SOCIAL MEDIA

Showing posts with label THOUGHTS. Show all posts
Showing posts with label THOUGHTS. Show all posts

Watercolor adalah media pertamaku memulai belajar menggambar secara otodidak pada tahun 2016 lalu. Senang saat menggunakannya, tapi sering tidak puas dengan hasilnya. Di masa pandemi covid-19 tahun 2021 aku memutuskan ikut kelas gambar di Carrot Academy. Awalnya ingin bisa menggambar dengan watercolor. Tapi untuk pemula seperti aku, harus ikut kelas gambar basic dulu (menggambar realis dengan pensil 2B). Setelah materi selesai, lanjut ke kelas watercolor, tapi aku hanya bertahan sebulan karena merasa watercolor itu sulit sekali, sulit mengontrol airnya. Singkat cerita, aku jadi seperti jago menggambar hasil dari kelas realis. Aku menggunakan media yang cocok dengan karakterku, oil pastel. Sudah banyak karya oil pastel yang aku buat, tapi kadang ada keraguan di dalam hatiku. Apa benar karya seperti ini yang aku inginkan? Walaupun saat menggunakan oil pastel lebih banyak aku suka hasilnya dibandingkan dengan hasil watercolor. Tapi saat proses menggambarnya ada ketakukan pada diriku, takut tidak presisi, takut sumber cahaya antar objek tidak sama, takut warna bayangannya terlalu terang, takut hasilnya tidak bagus. Selalu banyak takutnya yang mungkin tanpa aku sadari bisa membuat stres juga. Padahal niatku berkarya itu untuk berbahagia, healing


Pernah satu hari aku ajak mas suami melihat pameran Ibu Nunung WS di Galeri Nasional Indonesia. Aku melihat beberapa karya beliau menggunakan watercolor hanya dengan dua goresan kuas, berjudul Self Portrait. Aku kaget sekali, bagaimana bisa Ibu Nunung menyederhanakan bentuk rupa yang rumit hanya menjadi dua goresan saja? Bagaimana caranya? Bagaimana cara pandangnya? Dijelaskan di dinding galeri bahwa beliau suka menyederhanakan objek secara bebas, bahkan melanggar kaidah-kaidah bentuk dan anatomi figuratif. Di dalam hati, aku juga ingin seperti beliau, seniman yang bebas menggoreskan kuas tanpa perlu khawatir tentang bentuk, sumber cahaya, dan bayangan. Ada rasa rindu dengan watercolor setelah melihat karya beliau.

Di tahun ketigaku berkarya dengan oil pastel. Keraguan hatiku semakin menjadi-jadi. Akhirnya ku coba lagi menggambar dengan watercolor. Setelah dicoba, tetap aku tidak suka dengan hasilnya. Tapi bahagia sekali saat proses menggambarnya, seperti dulu, menenangkan, healing. Tapi kali ini aku lebih semangat untuk belajar, tidak langsung menyerah. Ku cari lagi referensi gambar watercolor yang sesuai karakterku. Semakin dicari, semakin algoritma memunculkan banyak watercolor artist yang karyanya bagus-bagus. Aku pun mulai paham teknik apa yang hasilnya sesuai keinginanku, wet on wet. Seperti kata watercolor artist yang aku temukan di Instagram “that’s what’s unique about using watercolor, we can’t get the same work as before”. Karena menggambar wet on wet adalah membiarkan air mewarnai gambar itu sendiri. Ketika aku memahami teknik ini, saat itulah aku jatuh cinta lagi sama watercolor


Seperti teori “the art of letting things happen” oleh Taoisme yang berarti membiarkan segala sesuatu terjadi secara alami tanpa paksaan atau usaha yang berlebihan. Teknik wet on wet pada watercolor juga membiarkan air membentuk gambarnya sendiri. Walaupun karya watercolorku masih sedikit dan itupun hanya beberapa yang aku sangat suka hasilnya. Tapi prosesnya itu healing sekali. Kuas yang basah bercampur warna yang menari diatas kertas yang basah. Memang saat basah belum jelas bentuknya, tapi ketika sudah kering, jadilah the art of letting water happen. 🤍



Salam,

Suci

Jatuh Cinta (Lagi) Sama Watercolor

Friday, August 8, 2025

Watercolor adalah media pertamaku memulai belajar menggambar secara otodidak pada tahun 2016 lalu. Senang saat menggunakannya, tapi sering tidak puas dengan hasilnya. Di masa pandemi covid-19 tahun 2021 aku memutuskan ikut kelas gambar di Carrot Academy. Awalnya ingin bisa menggambar dengan watercolor. Tapi untuk pemula seperti aku, harus ikut kelas gambar basic dulu (menggambar realis dengan pensil 2B). Setelah materi selesai, lanjut ke kelas watercolor, tapi aku hanya bertahan sebulan karena merasa watercolor itu sulit sekali, sulit mengontrol airnya. Singkat cerita, aku jadi seperti jago menggambar hasil dari kelas realis. Aku menggunakan media yang cocok dengan karakterku, oil pastel. Sudah banyak karya oil pastel yang aku buat, tapi kadang ada keraguan di dalam hatiku. Apa benar karya seperti ini yang aku inginkan? Walaupun saat menggunakan oil pastel lebih banyak aku suka hasilnya dibandingkan dengan hasil watercolor. Tapi saat proses menggambarnya ada ketakukan pada diriku, takut tidak presisi, takut sumber cahaya antar objek tidak sama, takut warna bayangannya terlalu terang, takut hasilnya tidak bagus. Selalu banyak takutnya yang mungkin tanpa aku sadari bisa membuat stres juga. Padahal niatku berkarya itu untuk berbahagia, healing


Pernah satu hari aku ajak mas suami melihat pameran Ibu Nunung WS di Galeri Nasional Indonesia. Aku melihat beberapa karya beliau menggunakan watercolor hanya dengan dua goresan kuas, berjudul Self Portrait. Aku kaget sekali, bagaimana bisa Ibu Nunung menyederhanakan bentuk rupa yang rumit hanya menjadi dua goresan saja? Bagaimana caranya? Bagaimana cara pandangnya? Dijelaskan di dinding galeri bahwa beliau suka menyederhanakan objek secara bebas, bahkan melanggar kaidah-kaidah bentuk dan anatomi figuratif. Di dalam hati, aku juga ingin seperti beliau, seniman yang bebas menggoreskan kuas tanpa perlu khawatir tentang bentuk, sumber cahaya, dan bayangan. Ada rasa rindu dengan watercolor setelah melihat karya beliau.

Di tahun ketigaku berkarya dengan oil pastel. Keraguan hatiku semakin menjadi-jadi. Akhirnya ku coba lagi menggambar dengan watercolor. Setelah dicoba, tetap aku tidak suka dengan hasilnya. Tapi bahagia sekali saat proses menggambarnya, seperti dulu, menenangkan, healing. Tapi kali ini aku lebih semangat untuk belajar, tidak langsung menyerah. Ku cari lagi referensi gambar watercolor yang sesuai karakterku. Semakin dicari, semakin algoritma memunculkan banyak watercolor artist yang karyanya bagus-bagus. Aku pun mulai paham teknik apa yang hasilnya sesuai keinginanku, wet on wet. Seperti kata watercolor artist yang aku temukan di Instagram “that’s what’s unique about using watercolor, we can’t get the same work as before”. Karena menggambar wet on wet adalah membiarkan air mewarnai gambar itu sendiri. Ketika aku memahami teknik ini, saat itulah aku jatuh cinta lagi sama watercolor


Seperti teori “the art of letting things happen” oleh Taoisme yang berarti membiarkan segala sesuatu terjadi secara alami tanpa paksaan atau usaha yang berlebihan. Teknik wet on wet pada watercolor juga membiarkan air membentuk gambarnya sendiri. Walaupun karya watercolorku masih sedikit dan itupun hanya beberapa yang aku sangat suka hasilnya. Tapi prosesnya itu healing sekali. Kuas yang basah bercampur warna yang menari diatas kertas yang basah. Memang saat basah belum jelas bentuknya, tapi ketika sudah kering, jadilah the art of letting water happen. 🤍



Salam,

Suci

Aa Gym bilang “tujuan kita hidup di dunia ini hanya untuk menjalani ujian, diberi kesusahan dan kesedihan oleh Allah itu ujian, diberi kebahagiaanpun itu ujian. Tapi ujian mana yang bisa membuat kita lebih dekat pada Allah, biasanya adalah ujian kesusahan atau kesedihan”. 

Begitu juga aku. Ujian kesedihan ku pada November 2023, janinku tidak ada detak jantung di usia 11 minggu. Sedih pasti, trauma juga. Janinnya dikeluarkan secara normal dengan minum obat dari dokter. Sakit melawan kontraksi, tapi lebih sakit lagi tidak bertemu bayiku. Setelah janinnya keluar, hari-hariku terasa hampa, setiap selesai shalat hanya bisa melamun di atas sajadah. 


