang masih remang-remang.
Kamar tempat kami menginap di Umah Hoshi

Malam semakin larut, saya tidak bisa tidur. Udara yang begitu dingin hingga 16 derajat Celcius, suara jangkrik yang terdengar jelas, pun suara dedaunan yang terhembus angin. Awalnya saya mengira itu semua seperti film horor, lalu saya menyadari bahwa suara-suara itu nyaman sekali. Kapan lagi saya bisa menikmati suasana seintim itu dengan alam ketika tidur. Akhirnya saya ketiduran juga.

Paginya kami menikmati teh hangat di teras kamar. Lanjut sarapan di restorannya Umah Hoshi. Letaknya di lantai dua, dengan view yang sangat indah. Sarapan ditemani musik khas Bali (akhirnya berganti lagu pop yang melow), disambut suara padi dan daun kelapa yang ditiup angin, juga suara air sungai yang mengalir, damai sekali bukan? Membayangkan lagi saja saya sudah ingin kembali kesana.
View dari Restoran Umah Hoshi

Tempat yang kami kunjungi selama / disekitar Gianyar.

Bali Handara Gate
Untuk foto disini ada tiketnya, kalau tidak salah Rp 30,000 an per orang. Waktu itu lagi ramai, weekend memang. Fotonya antre gitu, tapi antre yang teratur ya.
Awkward ya foto dilihat banyak antrean

Pura Ulun Danu Bratan
Setelah dari Handara Gate, lanjut kesini. Ada tiket masuknya juga, saya lupa berapa harganya. Mungkin Rp 40,000 - Rp 50,000 an per orang. Untung kami sempat foto-foto dengan Puranya, setelah itu kabutnya turun menutupi Pura. Mendadak jadi dingin sekali, saya sampai menggigil. Tapi bule-bule santai aja gitu.
Suami dan selembar uang kertas Rp 50,000

Warung Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku, Ubud
Kalau lagi di Ubud, jangan lupa makan disini ya. Nikmat sekali, terlihat dari fotonya kan. Mohon maaf, saya lupa budget makan disini.

Ubud Traditional Art Market
Saya penasaran saja dengan Pasar Ubud ini, sepertinya hits sekali di Pinterest. Ternyata memang tempat yang dicari bule-bule. Disekitar Ubud Traditional Art Market banyak sekali tempat makan, cafe, bar, toko baju, distro, dll. Yang mungkin menurut bule harganya terjangkau, tapi tidak dengan saya. Saya tidak belanja disini. Kami hanya makan siang di Halal Ubud Burger dan gelato (lupa nama brand gelatonya).

Setelah dari Ubud Tratidional Art Market, kami melanjutkan perjalanan ke hotel berikutnya yang letaknya lebih ke kota agar dekat dengan pantai.

Lalu saya menyadari bahwa Gianyar memang beda. Suasana Balinya masih kental sekali. Perempuannya yang dengan pakaian adat serta bunga kamboja di telinga. Pintu rumah yang Bali sekali. Janur yang dipasang disepanjang jalan. Alamnya yang indah, sejuk. Begitu eksotis, saya tidak tahu harus bagaimana lagi mendeskripsikan keindahan disana. Pokoknya eksotis sekali!

Semoga bisa kembali.


SR

Gianyar - Bali, Tempat yang Eksotis

Thursday, April 9, 2020

Perempuan-perempuannya yang cantik, tempatnya yang indah. Gianyar begitu eksotis.

Agustus 2019 lalu, saya dan suami liburan ke Bali. Tempat kami menginap sewaktu sampai di Bali adalah Umah Hoshi, Sebatu, Gianyar, Bali. Mendarat di Bali sekitar pukul 17.00 an WITA, satu jaman nunggu motor sewaan. Akhirnya skip dulu lihat sunset dan makan malam di Jimbaran.