Ini adalah kali kedua detak jantung janinku berhenti, yang pertama hanya bertahan diusia 8 minggu. Apa salahku? Apa ini semua karena dosaku yang lalu? Apa karena menurut Allah aku belum siap atau belum layak jadi ibu? Pikiran-pikiran negatif itu selalu terlintas di benakku. Sampai akhirnya ketemu reels Aa Gym tentang nasehat bersyukur di instagramku. Alhamdulillah ternyata Allah masih sayang aku, aku ditegur untuk kembali kepada-Nya. Sejak lihat reels Aa Gym, aku mulai memperbaiki diri, mulai mendekat lagi pada Allah. Aku mulai dari belajar tauhid lagi lewat instagram dan youtubenya Aa Gym. Kalau kata mas suami “mulailah perbaiki ibadah dari Rukun Islam, gausah mikirin sunah dulu, perbaiki dulu yang wajibnya”.


Sembari terus belajar tauhid, aku juga perbaiki ibadahku mulai dari shalat wajib. Aku yang susah khusu’ saat shalat belajar untuk lebih khusu’, hutang puasa Ramadhan yang belum diganti diusahakan untuk ganti, Al-Quran yang belum dibaca terjemahannya diusahakan baca terjemahannya setiap hari. Baca terjemahan Al-Quran juga disarankan Aa Gym, karena bisa lebih mengenal Allah dan bisa menambah keimanan. Menurutku ini benar, aku jadi makin mencintai Allah setelah baca terjemahan Al-Quran, karena sebenarnya Allah lah yang lebih mencintai kita. Dan baca terjemahan Al-Quran itu menyenangkan karena isinya memang semenarik itu, tipsku aktifkan widget ‘daily verse’ di home screen hpmu, aku menggunakan aplikasi Muslim Pro, maka akan ada ayat yang berganti setiap harinya, ini juga sebagai pengingat ketika sedang bingung ingin melihat apa di hp kita, lalu melihat daily verse pasti jadi ingin membacanya apalagi terjemahan yang muncul sedang relate dengan perasaan hari itu, insyaAllah setelah baca satu ayat biasanya akan berlanjut ke ayat berikutnya bahkan sampai suratnya selesai. Anehnya waktu itu, setiap kali ayat yang muncul di layarku adalah ayat-ayat tentang proses hamil, proses terjadinya janin, atau tentang kehilangan, kesabaran, kesusahan. Seolah-olah Allah sedang berbicara padaku tentang yang aku sedihkan. 


“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,” - QS. Al-Hadid: 22-23

Hari demi hari rasa cintaku pada Allah semakin besar juga sedihku semakin kecil. Sampai aku bisa nangis dengar lagunya Deborah Hanna - Takkan Berpaling Dari-Mu. Beneran semua yang terjadi di hidupku itu adalah nikmat dari Allah yang ternyata selama ini mungkin tidak ku syukuri. Hatiku semakin tenang menerima takdir Allah. Apa-apa yang sudah dan akan terjadi padaku, ku serahkan semua pada Allah. Sampai akhirnya ketemu ayat “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya” - QS. Al-Fajr: 27-28


Aku yang tadinya doanya suka ngatur-ngatur Allah “ya Allah berilah hamba keturunan di usia 30 tahun atau ya Allah bulan depan udah garis dua”. Berubah menjadi “ya Allah jika Kau izinkan aku punya keturunan di dunia, aku bersyukur. Jika tidak Kau izinkan aku punya keturunan di dunia, aku juga bersyukur. Berdua saja dengan suamiku aku sudah bahagia dan tak merasa kekurangan suatu apapun”.  Setelah berdoa seperti itu, Allah mudahkan program hamil kami. Apa-apa yang disuruh orang tua, saudara, dan mertua yang sebelum taubat ini tidak sempat dilakukan. Tiba-tiba bisa kami lakukan secara berturut-turut dengan lancar atas izin Allah. Sampai akhirnya kami ingin umrah dulu dan lupakan program hamil sejenak, malah Allah izinkan hamil disaat umrah😭 MasyaAllah tabarakallah.

Kalau kata Ustad Adi Hidayat, “Perbaiki shalatmu dan tambah dengan ibadah sunah. Lakukan semua dengan ikhlas karena Allah. Dunia bagimu itu amat mudah bagi Allah. Yang pertama kali akan kamu dapatkan adalah hati yang tenang”. Untuk bisa jadi manusia yang tenang, kita harus dekat dengan Allah, sebenar-benarnya mengenal Allah. Ternyata Allah menyuruh kita dulu yang rida, lalu Allah akan ridai kita.


Allah berfirman “Aku sesuai prasangkaan hamba-Ku”. (HR Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675). Selalu husnuzon sama Allah, Maryam yang tidak punya suami saja bisa Allah buat hamil, apalagi kita yang punya suami. InsyaAllah itu amat mudah bagi Allah. Semangat ya untuk pejuang garis dua. I feel you 🤍 


Salam,

Suci






Terima Kasih Sudah Kau Izinkan

Wednesday, July 30, 2025

Aa Gym bilang “tujuan kita hidup di dunia ini hanya untuk menjalani ujian, diberi kesusahan dan kesedihan oleh Allah itu ujian, diberi kebahagiaanpun itu ujian. Tapi ujian mana yang bisa membuat kita lebih dekat pada Allah, biasanya adalah ujian kesusahan atau kesedihan”. 

Begitu juga aku. Ujian kesedihan ku pada November 2023, janinku tidak ada detak jantung di usia 11 minggu. Sedih pasti, trauma juga. Janinnya dikeluarkan secara normal dengan minum obat dari dokter. Sakit melawan kontraksi, tapi lebih sakit lagi tidak bertemu bayiku. Setelah janinnya keluar, hari-hariku terasa hampa, setiap selesai shalat hanya bisa melamun di atas sajadah. 


Ini adalah kali kedua detak jantung janinku berhenti, yang pertama hanya bertahan diusia 8 minggu. Apa salahku? Apa ini semua karena dosaku yang lalu? Apa karena menurut Allah aku belum siap atau belum layak jadi ibu? Pikiran-pikiran negatif itu selalu terlintas di benakku. Sampai akhirnya ketemu reels Aa Gym tentang nasehat bersyukur di instagramku. Alhamdulillah ternyata Allah masih sayang aku, aku ditegur untuk kembali kepada-Nya. Sejak lihat reels Aa Gym, aku mulai memperbaiki diri, mulai mendekat lagi pada Allah. Aku mulai dari belajar tauhid lagi lewat instagram dan youtubenya Aa Gym. Kalau kata mas suami “mulailah perbaiki ibadah dari Rukun Islam, gausah mikirin sunah dulu, perbaiki dulu yang wajibnya”.


Sembari terus belajar tauhid, aku juga perbaiki ibadahku mulai dari shalat wajib. Aku yang susah khusu’ saat shalat belajar untuk lebih khusu’, hutang puasa Ramadhan yang belum diganti diusahakan untuk ganti, Al-Quran yang belum dibaca terjemahannya diusahakan baca terjemahannya setiap hari. Baca terjemahan Al-Quran juga disarankan Aa Gym, karena bisa lebih mengenal Allah dan bisa menambah keimanan. Menurutku ini benar, aku jadi makin mencintai Allah setelah baca terjemahan Al-Quran, karena sebenarnya Allah lah yang lebih mencintai kita. Dan baca terjemahan Al-Quran itu menyenangkan karena isinya memang semenarik itu, tipsku aktifkan widget ‘daily verse’ di home screen hpmu, aku menggunakan aplikasi Muslim Pro, maka akan ada ayat yang berganti setiap harinya, ini juga sebagai pengingat ketika sedang bingung ingin melihat apa di hp kita, lalu melihat daily verse pasti jadi ingin membacanya apalagi terjemahan yang muncul sedang relate dengan perasaan hari itu, insyaAllah setelah baca satu ayat biasanya akan berlanjut ke ayat berikutnya bahkan sampai suratnya selesai. Anehnya waktu itu, setiap kali ayat yang muncul di layarku adalah ayat-ayat tentang proses hamil, proses terjadinya janin, atau tentang kehilangan, kesabaran, kesusahan. Seolah-olah Allah sedang berbicara padaku tentang yang aku sedihkan. 


“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,” - QS. Al-Hadid: 22-23

Hari demi hari rasa cintaku pada Allah semakin besar juga sedihku semakin kecil. Sampai aku bisa nangis dengar lagunya Deborah Hanna - Takkan Berpaling Dari-Mu. Beneran semua yang terjadi di hidupku itu adalah nikmat dari Allah yang ternyata selama ini mungkin tidak ku syukuri. Hatiku semakin tenang menerima takdir Allah. Apa-apa yang sudah dan akan terjadi padaku, ku serahkan semua pada Allah. Sampai akhirnya ketemu ayat “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya” - QS. Al-Fajr: 27-28


Aku yang tadinya doanya suka ngatur-ngatur Allah “ya Allah berilah hamba keturunan di usia 30 tahun atau ya Allah bulan depan udah garis dua”. Berubah menjadi “ya Allah jika Kau izinkan aku punya keturunan di dunia, aku bersyukur. Jika tidak Kau izinkan aku punya keturunan di dunia, aku juga bersyukur. Berdua saja dengan suamiku aku sudah bahagia dan tak merasa kekurangan suatu apapun”.  Setelah berdoa seperti itu, Allah mudahkan program hamil kami. Apa-apa yang disuruh orang tua, saudara, dan mertua yang sebelum taubat ini tidak sempat dilakukan. Tiba-tiba bisa kami lakukan secara berturut-turut dengan lancar atas izin Allah. Sampai akhirnya kami ingin umrah dulu dan lupakan program hamil sejenak, malah Allah izinkan hamil disaat umrah😭 MasyaAllah tabarakallah.

Kalau kata Ustad Adi Hidayat, “Perbaiki shalatmu dan tambah dengan ibadah sunah. Lakukan semua dengan ikhlas karena Allah. Dunia bagimu itu amat mudah bagi Allah. Yang pertama kali akan kamu dapatkan adalah hati yang tenang”. Untuk bisa jadi manusia yang tenang, kita harus dekat dengan Allah, sebenar-benarnya mengenal Allah. Ternyata Allah menyuruh kita dulu yang rida, lalu Allah akan ridai kita.


Allah berfirman “Aku sesuai prasangkaan hamba-Ku”. (HR Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675). Selalu husnuzon sama Allah, Maryam yang tidak punya suami saja bisa Allah buat hamil, apalagi kita yang punya suami. InsyaAllah itu amat mudah bagi Allah. Semangat ya untuk pejuang garis dua. I feel you 🤍 


Salam,

Suci






Tiba-tiba ingin baca ulang buku Negeri 5 Menara. Buku yang dulu sangat aku suka karena memotivasiku tetap semangat di usia 20-an. Karena dulu bukunya pinjam dari teman kakakku, jadinya sekarang belum bisa baca lagi karena belum beli. Bahkan di usia 30-an dan semangat sedang hilang, hanya buku itu yang terlintas dibenakku untuk dibaca.


Entah mengapa gairahku sedang menghilang. Apa karena faktor usia, atau karena merasa sebaiknya aku harus mengikhlaskan cita-cita? Sedang tidak ingin menggambar, dan tidak ingin record video. Padahal aku ingin seperti Van Gogh yang tetap berkarya walau hanya satu lukisannya yang terjual selama hidupnya berkarya. Tapi Van Gogh pun menyerah pada akhirnya (beliau bun*h diri), lukisannya terkenal setelah ia meninggal.

Sebenarnya mimpiku hanya sederhana, bisa punya studio kecil dengan halaman kecil yang penuh bunga dan tanaman. Bisa ikut exhibition dan gambarku laku terjual. Terdengar sederhana, tapi ternyata sederhana pun tidak mudah dan murah ya. Apalagi ini ibukota. Setiap kali ingin menyerah, setiap kali itu juga aku tetap ingin menggambar. Setiap kali ingin menyerah, setiap kali itu juga aku tiba-tiba menemukan oil pastel artist keren yang menginspirasi. Walaupun sampai sekarang aku belum menggambar setelah sekian lama.

Ini tahun keduaku menggambar dengan oil pastel, dan tahun ini sepertinya paling sedikit aku membuat gambar, padahal targetku sebaliknya :( Padahal pernah dikirimin email oleh salah satu art gallery untuk ikut exhibition, tapi ku tolak karena tidak punya uang untuk bayar feenya. Pernah daftar jadi artist salah satu akun ternama pun aku ditolak karena ada yang lebih baik katanya. Baru dua kali gagal, apa ini ya penyebab gairahku menghilang? 

Namun, setiap kali ingin menyerah pun aku selalu ingin mencari motivasiku sendiri. Salah satunya adalah menonton video kesukaanku dari Life of Riza yang berjudul "For those who feel like giving up". Video ini sudah ku tonton belasan kali sejak kemaren, agar aku sadar, agar aku terus berjuang, seperti kata Riza "so there really is no such thing as overnight success, but there is preparation meets opportunity".

Seperti pesan Luffy (One Piece) pada rekan-rekannya, 3D2Y. Maksudnya mereka akan bertemu lagi 2 tahun lagi bukan 3 hari, dan mereka akan menjadi lebih kuat. Yes, 2 years, for me, if I need 2 years or more, I should be stronger too and make my dreams come true. Aku harus selesaikan lelahku, aku harus menghibur diri sepuasnya, lalu kembali berjuang untuk menemukan keberuntunganku. Iya keberuntungan (preparation meets opportunity). Quote terakhirku masih dari Life of Riza "because the sooner you can be you, the sooner people looking for you will find you. And that is when it begins".


Salam,
Suci





Kemanakah Gairah Itu?

Thursday, November 2, 2023

Tiba-tiba ingin baca ulang buku Negeri 5 Menara. Buku yang dulu sangat aku suka karena memotivasiku tetap semangat di usia 20-an. Karena dulu bukunya pinjam dari teman kakakku, jadinya sekarang belum bisa baca lagi karena belum beli. Bahkan di usia 30-an dan semangat sedang hilang, hanya buku itu yang terlintas dibenakku untuk dibaca.


Entah mengapa gairahku sedang menghilang. Apa karena faktor usia, atau karena merasa sebaiknya aku harus mengikhlaskan cita-cita? Sedang tidak ingin menggambar, dan tidak ingin record video. Padahal aku ingin seperti Van Gogh yang tetap berkarya walau hanya satu lukisannya yang terjual selama hidupnya berkarya. Tapi Van Gogh pun menyerah pada akhirnya (beliau bun*h diri), lukisannya terkenal setelah ia meninggal.

Sebenarnya mimpiku hanya sederhana, bisa punya studio kecil dengan halaman kecil yang penuh bunga dan tanaman. Bisa ikut exhibition dan gambarku laku terjual. Terdengar sederhana, tapi ternyata sederhana pun tidak mudah dan murah ya. Apalagi ini ibukota. Setiap kali ingin menyerah, setiap kali itu juga aku tetap ingin menggambar. Setiap kali ingin menyerah, setiap kali itu juga aku tiba-tiba menemukan oil pastel artist keren yang menginspirasi. Walaupun sampai sekarang aku belum menggambar setelah sekian lama.

Ini tahun keduaku menggambar dengan oil pastel, dan tahun ini sepertinya paling sedikit aku membuat gambar, padahal targetku sebaliknya :( Padahal pernah dikirimin email oleh salah satu art gallery untuk ikut exhibition, tapi ku tolak karena tidak punya uang untuk bayar feenya. Pernah daftar jadi artist salah satu akun ternama pun aku ditolak karena ada yang lebih baik katanya. Baru dua kali gagal, apa ini ya penyebab gairahku menghilang? 

Namun, setiap kali ingin menyerah pun aku selalu ingin mencari motivasiku sendiri. Salah satunya adalah menonton video kesukaanku dari Life of Riza yang berjudul "For those who feel like giving up". Video ini sudah ku tonton belasan kali sejak kemaren, agar aku sadar, agar aku terus berjuang, seperti kata Riza "so there really is no such thing as overnight success, but there is preparation meets opportunity".

Seperti pesan Luffy (One Piece) pada rekan-rekannya, 3D2Y. Maksudnya mereka akan bertemu lagi 2 tahun lagi bukan 3 hari, dan mereka akan menjadi lebih kuat. Yes, 2 years, for me, if I need 2 years or more, I should be stronger too and make my dreams come true. Aku harus selesaikan lelahku, aku harus menghibur diri sepuasnya, lalu kembali berjuang untuk menemukan keberuntunganku. Iya keberuntungan (preparation meets opportunity). Quote terakhirku masih dari Life of Riza "because the sooner you can be you, the sooner people looking for you will find you. And that is when it begins".


Salam,
Suci





Ketika saya merasa semesta sedang tidak berpihak kepada saya, saya selalu menghibur diri dengan mengatakan kalimat ini di dalam hati "It's okay Ci, sabar, semua ada waktunya". Suami pun turut membelai kepala saya sambil berkata "It's okay, yang penting sudah usaha", yang juga membuat saya merasa lebih tenang, karena masih ada yang mendukung saya.

It's okay selalu menjadi kata-kata ampuh untuk menghibur diri saya sendiri. Seperti quote dari Dhiman  yang saya share di story instagram beberapa hari lalu "It is okay if it's taking more time than you thought". Seperti kalimat menenangkan yang sudah pernah kita dengar dan baca dimana-mana "semua orang punya waktunya masing-masing". Saya selalu percaya itu, karena saya sudah pernah mengalami kesempatan waktu berarti itu.

Seperti pada potongan artikel You're Not Late! You're Not Early oleh Marie-Claire Kuja  

"Everyone is running their own race in their own time zone.

Don't envy or mock them.

They are in their own time zone and you are in yours.

Life is about waiting for the right moment to react.

So relax

You're not late

You're not early."


Seperti perjalanan menuju pantai di gambar ini, setelah tangga yang tinggi dan panjang yang ditutupi ranting-ranting tinggi, akan ada pemandangan pantai dengan pasir putih dan laut biru yang sangat indah. I believe, better days are coming. Semangat ya Suc, semua yang terjadi di muka bumi ini sungguh atas kehendak dan izin Allah.

It's okay, that's love :)

It's Okay

Wednesday, October 14, 2020

Ketika saya merasa semesta sedang tidak berpihak kepada saya, saya selalu menghibur diri dengan mengatakan kalimat ini di dalam hati "It's okay Ci, sabar, semua ada waktunya". Suami pun turut membelai kepala saya sambil berkata "It's okay, yang penting sudah usaha", yang juga membuat saya merasa lebih tenang, karena masih ada yang mendukung saya.