Kami cari tempat makan di pinggir jalan saja, selesai makan lanjut ke penginapan di Sebatu. Jujur, saya tidak mengira kalau tempat menginap kami akan dingin sekali. Itinerary suami yang atur, saya tinggal packing baju saja. Tidak tanya suami juga akan seperti apa weather disana, mikirnya ya Bali pasti panas ya, kan bule-bule pada berjemur ke Bali. Suami bilang kalau Sebatu itu daerah yang lebih tinggi dari kota, masih banyak hutan dan sawah-sawahnya. Tapi tidak bilang disana dingin banget (ternyata dia juga tidak tahu). Saya mikirnya ya tidak akan terlalu dingin, masih bisa ditahan lah, gitu. Ternyata fikiran itu salah besar. Sungguh Sebatu dingin sekaliiii.

Mungkin juga karena perjalanan kami menuju Sebatu sudah malam. Jalanannya sepi, gelap, tidak banyak lampu jalan, dan dingiiinnnn. Sungguh waktu itu saya kedinginan (apalagi suami yang bawa motor ya). Padahal masih pukul 20.00 atau 21.00 an WITA. Karena menuju desa, jadinya hampir tidak ada orang di luar rumah, bahkan rumahnya pun remang-remang gitu (lampu orange). Di tambah dengan pintu rumah Bali yang penuh dengan ukiran, agak merinding ya lihatnya malam-malam.

Di tengah gelap dan dinginnya jalanan, bulan dan bintang terasa terang sekali. Waktu itu banyak sekali bintang di langit Sebatu. Mungkin karena langitnya tidak banyak polusi seperti Jakarta, jadinya bintang seperti bertaburan di langit, indah sekali. Kami sampai berhenti di pinggir sawah untuk menikmati keindahan itu.

Sesampainya di Umah Hoshi, kami tidak bisa melihat pemandangan sekitar karena seperti di perjalanan tadi, gelap dan remang-remang. Disambut oleh resepsionis yang ramah, dengan pakaian khas Bali tidak ketinggalan bunga kamboja di telinganya yang membuat anggun (pokoknya Bali banget deh). Mbaknya juga informatif sekali tentang tempat wisata disekitar Sebatu, Gianyar.
Setelah pagi, semua keindahannya jelas terlihat.

Sesampainya di kamar, ternyata tidak kalah seram ya kamarnya (padahal saya yang request kalau nginap disana saja biar bisa menikmati suasana desanya Bali). Semuanya terbuat dari kayu, dinding, lantai, atap, pintu, meja, bangku, tempat tidur, lemari, bahkan kamar mandinya beratapkan langit (sebagiannya ada atap, tapi tetap agak seram  awalnya), lantai kamar mandi batu-batu putih, bathtub dari batu, hampir semua materialnya dari bahan alami, dan lampu yang masih remang-remang.
Kamar tempat kami menginap di Umah Hoshi

Malam semakin larut, saya tidak bisa tidur. Udara yang begitu dingin hingga 16 derajat Celcius, suara jangkrik yang terdengar jelas, pun suara dedaunan yang terhembus angin. Awalnya saya mengira itu semua seperti film horor, lalu saya menyadari bahwa suara-suara itu nyaman sekali. Kapan lagi saya bisa menikmati suasana seintim itu dengan alam ketika tidur. Akhirnya saya ketiduran juga.

Paginya kami menikmati teh hangat di teras kamar. Lanjut sarapan di restorannya Umah Hoshi. Letaknya di lantai dua, dengan view yang sangat indah. Sarapan ditemani musik khas Bali (akhirnya berganti lagu pop yang melow), disambut suara padi dan daun kelapa yang ditiup angin, juga suara air sungai yang mengalir, damai sekali bukan? Membayangkan lagi saja saya sudah ingin kembali kesana.
View dari Restoran Umah Hoshi

Tempat yang kami kunjungi selama / disekitar Gianyar.