It's okay selalu menjadi kata-kata ampuh untuk menghibur diri saya sendiri. Seperti quote dari Dhiman  yang saya share di story instagram beberapa hari lalu "It is okay if it's taking more time than you thought". Seperti kalimat menenangkan yang sudah pernah kita dengar dan baca dimana-mana "semua orang punya waktunya masing-masing". Saya selalu percaya itu, karena saya sudah pernah mengalami kesempatan waktu berarti itu.

Seperti pada potongan artikel You're Not Late! You're Not Early oleh Marie-Claire Kuja  

"Everyone is running their own race in their own time zone.

Don't envy or mock them.

They are in their own time zone and you are in yours.

Life is about waiting for the right moment to react.

So relax

You're not late

You're not early."


Seperti perjalanan menuju pantai di gambar ini, setelah tangga yang tinggi dan panjang yang ditutupi ranting-ranting tinggi, akan ada pemandangan pantai dengan pasir putih dan laut biru yang sangat indah. I believe, better days are coming. Semangat ya Suc, semua yang terjadi di muka bumi ini sungguh atas kehendak dan izin Allah.

It's okay, that's love :)

Sebenarnya agak bingung ingin memberikan judul untuk tulisan ini. Sudahkah merasa cukup? Sebagai manusia, pasti sering sekali kita merasa tidak cukup. Selalu melihat keatas, bahkan selalu merasa kekurangan.
Tahun 2017, ketika saya memulai merantau ke Jakarta, tinggal sendirian sebagai anak kos. Saya mulai menerapkan hidup minimalis. Saya memulainya dari pakaian. Membawa pakaian ke rantau seadanya dan merasa cukup. Pernah waktu ikut call center training, kami disuruh menggunakan baju batik di satu hari setiap minggunya. Lalu saya hanya membeli satu baju batik, dan memakainya setiap minggu di hari baju batik. Lalu salah seorang teman training celetuk "batik lu ini-ini mulu Ci, emang nggak ada yang lain". Sebelum saya menjawab, ada teman lain yang bantu jawab dengan candaan. Anehnya, saya sama sekali tidak tersinggung dengan pernyataan teman saya. Karena kenyataannya memang hanya punya satu baju batik, and I'm okay. Bahkan bangga, karena tak perlu repot-repot mikir "hari ini pakai baju batik yang mana ya".

*
Cerita tentang saya merasa cukup dengan iphone 6S.

Tahun lalu saya selalu ingin punya ipad pro karena ingin sekali menggambar dari aplikasi procreate yang hanya ada di ipad pro. Tapi tidak diizinkan suami, karena buang-buang uang saja. Juga kata teman-temannya yang anak design grafis lebih bagus wacom dan photoshop untuk menggambar. Setelah dipikir-pikir lagi, benar juga ya. Untuk apa beli ipad pro, saya ingin menggambar untuk apa? Senang-senang saja atau untuk dijadikan bisnis? Toh photoshop juga bisa, hanya perlu belajar lagi. Pertanyaan dan pernyataan seperti itu terlintas dipikiran saya. Konsep hidup minimalis kembali terpikirkan. Beli sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Akhirnya saya melupakan ipad pro, tidak pernah lagi mencari tahu harga atau lihat review tentang ipad pro. Kemudian saya menemukan ada aplikasi yang sama persis dan ini versi pocketnya yang bisa digunakan di iphone. Ternyata iphone 6 saya waktu itu tidak mendukung untuk aplikasi itu. 

Singkat cerita, suami beli iphone 6S yang sebenarnya untuk dia (kebutuhan kerjaan). Malah dikasih ke saya (tukeran dengan iphone 6 saya) karena saya ingin sekali purchase aplikasi procreate pocket. Lalu beli stylusnya di Tokopedia. Dan saya bisa menggambar digital. Tentu saya senang sekali. Itu lebih dari cukup. Menurut saya toolsnya sama dengan yang ada di procreate ipad pro. Hanya saja ini layarnya lebih kecil. Tapi kalau tidak mempermasalahkan hal tersebut, it's okay. Kalau saya menghabiskan lebih banyak uang untuk beli ipad pro, pensilnya, aplikasinya. Mungkin perasaannya akan ada sedikit menyesal, karena begitu banyak uang yang dikeluarkan, yang sebenarnya saya tidak mampu. Sekarang saya tidak iri lagi melihat illustrator yang menggambar dengan ipad pro. Karena saya tahu, procreate pocket di iphone 6S saya sudah cukup.

Saya tidak menyangka konsep hidup minimalis ini bisa begitu melekat dengan saya. Karena untuk saat ini saya sudah merasa cukup dengan iphone 6S saya. Kameranya yang masih bagus, kondisinya yang masih mulus, bahkan sudah ada procreate pocket dan stylus untuk saya belajar gambar. Ini sudah lebih dari cukup. Saya tidak perlu menciptakan rasa cemburu yang saya tahu bahwa saya belum mampu untuk membeli kemewahan.

*
Kata Kak Diana Rikasari, tanya pada dirimu sendiri "What do you want?". Setelah mendengar perkataan itu, saya langsung merefleksikannya pada diri sendiri. "Suci, what do you want?". Saya sudah menjawabnya di jurnal saya. Intinya, saya ingin tetap minimalis dan merasa cukup. Tidak perlu memaksakan kemewahan gaya hidup yang belum mampu saya beli.


SR

Sudahkah Merasa Cukup?

Wednesday, April 22, 2020

Sebenarnya agak bingung ingin memberikan judul untuk tulisan ini. Sudahkah merasa cukup? Sebagai manusia, pasti sering sekali kita merasa tidak cukup. Selalu melihat keatas, bahkan selalu merasa kekurangan.
Tahun 2017, ketika saya memulai merantau ke Jakarta, tinggal sendirian sebagai anak kos. Saya mulai menerapkan hidup minimalis. Saya memulainya dari pakaian. Membawa pakaian ke rantau seadanya dan merasa cukup. Pernah waktu ikut call center training, kami disuruh menggunakan baju batik di satu hari setiap minggunya. Lalu saya hanya membeli satu baju batik, dan memakainya setiap minggu di hari baju batik. Lalu salah seorang teman training celetuk "batik lu ini-ini mulu Ci, emang nggak ada yang lain". Sebelum saya menjawab, ada teman lain yang bantu jawab dengan candaan. Anehnya, saya sama sekali tidak tersinggung dengan pernyataan teman saya. Karena kenyataannya memang hanya punya satu baju batik, and I'm okay. Bahkan bangga, karena tak perlu repot-repot mikir "hari ini pakai baju batik yang mana ya".

*
Cerita tentang saya merasa cukup dengan iphone 6S.

Tahun lalu saya selalu ingin punya ipad pro karena ingin sekali menggambar dari aplikasi procreate yang hanya ada di ipad pro. Tapi tidak diizinkan suami, karena buang-buang uang saja. Juga kata teman-temannya yang anak design grafis lebih bagus wacom dan photoshop untuk menggambar. Setelah dipikir-pikir lagi, benar juga ya. Untuk apa beli ipad pro, saya ingin menggambar untuk apa? Senang-senang saja atau untuk dijadikan bisnis? Toh photoshop juga bisa, hanya perlu belajar lagi. Pertanyaan dan pernyataan seperti itu terlintas dipikiran saya. Konsep hidup minimalis kembali terpikirkan. Beli sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Akhirnya saya melupakan ipad pro, tidak pernah lagi mencari tahu harga atau lihat review tentang ipad pro. Kemudian saya menemukan ada aplikasi yang sama persis dan ini versi pocketnya yang bisa digunakan di iphone. Ternyata iphone 6 saya waktu itu tidak mendukung untuk aplikasi itu. 

Singkat cerita, suami beli iphone 6S yang sebenarnya untuk dia (kebutuhan kerjaan). Malah dikasih ke saya (tukeran dengan iphone 6 saya) karena saya ingin sekali purchase aplikasi procreate pocket. Lalu beli stylusnya di Tokopedia. Dan saya bisa menggambar digital. Tentu saya senang sekali. Itu lebih dari cukup. Menurut saya toolsnya sama dengan yang ada di procreate ipad pro. Hanya saja ini layarnya lebih kecil. Tapi kalau tidak mempermasalahkan hal tersebut, it's okay. Kalau saya menghabiskan lebih banyak uang untuk beli ipad pro, pensilnya, aplikasinya. Mungkin perasaannya akan ada sedikit menyesal, karena begitu banyak uang yang dikeluarkan, yang sebenarnya saya tidak mampu. Sekarang saya tidak iri lagi melihat illustrator yang menggambar dengan ipad pro. Karena saya tahu, procreate pocket di iphone 6S saya sudah cukup.

Saya tidak menyangka konsep hidup minimalis ini bisa begitu melekat dengan saya. Karena untuk saat ini saya sudah merasa cukup dengan iphone 6S saya. Kameranya yang masih bagus, kondisinya yang masih mulus, bahkan sudah ada procreate pocket dan stylus untuk saya belajar gambar. Ini sudah lebih dari cukup. Saya tidak perlu menciptakan rasa cemburu yang saya tahu bahwa saya belum mampu untuk membeli kemewahan.

*
Kata Kak Diana Rikasari, tanya pada dirimu sendiri "What do you want?". Setelah mendengar perkataan itu, saya langsung merefleksikannya pada diri sendiri. "Suci, what do you want?". Saya sudah menjawabnya di jurnal saya. Intinya, saya ingin tetap minimalis dan merasa cukup. Tidak perlu memaksakan kemewahan gaya hidup yang belum mampu saya beli.


SR
Sejak Pemerintah mengumumkan untuk social distancing atau self isolation, saya dan suami mengikuti kebijakan itu dengan tetap #dirumahaja. Berharap tidak tertular, atau menjadi carrier untuk orang lain, ya kita tidak tau kan, karena banyak yang positif tanpa mengalami gejala, pokoknya #dirumahaja.

Awalnya saya tidak apa-apa, karena memang saya adalah stay at home wife, suami pun freelancer, jadi memang lebih sering di rumah, jadi sepertinya #dirumahaja itu tidak akan terasa berat untuk saya, apalagi saya introvert, rumah adalah tempat ternyaman.

Minggu pertama, masih seperti biasa, saya masih ke tukang sayur langganan dan ke pasar komplek rumah membeli bahan makanan untuk beberapa hari ke depan. Masih nafsu makan, masih bisa tidur (tapi sebelumnya jam tidur saya dan suami memang agak kemalaman ya, jam 11 atau 12 malam bahkan lewat jam 12 kami baru tertidur). Tapi saya masih bisa bangun pagi, membuang sampah, menyiapkan sarapan, membuat empon-empon, jam 11/12 nya masak, makan siang, bersih bersih, yaa seperti kehidupan saya sebelum Covid-19 datang. Bahkan ada kegiatan tambahan, kami workout bersama di rumah selama 10-15 menit.

Saya masih bisa melanjutkan cita-cita saya, seperti belajar menggambar digital, mendekor rumah, memilah sampah, mengompos, membeli tanaman baru, tentu saja saya masih happy dan mood. Di minggu pertama juga, saya masih terasa baik-baik saja, saya masih bisa tertawa nonton Running Man, masih mood nonton film, saya sudah nonton The Flu (youtube), Silenced (viu), Kim Ji-Young Born 1982 (viu), dan A Taxi Driver (viu). Bahkan sudah punya beberapa list film korea lainnya yang akan saya tonton selanjutnya.

Tiba-tiba memasuki minggu kedua #dirumahaja, saya merasa tidak semangat, seperti kehilangan arah, bosan. Yang sangat parah, jam tidur kami makin kacau, saya dan suami jadi insomnia akut. Berhari-hari kami tidak bisa tidur, padahal jam sudah menunjukkan pukul 02.30 pagi. Tapi otak saya seperti terus berfikir, entah apa yang saya fikirkan. Bangun jadi kesiangan, tidak ada lagi membuat empon-empon di pagi hari (jadi pindah ke sore, bahkan malam hari), workout pun juga tidak ada. Saya juga makin takut ke pasar, bahan makanan sudah habis, mengandalkan go-food, kadang jadi tidak nafsu makan.

Tidak nafsu menggambar digital, tidak nafsu melanjutkan nonton marathon dari list film saya. Yang membantu mood saya terjaga untuk bisa tetap melakukan aktifitas rumah tangga ya dengar lagu favorit. Tapi itu tidak membuat saya merasa saya sudah baik-baik saja. 

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa yang membedakan #dirumahaja waktu sebelum pandemi Covid-19 dan sekarang?

Saya baru sadar, kegiatan saya berbelanja ke pasar yang hampir setiap hari itu bisa membangun mood saya seharian. Walaupun saya introvert, saya butuh menghirup udara luar rumah di pagi hari untuk melakukan semua aktifitas rumah tangga. Memikirkan akan belanja apa setiap pagi, melihat keramaian dan interaksi jual beli di pasar, ternyata itu membangun mood saya untuk semua aktifitas hari-hari saya. Lalu sekarang, ke pasar menjadi takut dan dibatasi, bahkan disarankan belanja online saja.

Biasanya kami punya tempat pelarian ketika saya dan suami sudah jenuh di rumah seharian, Bxchange Mall. Kadang hanya untuk mencari makan malam, atau sekedar untuk membeli madu di Farmers Market, atau membeli Sour Sally, atau memesan wedang ronde di Imperial Dimsum Kitchen, atau sekedar window shopping. Kami selalu mencari udara luar rumah malam hari untuk melepas kepenatan siang hari di rumah. Tapi sekarang, kami harus tetap di rumah walau sudah sangat bosan rasanya.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa yang membuat saya resah akhir-akhir ini?

Saya sedih sekali, kemungkinan besar @singanddo.co tidak akan menjual hampers lebaran tahun ini, padahal saya sudah merencanakannya dari tahun lalu. Saya sedih sekali, @lucude belum bisa mengeluarkan produk baru dalam waktu dekat. Tentu saja kesedihan ini bukan saya saja yang merasakan, semua orang yang punya usaha, pekerja, ojek online, pedagang, semuanya pasti terpukul. Ternyata memang manusia hanya bisa berencana, Allah lah yang menentukan.

Saya khawatir sekali, orang tua saya di Padang, Abang saya dan istrinya di Padang, Cece saya dan suaminya di Jakarta, Uda saya dan istrinya di Lampung, mereka juga hanya berdua saja di rumah. Saya khawatir sekali, Covid-19 sangat berbahaya untuk orang tua, saya khawatir sekali, semoga orang tua saya, mertua saya, seluruh orang tua di dunia ini baik-baik saja.

Saya sedih sekali, melihat banyaknya tenaga medis yang gugur karena kurangnya APD saat merawat pasien Covid-19.

Saya sedih sekali, setiap hari semakin bertambah korban Covid-19 di Indonesia yang meninggal.

Saya sedih sekali, mendengar orang-orang yang saya kenal tiba-tiba meninggal.

Saya sedih sekali, membaca dan melihat proses pemakaman korban Covid-19.

Saya khawatir sekali, Ramadhan dan Idul Fitri masih dipenuhi kekhawatiran pandemi ini.

Saya khawatir sekali, tiba-tiba saya atau suami saya tidak terbangun lagi setelah tidur.

Begitu banyak kekhawatiran dan kesedihan yang ternyata tidak saya sadari sebelum mengetik tulisan ini. Tiba-tiba saya menangis setelah mengetik ini, sesak di dada saya sedikit berkurang. Saya berharap, setelah menuangkan beban fikiran ini, bisa kembali memperbaiki jam tidur saya, juga mood saya.

Semoga pandemi ini segera berakhir, dan kita semua bisa bepergian keluar rumah tanpa ada rasa khawatir lagi. Aamiin.


-SR-

Insomnia

Sunday, March 29, 2020

Sejak Pemerintah mengumumkan untuk social distancing atau self isolation, saya dan suami mengikuti kebijakan itu dengan tetap #dirumahaja. Berharap tidak tertular, atau menjadi carrier untuk orang lain, ya kita tidak tau kan, karena banyak yang positif tanpa mengalami gejala, pokoknya #dirumahaja.

Awalnya saya tidak apa-apa, karena memang saya adalah stay at home wife, suami pun freelancer, jadi memang lebih sering di rumah, jadi sepertinya #dirumahaja itu tidak akan terasa berat untuk saya, apalagi saya introvert, rumah adalah tempat ternyaman.

Minggu pertama, masih seperti biasa, saya masih ke tukang sayur langganan dan ke pasar komplek rumah membeli bahan makanan untuk beberapa hari ke depan. Masih nafsu makan, masih bisa tidur (tapi sebelumnya jam tidur saya dan suami memang agak kemalaman ya, jam 11 atau 12 malam bahkan lewat jam 12 kami baru tertidur). Tapi saya masih bisa bangun pagi, membuang sampah, menyiapkan sarapan, membuat empon-empon, jam 11/12 nya masak, makan siang, bersih bersih, yaa seperti kehidupan saya sebelum Covid-19 datang. Bahkan ada kegiatan tambahan, kami workout bersama di rumah selama 10-15 menit.

Saya masih bisa melanjutkan cita-cita saya, seperti belajar menggambar digital, mendekor rumah, memilah sampah, mengompos, membeli tanaman baru, tentu saja saya masih happy dan mood. Di minggu pertama juga, saya masih terasa baik-baik saja, saya masih bisa tertawa nonton Running Man, masih mood nonton film, saya sudah nonton The Flu (youtube), Silenced (viu), Kim Ji-Young Born 1982 (viu), dan A Taxi Driver (viu). Bahkan sudah punya beberapa list film korea lainnya yang akan saya tonton selanjutnya.

Tiba-tiba memasuki minggu kedua #dirumahaja, saya merasa tidak semangat, seperti kehilangan arah, bosan. Yang sangat parah, jam tidur kami makin kacau, saya dan suami jadi insomnia akut. Berhari-hari kami tidak bisa tidur, padahal jam sudah menunjukkan pukul 02.30 pagi. Tapi otak saya seperti terus berfikir, entah apa yang saya fikirkan. Bangun jadi kesiangan, tidak ada lagi membuat empon-empon di pagi hari (jadi pindah ke sore, bahkan malam hari), workout pun juga tidak ada. Saya juga makin takut ke pasar, bahan makanan sudah habis, mengandalkan go-food, kadang jadi tidak nafsu makan.

Tidak nafsu menggambar digital, tidak nafsu melanjutkan nonton marathon dari list film saya. Yang membantu mood saya terjaga untuk bisa tetap melakukan aktifitas rumah tangga ya dengar lagu favorit. Tapi itu tidak membuat saya merasa saya sudah baik-baik saja. 