Bali Handara Gate
Untuk foto disini ada tiketnya, kalau tidak salah Rp 30,000 an per orang. Waktu itu lagi ramai, weekend memang. Fotonya antre gitu, tapi antre yang teratur ya.
Awkward ya foto dilihat banyak antrean

Pura Ulun Danu Bratan
Setelah dari Handara Gate, lanjut kesini. Ada tiket masuknya juga, saya lupa berapa harganya. Mungkin Rp 40,000 - Rp 50,000 an per orang. Untung kami sempat foto-foto dengan Puranya, setelah itu kabutnya turun menutupi Pura. Mendadak jadi dingin sekali, saya sampai menggigil. Tapi bule-bule santai aja gitu.
Suami dan selembar uang kertas Rp 50,000

Warung Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku, Ubud
Kalau lagi di Ubud, jangan lupa makan disini ya. Nikmat sekali, terlihat dari fotonya kan. Mohon maaf, saya lupa budget makan disini.

Ubud Traditional Art Market
Saya penasaran saja dengan Pasar Ubud ini, sepertinya hits sekali di Pinterest. Ternyata memang tempat yang dicari bule-bule. Disekitar Ubud Traditional Art Market banyak sekali tempat makan, cafe, bar, toko baju, distro, dll. Yang mungkin menurut bule harganya terjangkau, tapi tidak dengan saya. Saya tidak belanja disini. Kami hanya makan siang di Halal Ubud Burger dan gelato (lupa nama brand gelatonya).

Setelah dari Ubud Tratidional Art Market, kami melanjutkan perjalanan ke hotel berikutnya yang letaknya lebih ke kota agar dekat dengan pantai.

Lalu saya menyadari bahwa Gianyar memang beda. Suasana Balinya masih kental sekali. Perempuannya yang dengan pakaian adat serta bunga kamboja di telinga. Pintu rumah yang Bali sekali. Janur yang dipasang disepanjang jalan. Alamnya yang indah, sejuk. Begitu eksotis, saya tidak tahu harus bagaimana lagi mendeskripsikan keindahan disana. Pokoknya eksotis sekali!

Semoga bisa kembali.


SR
Beberapa minggu lalu, saya dan suami liburan ke Bali. Ini kali pertama saya dan kali kedua untuknya. Kami begitu semangat saat itu. Sesemangat saat saya menulis ini. Masih terasa hingga saat ini betapa indahnya Bali, baru saja kembali, tapi sudah rindu lagi. Bersyukur ada media untuk mengenang kenangan itu, a moment to remember, seperti sebuah judul film Korea.

Bukan ke Bali namanya kalau tidak ke pantai bukan. Karena ini pertama kalinya, saya juga ingin mengunjungi pantai yang sangat sering saya dengar jika mendengar Bali waktu dulu, seperti Kuta, Padang - Padang, atau Nusa Dua. Nggak mau, pantai - pantai itu udah ramai banget sekarang, begitu kata suami. Rencana awal yang ingin ke Pandawa, berubah ke Green Bowl Beach setelah merasa waktu kami tidak cukup untuk ke Pandawa. Pantainya keren, trus juga masih lumayan sepi, jadi aku bisa berenang di laut, begitulah keinginan suami.

Tapi menuju ke pantainya kita harus melewati anak tangga yaa, tambahnya. Oke gapapa, sekalian olahraga, jawab saya. Dan yaaa, kami menuruni anak tangga yang cukup banyak, dan ngos-ngosan. Tapi, lelahnya terbayar setelah sampai di bawah. Pasirnya yang putih, air lautnya yang bening, suara ombaknya yang menenangkan, sungguh memesona. Selain itu, disana juga ada goa yang juga tidak kalah memesona kalau mengambil foto dari sana, sayangnya saya tidak punya. Waktu itu saya lebih memilih menikmati suasana menenangkan itu, yang tidak akan saya temukan di Jakarta. 

Oiya info tambahannya, tidak dikenakan biaya tiket masuk ke pantai ini. Hanya saja lumayan banyak pedagang lokal disini, yang agak memaksa untuk membeli, kalau saya sih cukup terganggu. 

Ini beberapa potret oleh saya.



Potret oleh suami.



Ini ada bonus video. Dengarkanlah sebentar, sungguh memesona <3

Lokasi:
Green Bowl Beach, Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Indonesia.