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa yang membedakan #dirumahaja waktu sebelum pandemi Covid-19 dan sekarang?

Saya baru sadar, kegiatan saya berbelanja ke pasar yang hampir setiap hari itu bisa membangun mood saya seharian. Walaupun saya introvert, saya butuh menghirup udara luar rumah di pagi hari untuk melakukan semua aktifitas rumah tangga. Memikirkan akan belanja apa setiap pagi, melihat keramaian dan interaksi jual beli di pasar, ternyata itu membangun mood saya untuk semua aktifitas hari-hari saya. Lalu sekarang, ke pasar menjadi takut dan dibatasi, bahkan disarankan belanja online saja.

Biasanya kami punya tempat pelarian ketika saya dan suami sudah jenuh di rumah seharian, Bxchange Mall. Kadang hanya untuk mencari makan malam, atau sekedar untuk membeli madu di Farmers Market, atau membeli Sour Sally, atau memesan wedang ronde di Imperial Dimsum Kitchen, atau sekedar window shopping. Kami selalu mencari udara luar rumah malam hari untuk melepas kepenatan siang hari di rumah. Tapi sekarang, kami harus tetap di rumah walau sudah sangat bosan rasanya.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa yang membuat saya resah akhir-akhir ini?

Saya sedih sekali, kemungkinan besar @singanddo.co tidak akan menjual hampers lebaran tahun ini, padahal saya sudah merencanakannya dari tahun lalu. Saya sedih sekali, @lucude belum bisa mengeluarkan produk baru dalam waktu dekat. Tentu saja kesedihan ini bukan saya saja yang merasakan, semua orang yang punya usaha, pekerja, ojek online, pedagang, semuanya pasti terpukul. Ternyata memang manusia hanya bisa berencana, Allah lah yang menentukan.

Saya khawatir sekali, orang tua saya di Padang, Abang saya dan istrinya di Padang, Cece saya dan suaminya di Jakarta, Uda saya dan istrinya di Lampung, mereka juga hanya berdua saja di rumah. Saya khawatir sekali, Covid-19 sangat berbahaya untuk orang tua, saya khawatir sekali, semoga orang tua saya, mertua saya, seluruh orang tua di dunia ini baik-baik saja.

Saya sedih sekali, melihat banyaknya tenaga medis yang gugur karena kurangnya APD saat merawat pasien Covid-19.

Saya sedih sekali, setiap hari semakin bertambah korban Covid-19 di Indonesia yang meninggal.

Saya sedih sekali, mendengar orang-orang yang saya kenal tiba-tiba meninggal.

Saya sedih sekali, membaca dan melihat proses pemakaman korban Covid-19.

Saya khawatir sekali, Ramadhan dan Idul Fitri masih dipenuhi kekhawatiran pandemi ini.

Saya khawatir sekali, tiba-tiba saya atau suami saya tidak terbangun lagi setelah tidur.

Begitu banyak kekhawatiran dan kesedihan yang ternyata tidak saya sadari sebelum mengetik tulisan ini. Tiba-tiba saya menangis setelah mengetik ini, sesak di dada saya sedikit berkurang. Saya berharap, setelah menuangkan beban fikiran ini, bisa kembali memperbaiki jam tidur saya, juga mood saya.

Semoga pandemi ini segera berakhir, dan kita semua bisa bepergian keluar rumah tanpa ada rasa khawatir lagi. Aamiin.


-SR-
Semua orang punya pikirannya masing-masing. Tentang apa saja, pekerjaan, orang yang dicintai, kampung halaman, dan lain-lain. Mungkin juga ada yang tidak suka terlalu bawa pikiran, mungkin. Karena setiap pikiran hanya diri kita sendiri yang mengetahui. Begitu juga saya, semalam banyak sekali yang saya pikirkan, hingga susah sekali untuk tidur.

Hari ini saya ingin me time, dan terima kasih pada suami sudah mengizinkan. Saya merasa sangat nyaman di tengah keramaian Starbucks, hanya ada saya dan pikiran saya. Sebelumnya tidak pernah saya merasa senyaman ini sendirian di keramaian. Saya bisa membuat list yang ingin saya lakukan. Menuangkan semua yang saya pikirkan semalam ke dalam planner saya. Menulis resep masakan yang ingin saya masak. Menulis blog. Mencari inspirasi. Membaca. Rileks, nyaman, dengan segelas signature chocolate favorit saya.

Once more, thank you so much Hubby ❤️


Jakarta,
Suci Ramdasari

Saya dan Pikiran

Friday, October 12, 2018

Semua orang punya pikirannya masing-masing. Tentang apa saja, pekerjaan, orang yang dicintai, kampung halaman, dan lain-lain. Mungkin juga ada yang tidak suka terlalu bawa pikiran, mungkin. Karena setiap pikiran hanya diri kita sendiri yang mengetahui. Begitu juga saya, semalam banyak sekali yang saya pikirkan, hingga susah sekali untuk tidur.

Hari ini saya ingin me time, dan terima kasih pada suami sudah mengizinkan. Saya merasa sangat nyaman di tengah keramaian Starbucks, hanya ada saya dan pikiran saya. Sebelumnya tidak pernah saya merasa senyaman ini sendirian di keramaian. Saya bisa membuat list yang ingin saya lakukan. Menuangkan semua yang saya pikirkan semalam ke dalam planner saya. Menulis resep masakan yang ingin saya masak. Menulis blog. Mencari inspirasi. Membaca. Rileks, nyaman, dengan segelas signature chocolate favorit saya.

Once more, thank you so much Hubby ❤️


Jakarta,
Suci Ramdasari
Sebenarnya ide tulisan dengan judul ini sudah terfikirkan oleh saya sejak awal Januari. Tapi ide ini tersendat karena bingung bagaimana harus mengembangkan judul ini menjadi paragraf. Lalu Sabtu kemaren saya diajak Tisa ikut bookasession yang diadakan oleh @bookabukucom yang langsung saya iyakan karena pertama free, kedua karena bosan Sabtu di kosan terus. Dari sesi tersebut saya mendapatkan tambahan insprasi untuk pengembangan judul ini menjadi paragraf.

Topik dari sesi itu adalah passion and perseverance. Dimana passion itu sepertinya sudah agak lama saya lupakan. Sebenarnya passion itu apa sih? Saya sendiri belum mengetahuinya dengan pasti. Tapi yang pasti menurut kacamata saya yang sangat awam, passion itu hanya profesi. Orang-orang yang sudah mengetahui passionnya, pasti sangat bergairah agar passion itu bisa menjadi profesi. Bahkan ada quotenya "pekerjaan yang paling enak adalah hobi yang dibayar". Dan passion, sepertinya sangat berpengaruh untuk judul ini.

/ker.ja/n sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah, mata pencaharian (KBBI). Empat tahun lalu, saya mengklaim pada orang tua saya, saya tidak ingin bekerja pada orang lain, saya inginnya jadi pengusaha. Namun nyatanya saat ini, saya bekerja untuk orang lain, saya bekerja untuk membantu mewujudkan mimpi orang lain. Empat tahun lalu, saya berfikir bahwa orang yang bekerja untuk orang lain itu tidak keren. Namun nyatanya saat ini, saya menikmati saja bekerja untuk orang lain. Saya menyadari, pikiran saya empat tahun lalu itu sangat salah, tidak ada yang salah dengan kerja bukan? Selama itu halal dan tidak membebani dirinya sendiri, bahkan sebenarnya kerja itu harus. Karena kita membutuhkan uang untuk bertahan hidup, salah satu caranya ya kerja. Dan mungkin saja kerja untuk beberapa orang menjadi passionnya. Saat ini saya menyadari, mereka yang bekerja dengan posisi dan gaji yang tinggi itu juga keren. Pasti untuk mendapatkan itu, mereka butuh proses yang tidak sebentar juga.

/usa.ha/n kegiatan di bidang perdagangan (dengan maksud mencari untung) (KBBI). Apakah semua orang yang membuka usaha menjadi pengusaha? Tidak. Tapi semua orang bisa memulai untuk membuka usaha, selama punya modal dan niat, ya bisa-bisa saja. Orang yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan pada orang lain, pasti mencoba untuk berjualan. Atau yang sudah bosan bekerja di kantor mikirnya "bagusnya buka usaha apa ya?". Tapi semua yang bisa membuka usaha, tidak akan semuanya juga bisa menjadi pengusaha. Mereka yang bisa berinovasi, yang berani mengambil resiko, dan mengembangkan usahanya itulah pengusaha. Mungkin juga menjadi pengusaha itu adalah passionnya, sehingga mereka bisa.

/kar.ya/n 1. pekerjaan; 2. hasil perbuatan, buatan, ciptaan (KBBI). Sebenarnya menurut saya, orang yang paling keren itu adalah orang yang bisa meng-uang-kan karyanya. Seperti yang saya tulis di paragraf dua, mungkin ini yang dimaksud hobi yang dibayar. Tapi sesungguhnya, yang tidak kita ketahui, jalan berliku dan terjal seperti apa yang mereka lalui untuk bisa seperti itu. Mungkin karena alasan itulah mengapa orang-orang ini saya anggap sangat keren. Mereka sanggup mengambil keputusan dan tindakan untuk menghasilkan karya yang mereka inginkan, meninggalkan pekerjaan, lalu bahagia.