Salam,
Suci Ramdasari

Green Bowl Beach yang Memesona

Tuesday, August 20, 2019

Beberapa minggu lalu, saya dan suami liburan ke Bali. Ini kali pertama saya dan kali kedua untuknya. Kami begitu semangat saat itu. Sesemangat saat saya menulis ini. Masih terasa hingga saat ini betapa indahnya Bali, baru saja kembali, tapi sudah rindu lagi. Bersyukur ada media untuk mengenang kenangan itu, a moment to remember, seperti sebuah judul film Korea.

Bukan ke Bali namanya kalau tidak ke pantai bukan. Karena ini pertama kalinya, saya juga ingin mengunjungi pantai yang sangat sering saya dengar jika mendengar Bali waktu dulu, seperti Kuta, Padang - Padang, atau Nusa Dua. Nggak mau, pantai - pantai itu udah ramai banget sekarang, begitu kata suami. Rencana awal yang ingin ke Pandawa, berubah ke Green Bowl Beach setelah merasa waktu kami tidak cukup untuk ke Pandawa. Pantainya keren, trus juga masih lumayan sepi, jadi aku bisa berenang di laut, begitulah keinginan suami.

Tapi menuju ke pantainya kita harus melewati anak tangga yaa, tambahnya. Oke gapapa, sekalian olahraga, jawab saya. Dan yaaa, kami menuruni anak tangga yang cukup banyak, dan ngos-ngosan. Tapi, lelahnya terbayar setelah sampai di bawah. Pasirnya yang putih, air lautnya yang bening, suara ombaknya yang menenangkan, sungguh memesona. Selain itu, disana juga ada goa yang juga tidak kalah memesona kalau mengambil foto dari sana, sayangnya saya tidak punya. Waktu itu saya lebih memilih menikmati suasana menenangkan itu, yang tidak akan saya temukan di Jakarta. 

Oiya info tambahannya, tidak dikenakan biaya tiket masuk ke pantai ini. Hanya saja lumayan banyak pedagang lokal disini, yang agak memaksa untuk membeli, kalau saya sih cukup terganggu. 

Ini beberapa potret oleh saya.



Potret oleh suami.



Ini ada bonus video. Dengarkanlah sebentar, sungguh memesona <3

Lokasi:
Green Bowl Beach, Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Indonesia.


Salam,
Suci Ramdasari
Bandung yang selalu memberikan rindu untuk ingin selalu kesana, membawa saya dan Ona berkeliling Kota Bandung pada Desember 2017 lalu. Keramahan Bandung tampak dari orang-orang disekelilingnya. Bagaimana Bandung menemani saya kala sunyi waktu itu.

Potret Bandung oleh Suci

Potret Suci oleh Ona 
Lokasi: Jalan Asia Afrika, Alun-Alun Kota Bandung, Lapangan Gasibu, dan Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat.
Photograph by Suci Ramdasari and Rahmadona

Salam,
Suci Ramdasari

Potret Bandung

Tuesday, November 6, 2018

Bandung yang selalu memberikan rindu untuk ingin selalu kesana, membawa saya dan Ona berkeliling Kota Bandung pada Desember 2017 lalu. Keramahan Bandung tampak dari orang-orang disekelilingnya. Bagaimana Bandung menemani saya kala sunyi waktu itu.

Potret Bandung oleh Suci

Potret Suci oleh Ona 
Lokasi: Jalan Asia Afrika, Alun-Alun Kota Bandung, Lapangan Gasibu, dan Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat.
Photograph by Suci Ramdasari and Rahmadona

Salam,
Suci Ramdasari
Kali ini saya ingin share wisata kafe di Kota Tua Jakarta. Mengapa saya sebut wisata kafe? Karena memang sekarang zamannya kafe jadi tempat wisata, yang punya kafe juga berlomba-lomba agar kafenya terlihat menarik dan instagramable. Tidak terkecuali di Kota Tua Jakarta, ada beberapa kafe yang bisa kita kunjungi saat kesana, yang harganya terjangkau hingga yang mahal, ya tergantung budget masing-masing saja. Ketika kesana tahun lalu, ada 2 kafe yang saya kunjungi. Apa saja?