Orang yang bekerja pada orang lain dengan posisi dan gaji yang tinggi, sesungguhnya mereka punya beban dan tanggung jawab yang sangat tinggi. Orang yang bekerja dengan posisi yang bisa dianggap rendah atau pedagang kaki lima, mereka tetap semangat untuk tetap bekerja karena mereka harus makan dan menghidupi keluarga mereka. Seorang pengusaha, atau seorang yang berkarya, mungkin butuh waktu yang lama, konflik yang rumit, proses yang tidak mudah dan berliku hingga mereka bisa dikenal. Seperti quote yang saya lupa saya dapatkan darimana "tidak perlu iri pada rezeki orang lain, kamu tidak tau apa yang telah diambil darinya". Sekarang menurut saya, apapun pekerjaannya, apapun yang mereka jual, siapapun yang berani membuat karya. Menurut saya, mereka semua keren.


xoxo,
uciramda

Bicara Tentang Kerja, Pengusaha, dan Karya

Sunday, January 28, 2018

Sebenarnya ide tulisan dengan judul ini sudah terfikirkan oleh saya sejak awal Januari. Tapi ide ini tersendat karena bingung bagaimana harus mengembangkan judul ini menjadi paragraf. Lalu Sabtu kemaren saya diajak Tisa ikut bookasession yang diadakan oleh @bookabukucom yang langsung saya iyakan karena pertama free, kedua karena bosan Sabtu di kosan terus. Dari sesi tersebut saya mendapatkan tambahan insprasi untuk pengembangan judul ini menjadi paragraf.

Topik dari sesi itu adalah passion and perseverance. Dimana passion itu sepertinya sudah agak lama saya lupakan. Sebenarnya passion itu apa sih? Saya sendiri belum mengetahuinya dengan pasti. Tapi yang pasti menurut kacamata saya yang sangat awam, passion itu hanya profesi. Orang-orang yang sudah mengetahui passionnya, pasti sangat bergairah agar passion itu bisa menjadi profesi. Bahkan ada quotenya "pekerjaan yang paling enak adalah hobi yang dibayar". Dan passion, sepertinya sangat berpengaruh untuk judul ini.

/ker.ja/n sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah, mata pencaharian (KBBI). Empat tahun lalu, saya mengklaim pada orang tua saya, saya tidak ingin bekerja pada orang lain, saya inginnya jadi pengusaha. Namun nyatanya saat ini, saya bekerja untuk orang lain, saya bekerja untuk membantu mewujudkan mimpi orang lain. Empat tahun lalu, saya berfikir bahwa orang yang bekerja untuk orang lain itu tidak keren. Namun nyatanya saat ini, saya menikmati saja bekerja untuk orang lain. Saya menyadari, pikiran saya empat tahun lalu itu sangat salah, tidak ada yang salah dengan kerja bukan? Selama itu halal dan tidak membebani dirinya sendiri, bahkan sebenarnya kerja itu harus. Karena kita membutuhkan uang untuk bertahan hidup, salah satu caranya ya kerja. Dan mungkin saja kerja untuk beberapa orang menjadi passionnya. Saat ini saya menyadari, mereka yang bekerja dengan posisi dan gaji yang tinggi itu juga keren. Pasti untuk mendapatkan itu, mereka butuh proses yang tidak sebentar juga.

/usa.ha/n kegiatan di bidang perdagangan (dengan maksud mencari untung) (KBBI). Apakah semua orang yang membuka usaha menjadi pengusaha? Tidak. Tapi semua orang bisa memulai untuk membuka usaha, selama punya modal dan niat, ya bisa-bisa saja. Orang yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan pada orang lain, pasti mencoba untuk berjualan. Atau yang sudah bosan bekerja di kantor mikirnya "bagusnya buka usaha apa ya?". Tapi semua yang bisa membuka usaha, tidak akan semuanya juga bisa menjadi pengusaha. Mereka yang bisa berinovasi, yang berani mengambil resiko, dan mengembangkan usahanya itulah pengusaha. Mungkin juga menjadi pengusaha itu adalah passionnya, sehingga mereka bisa.

/kar.ya/n 1. pekerjaan; 2. hasil perbuatan, buatan, ciptaan (KBBI). Sebenarnya menurut saya, orang yang paling keren itu adalah orang yang bisa meng-uang-kan karyanya. Seperti yang saya tulis di paragraf dua, mungkin ini yang dimaksud hobi yang dibayar. Tapi sesungguhnya, yang tidak kita ketahui, jalan berliku dan terjal seperti apa yang mereka lalui untuk bisa seperti itu. Mungkin karena alasan itulah mengapa orang-orang ini saya anggap sangat keren. Mereka sanggup mengambil keputusan dan tindakan untuk menghasilkan karya yang mereka inginkan, meninggalkan pekerjaan, lalu bahagia.

Orang yang bekerja pada orang lain dengan posisi dan gaji yang tinggi, sesungguhnya mereka punya beban dan tanggung jawab yang sangat tinggi. Orang yang bekerja dengan posisi yang bisa dianggap rendah atau pedagang kaki lima, mereka tetap semangat untuk tetap bekerja karena mereka harus makan dan menghidupi keluarga mereka. Seorang pengusaha, atau seorang yang berkarya, mungkin butuh waktu yang lama, konflik yang rumit, proses yang tidak mudah dan berliku hingga mereka bisa dikenal. Seperti quote yang saya lupa saya dapatkan darimana "tidak perlu iri pada rezeki orang lain, kamu tidak tau apa yang telah diambil darinya". Sekarang menurut saya, apapun pekerjaannya, apapun yang mereka jual, siapapun yang berani membuat karya. Menurut saya, mereka semua keren.


xoxo,
uciramda

"It's gonna be okay. No matter what the problem is. It's always nice to hear someone telling you 'it's gonna be okay'. I think it's not about how factual that statement is. But more about hearing what you want to hear when you just need the slightest hope"
-Diana Rikasari-


Sepertinya saya belum pernah cerita tentang seseorang yang nyata yang sangat berpengaruh dalam hidup saya di blog ini. Sebelum 2017 berakhir saya ingin cerita tentang orang yang sangat saya cintai, yang selalu menasehati dan saya rindukan. Dia adalah Femy Dianola, kakak saya, yang saat kecil saya panggil Cece, lalu sudah beranjak besar saya suka mengganti panggilannya sesuka hati saya, menjadi teteh, eseng, dan sekarang gondo. Saat kecil, saya dan Cece lebih sering bertengkar daripada main bersama. Pernah saya memukul dan mendorongnya hingga terjatuh dan benjol, maafkan Ce.

Lalu ketika Cece sudah SMP dan saya masih SD, kami sekamar. Pertengkaran fisik itu sudah tidak ada, tapi ngambekan tetap ada. Walaupun satu kamar dan satu kasur, tapi kalau sudah ngambek, kami tidak akan bertegur sapa, pernah sampai beberapa hari tidak bertegur sapa. Lalu Mama bertanya pada saya, belum ngobrol sama Cece? Saya jawab belum. Dan saya lupa bagaimana akhirnya kami baikan.

Ketika sudah SMA dan kuliah, kami semakin akrab, punya hobi yang sama, cita-cita yang sama, dan sama-sama putus cinta setelah bertahun-tahun pacaran. Kami selalu saling curhat tentang apa saja, tentang pengusaha sukses yang memulai karir dari bawah, tentang buku yang bisa memotivasi, tentang skin care, tentang wanita, tentang patah hati, tentang jatuh cinta, tentang drama korea, tentang running man, segalanya. Bukan berarti tidak pernah marahan lagi, namun karena sudah sedikit lebih dewasa, ketika marahan, kami bisa mengungkapkan kekesalan itu, lalu baikan.

Akhir 2016 ke 2017 adalah hari-hari terberat saya. Saya seperti kehilangan arah, saya kehilangan mental entrepreneur saya, pokoknya saat itu saya seperti seorang yang sangat-sangat kebingungan dan tak tau arah. Hari-hari saya lalui dengan tidur, bangun tidur, makan, dan nonton K-Drama. Kalau kata peribahasa "hidup segan, mati tak mampu". Alhamdulillah saya masih punya Cece, tempat berbagi cerita dan yang menasehati saya. Nasehatnya yang masih saya ingat "kamu ini sudah di usia, kamulah penanggung jawab segala keputusan yang kamu ambil, boleh bertanya pada orang lain, tapi keputusan tetap ditanganmu dan kamulah penanggung jawabnya".

Awal 2017 saya mulai menyelesaikan perasaan yang tersendat itu, saya berusaha bangkit dan memilih merantau ke Jakarta. Tentunya dengan dukungan dari Cece. Ternyata jarak membuat kami saling memberi motivasi dan menasehati. Dan kegalauan saya berlanjut. Nasehat berikutnya adalah "habiskan jatah galaumu". Cece sudah seperti obat penenang bagi saya, dia adalah orang terakhir tempat saya bercerita, dan selalu memberikan energi. Saya merasa lebih beruntung daripada Jonghyun karena masih punya iman dan orang tempat berbagi cerita suka dan duka.