Kedai Seni Djakarte
Kafe dengan nuansa gedung tua yang di cat putih dan hijau ini dihiasi dengan karya seni. Jika dilihat dari luar sepertinya Kedai Seni Djakarte biasa saja. Saat memasuki kafe, sudah terasa nuansa vintage yang disajikan oleh Kedai Seni Djakarte, didindingnya ada beberapa karya seni yang dipajang. Saya dan Imel duduk di lantai 2, di bangku kayu yang dilapisi busa dengan motif bunga.


Menurut saya ruangan yang saya duduki dengan Imel tidak terlalu instagramable karena dindingnya tidak terlalu banyak pajangan. Berhubung di lantai 1 sudah ramai jadi kami nikmati saja. Harga makanan disini masih bisa dibilang standart untuk anak kos yang ingin sesekali ngafe. Harganya rata-rata 30 ribuan.

Bangi Kopitiam

Saat bersama Memeh, saya mengunjungi Bangi Kopitiam. Nah menurut saya, kafe ini lebih instagramable, karena setiap sudut ruang ada pajangan yang menggoda untuk difoto. Suasana bangku yang berbeda di setiap ruangan, juga keramik monokrom yang semakin membuat menarik.


Saat saya kesana banyak pegawai kantor dan anak sekolah yang makan siang disana. Untuk ukuran lidah saya yang sangat Padang. Makanan disini enak, saya memesan nasi ayam penyet dan es teh seharga IDR 38K dan IDR 11K. Untuk anak kosan cukup mahal ya. Tapi itu terbayarkan dengan rasa yang enak dan pelayanan yang bagus. Menurut saya jika sesekali ingin ngafe boleh juga ke Bangi Kopitiam.

Sekian.


-uciramda-

Wisata Kafe di Kota Tua Jakarta

Monday, May 1, 2017

Kali ini saya ingin share wisata kafe di Kota Tua Jakarta. Mengapa saya sebut wisata kafe? Karena memang sekarang zamannya kafe jadi tempat wisata, yang punya kafe juga berlomba-lomba agar kafenya terlihat menarik dan instagramable. Tidak terkecuali di Kota Tua Jakarta, ada beberapa kafe yang bisa kita kunjungi saat kesana, yang harganya terjangkau hingga yang mahal, ya tergantung budget masing-masing saja. Ketika kesana tahun lalu, ada 2 kafe yang saya kunjungi. Apa saja?


Kedai Seni Djakarte
Kafe dengan nuansa gedung tua yang di cat putih dan hijau ini dihiasi dengan karya seni. Jika dilihat dari luar sepertinya Kedai Seni Djakarte biasa saja. Saat memasuki kafe, sudah terasa nuansa vintage yang disajikan oleh Kedai Seni Djakarte, didindingnya ada beberapa karya seni yang dipajang. Saya dan Imel duduk di lantai 2, di bangku kayu yang dilapisi busa dengan motif bunga.


Menurut saya ruangan yang saya duduki dengan Imel tidak terlalu instagramable karena dindingnya tidak terlalu banyak pajangan. Berhubung di lantai 1 sudah ramai jadi kami nikmati saja. Harga makanan disini masih bisa dibilang standart untuk anak kos yang ingin sesekali ngafe. Harganya rata-rata 30 ribuan.

Bangi Kopitiam

Saat bersama Memeh, saya mengunjungi Bangi Kopitiam. Nah menurut saya, kafe ini lebih instagramable, karena setiap sudut ruang ada pajangan yang menggoda untuk difoto. Suasana bangku yang berbeda di setiap ruangan, juga keramik monokrom yang semakin membuat menarik.


Saat saya kesana banyak pegawai kantor dan anak sekolah yang makan siang disana. Untuk ukuran lidah saya yang sangat Padang. Makanan disini enak, saya memesan nasi ayam penyet dan es teh seharga IDR 38K dan IDR 11K. Untuk anak kosan cukup mahal ya. Tapi itu terbayarkan dengan rasa yang enak dan pelayanan yang bagus. Menurut saya jika sesekali ingin ngafe boleh juga ke Bangi Kopitiam.

Sekian.


-uciramda-

Kota Tua Jakarta sepertinya menjadi salah satu wisata wajib untuk dikunjungi. Kota Tua yang menyimpan banyak sejarah Jakarta ini padat dikunjungi wisatawan pada saat akhir pekan. Akhir tahun lalu saja saya sampai tiga kali mengunjungi Kota Tua di waktu yang hampir berdekatan. Pertama, saat saya sangat ingin kesana dan Imel bersedia untuk menemani. Kedua, Memeh juga ingin kesana (maklum sama-sama anak rantau), jadi saya temani dia. Ketiga, ketika Cece berlibur ke Jakarta, dia juga penasaran bagaimana Kota Tua itu, jadi saya temani juga. Tidak masalah untuk saya berulang-ulang ke Kota Tua Jakarta karena tidak menguras kantong saya. Saya bisa berwisata sambil mengenal sejarah, foto ala ala selebgram, dan tidak menghabiskan banyak uang.

Kota Tua Jakarta di kelilingi oleh berbagai museum. Mulai dari Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Fatahillah, Museum Wayang, serta Museum Seni Rupa dan Keramik. Juga ada beberapa cafe yang bisa kita kunjungi dan sangat instagramable. Saat di Kota Tua, saya mengunjungi dua museum dan dua cafe. Kali ini saya akan share saat mengunjungi museum di Kota Tua Jakarta.

Museum Fatahillah
Museum Fatahillah sepertinya menjadi landmarknya Kota Tua Jakarta. Karena ketika wisatawan berkunjung, berfoto dengan latar Museum Fatahillah merupakan satu keharusan. Mungkin agar tidak dibilang hoax sudah ke Kota Tua Jakarta, jadi foto dulu di depan gedung ini. Tiket masuk ke Museum Fatahillah Rp 5.000,- per orang. Objek yang akan kita temui disini diantaranya sejarah Jakarta, replika peninggalan sejarah, dan mebel antik.


Di belakang gedung museum, ada taman yang juga tak kalah instagramable. Dan ruang bawah tanah yang konon katanya dulu sebagai penjara. Saya tidak masuk waktu itu, serem sih ya.


Museum Seni Rupa dan Keramik
Museum kedua yang saya kunjungi adalah Museum Seni Rupa dan Keramik. Saya lupa berapa harga tiket masuk untuk masuk museum ini. Lebih kurang seharga tiket masuk ke Museum Fatahillah. Disini kita akan melihat berbagai macam lukisan dan keramik. Jika kamu suka memoto suatu objek, atau suka melihat lukisan dan keramik, atau iseng ingin melihat-lihat, atau seperti saya yang suka melihat lukisan dan tidak faham arti lukisan itu sendiri, disarankan untuk masuk ke museum ini.



Bagaimana? Menarik bukan? Selain bisa menambah koleksi foto instagrammu. Kamu juga bisa dapat ilmu saat berkunjung ke museum. Pastinya juga hemat, kamu tidak akan menghabiskan banyak uang saat ke Kota Tua Jakarta. Selamat berwisata hemat yaa.


-uciramda-

Wisata Hemat ke Kota Tua Jakarta

Thursday, April 6, 2017

Kota Tua Jakarta sepertinya menjadi salah satu wisata wajib untuk dikunjungi. Kota Tua yang menyimpan banyak sejarah Jakarta ini padat dikunjungi wisatawan pada saat akhir pekan. Akhir tahun lalu saja saya sampai tiga kali mengunjungi Kota Tua di waktu yang hampir berdekatan. Pertama, saat saya sangat ingin kesana dan Imel bersedia untuk menemani. Kedua, Memeh juga ingin kesana (maklum sama-sama anak rantau), jadi saya temani dia. Ketiga, ketika Cece berlibur ke Jakarta, dia juga penasaran bagaimana Kota Tua itu, jadi saya temani juga. Tidak masalah untuk saya berulang-ulang ke Kota Tua Jakarta karena tidak menguras kantong saya. Saya bisa berwisata sambil mengenal sejarah, foto ala ala selebgram, dan tidak menghabiskan banyak uang.

Kota Tua Jakarta di kelilingi oleh berbagai museum. Mulai dari Museum Bank Indonesia, Museum Bank Mandiri, Museum Fatahillah, Museum Wayang, serta Museum Seni Rupa dan Keramik. Juga ada beberapa cafe yang bisa kita kunjungi dan sangat instagramable. Saat di Kota Tua, saya mengunjungi dua museum dan dua cafe. Kali ini saya akan share saat mengunjungi museum di Kota Tua Jakarta.

Museum Fatahillah
Museum Fatahillah sepertinya menjadi landmarknya Kota Tua Jakarta. Karena ketika wisatawan berkunjung, berfoto dengan latar Museum Fatahillah merupakan satu keharusan. Mungkin agar tidak dibilang hoax sudah ke Kota Tua Jakarta, jadi foto dulu di depan gedung ini. Tiket masuk ke Museum Fatahillah Rp 5.000,- per orang. Objek yang akan kita temui disini diantaranya sejarah Jakarta, replika peninggalan sejarah, dan mebel antik.


Di belakang gedung museum, ada taman yang juga tak kalah instagramable. Dan ruang bawah tanah yang konon katanya dulu sebagai penjara. Saya tidak masuk waktu itu, serem sih ya.


Museum Seni Rupa dan Keramik
Museum kedua yang saya kunjungi adalah Museum Seni Rupa dan Keramik. Saya lupa berapa harga tiket masuk untuk masuk museum ini. Lebih kurang seharga tiket masuk ke Museum Fatahillah. Disini kita akan melihat berbagai macam lukisan dan keramik. Jika kamu suka memoto suatu objek, atau suka melihat lukisan dan keramik, atau iseng ingin melihat-lihat, atau seperti saya yang suka melihat lukisan dan tidak faham arti lukisan itu sendiri, disarankan untuk masuk ke museum ini.



Bagaimana? Menarik bukan? Selain bisa menambah koleksi foto instagrammu. Kamu juga bisa dapat ilmu saat berkunjung ke museum. Pastinya juga hemat, kamu tidak akan menghabiskan banyak uang saat ke Kota Tua Jakarta. Selamat berwisata hemat yaa.


-uciramda-
Pantai dengan terik matahari dan suara ombaknya, saya rindu. Tetapi saya belum sempat mengunjunginya hanya dengan alasan mager hiks. Saya juga ingin posting, tetapi tidak ada bahan postingan. Lalu saya teringat foto pantai yang saya ambil di Pulau Angso Duo Pariaman. Saya berkunjung kesana bersama sahabat SMA pada tahun 2014. Sekarang Pulau Angso Duo sudah mengalami banyak perubahan, yang pasti lebih bagus dari ketika saya mengunjungi tahun 2014 lalu. 

Hanya melihat kembali fotonya, saya bisa merasakan kembali betapa indahnya ciptaan Allah ini. 






-uciramda-

Pulau Angso Duo Pariaman

Tuesday, March 14, 2017

Pantai dengan terik matahari dan suara ombaknya, saya rindu. Tetapi saya belum sempat mengunjunginya hanya dengan alasan mager hiks. Saya juga ingin posting, tetapi tidak ada bahan postingan. Lalu saya teringat foto pantai yang saya ambil di Pulau Angso Duo Pariaman. Saya berkunjung kesana bersama sahabat SMA pada tahun 2014. Sekarang Pulau Angso Duo sudah mengalami banyak perubahan, yang pasti lebih bagus dari ketika saya mengunjungi tahun 2014 lalu. 

Hanya melihat kembali fotonya, saya bisa merasakan kembali betapa indahnya ciptaan Allah ini. 






-uciramda-
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...