Karena sebenarnya Suci Ramdasari itu adalah seorang yang rapuh dan melankolis. Bukan berarti saya tidak tau cara berdoa pada Yang Maha Kuasa. Tapi saya memang seseorang yang membutuhkan orang lain saat menentukan pilihan. Walaupun memang pilihan itu ada ditangan saya, tapi saya tetap butuh seseorang yang memberikan nasehat agar saya yakin dengan pilihan tersebut. Saya seseorang yang membutuhkan orang lain untuk mengatakan kalau saya bisa dan baik-baik saja. Dan Cece adalah orang yang tepat.

Terima kasih Ce, aku cinta mati sama kamu.


xoxo,
uciramda

My Dear

Monday, December 25, 2017

"It's gonna be okay. No matter what the problem is. It's always nice to hear someone telling you 'it's gonna be okay'. I think it's not about how factual that statement is. But more about hearing what you want to hear when you just need the slightest hope"
-Diana Rikasari-


Sepertinya saya belum pernah cerita tentang seseorang yang nyata yang sangat berpengaruh dalam hidup saya di blog ini. Sebelum 2017 berakhir saya ingin cerita tentang orang yang sangat saya cintai, yang selalu menasehati dan saya rindukan. Dia adalah Femy Dianola, kakak saya, yang saat kecil saya panggil Cece, lalu sudah beranjak besar saya suka mengganti panggilannya sesuka hati saya, menjadi teteh, eseng, dan sekarang gondo. Saat kecil, saya dan Cece lebih sering bertengkar daripada main bersama. Pernah saya memukul dan mendorongnya hingga terjatuh dan benjol, maafkan Ce.

Lalu ketika Cece sudah SMP dan saya masih SD, kami sekamar. Pertengkaran fisik itu sudah tidak ada, tapi ngambekan tetap ada. Walaupun satu kamar dan satu kasur, tapi kalau sudah ngambek, kami tidak akan bertegur sapa, pernah sampai beberapa hari tidak bertegur sapa. Lalu Mama bertanya pada saya, belum ngobrol sama Cece? Saya jawab belum. Dan saya lupa bagaimana akhirnya kami baikan.

Ketika sudah SMA dan kuliah, kami semakin akrab, punya hobi yang sama, cita-cita yang sama, dan sama-sama putus cinta setelah bertahun-tahun pacaran. Kami selalu saling curhat tentang apa saja, tentang pengusaha sukses yang memulai karir dari bawah, tentang buku yang bisa memotivasi, tentang skin care, tentang wanita, tentang patah hati, tentang jatuh cinta, tentang drama korea, tentang running man, segalanya. Bukan berarti tidak pernah marahan lagi, namun karena sudah sedikit lebih dewasa, ketika marahan, kami bisa mengungkapkan kekesalan itu, lalu baikan.

Akhir 2016 ke 2017 adalah hari-hari terberat saya. Saya seperti kehilangan arah, saya kehilangan mental entrepreneur saya, pokoknya saat itu saya seperti seorang yang sangat-sangat kebingungan dan tak tau arah. Hari-hari saya lalui dengan tidur, bangun tidur, makan, dan nonton K-Drama. Kalau kata peribahasa "hidup segan, mati tak mampu". Alhamdulillah saya masih punya Cece, tempat berbagi cerita dan yang menasehati saya. Nasehatnya yang masih saya ingat "kamu ini sudah di usia, kamulah penanggung jawab segala keputusan yang kamu ambil, boleh bertanya pada orang lain, tapi keputusan tetap ditanganmu dan kamulah penanggung jawabnya".

Awal 2017 saya mulai menyelesaikan perasaan yang tersendat itu, saya berusaha bangkit dan memilih merantau ke Jakarta. Tentunya dengan dukungan dari Cece. Ternyata jarak membuat kami saling memberi motivasi dan menasehati. Dan kegalauan saya berlanjut. Nasehat berikutnya adalah "habiskan jatah galaumu". Cece sudah seperti obat penenang bagi saya, dia adalah orang terakhir tempat saya bercerita, dan selalu memberikan energi. Saya merasa lebih beruntung daripada Jonghyun karena masih punya iman dan orang tempat berbagi cerita suka dan duka.

Karena sebenarnya Suci Ramdasari itu adalah seorang yang rapuh dan melankolis. Bukan berarti saya tidak tau cara berdoa pada Yang Maha Kuasa. Tapi saya memang seseorang yang membutuhkan orang lain saat menentukan pilihan. Walaupun memang pilihan itu ada ditangan saya, tapi saya tetap butuh seseorang yang memberikan nasehat agar saya yakin dengan pilihan tersebut. Saya seseorang yang membutuhkan orang lain untuk mengatakan kalau saya bisa dan baik-baik saja. Dan Cece adalah orang yang tepat.

Terima kasih Ce, aku cinta mati sama kamu.


xoxo,
uciramda
Gyeolhone daehayeo
Pernikahan adalah tentang
Joeun sarameul manna
Bertemu dengan orang yang baik
Joeun sarangeul hago
Memiliki cinta yang baik
Joeun jibeul gatneun geot
Dan membeli rumah yang bagus

Because This Is My First Life Ost Part 4 - Marriage by MoonMoon

Sebenarnya, apa arti pernikahan itu? Saya wanita yang sangat ingin menikah. Menurut agama saya, menikah adalah untuk menyempurnakan agama. Awalnya saya pikir hanya saya saja yang terlalu memikirkan pernikahan. Namun, ketika saya bertemu teman wanita yang juga single, mereka juga memiliki pernikahan dan suami impian, saat mereka menjelaskan, seperti tersirat harapan mungkin juga sebuah nama di dalam hati mereka. Keinginan menikah hanya pernah saya dengar dari sudut pandang teman wanita. Saya tidak pernah bertanya atau mendengar cerita pernikahan impian dari sudut pandang teman laki-laki.

Setelah menonton K-Drama Because This Is My First Life, saya mengetahui pandangan beberapa karakter laki-laki di drama tersebut tentang pernikahan. Saya tidak akan membahas tentang pernikahan impian saya, atau membahas alur cerita drama tersebut. Namun, saya akan membahas tentang pernikahan berdasarkan pemahaman yang saya dapatkan setelah menonton drama tersebut. Bukan tentang pernikahan secara agama atau suku budaya. Tapi tentang pernikahan secara rasional.

Nam Se-Hee, tidak ingin menikah, dia hanya ingin hidup dan meninggal bersama kucing peliharaannya dan di rumah yang dia cicil hampir seluruh hidupnya. Lalu Se-Hee memilih menikahi Yoon Ji-Ho karena dia merasa mereka sangat cocok untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing dan merasa nyaman satu sama lain, bukan karena cinta. Namun ternyata, mereka saling jatuh cinta, dan Se-Hee memilih menerima keputusan Ji-Hoo untuk bercerai sebelum dia sempat menyatakan cintanya. Kemudian dia menyadari dia sangat kehilangan sosok wanita yang dicintainya dan sangat merindukannya.

Ma Sang-Goo yang jatuh cinta dengan wanita yang tidak ingin menikah dan tidak ingin kehidupan pribadinya diganggu, Woo Soo-Ji. Tetap sabar, tetap mencintai, tetap menjaga, dan menghibur kekasihnya itu. Dia sangat peduli dan memberi pengertian pada kekasihnya arti pernikahan.

Sim Won-Seok, seseorang yang sudah berpacaran selama 7 tahun dan sangat mencintai kekasihnya, Yang Ho-Rang. Merasa belum siap menikahi kekasihnya. Sementara Ho-Rang sangat ingin menikah, dan Won-Seok merasa terbebani dengan impian kekasihnya itu. Menurut Won-Seok, pernikahan dan cinta adalah dua hal yang berbeda. Kemudian dia memilih berpisah dengan Ho-Rang, karena walaupun dia sangat mencintai Ho-Rang, dia tidak percaya diri bisa membahagiakan kekasihnya. Dia merasa terbebani karena harus merelakan impiannya.

Sebelum episode terakhir release, saya setuju dengan statement Won-Seok bahwa pernikahan dan cinta itu adalah dua hal yang berbeda. Pernikahan bukan tentang betapa aku mencintaimu, tetapi tentang bertemu orang yang tepat di waktu yang tepat. Karena walaupun saya mencintai seseorang, mungkin orang tersebut belum tentu ingin menikahi saya. Mengapa orang yang pacaran 7 tahun harus menyatakan siap menikah setelah pacaran 7 tahun? Bahkan jika mereka tidak pacaran 7 tahun pun, jika mereka memang berjodoh, pasti akan bertemu di waktu tepat dengan cara yang tak pernah mereka sangka. Itulah mengapa saya mengatakan bahwa pernikahan itu tentang bertemu orang yang tepat di waktu yang tepat.

Kemudian, setelah menonton dua episode terakhir. Saya mengubah pemahaman statement di atas. Nam Se-Hee yang merasa sangat kehilangan Ji-Ho menjual rumahnya karena berpikir tidak akan bisa bersama Ji-Ho lagi. Won-Seok yang menolak wanita yang memilihnya karena merasa pikiran dan hatinya masih untuk orang yang sama, Ho-Rang. Soo-Ji yang akhirnya mulai terbuka tentang kehidupan pribadinya dengan Song-Goo karena merasa nyaman dan dicintai.

Lalu, inilah kesimpulan saya, bahwa pernikahan itu ada karena aku mencintaimu. Karena aku mencintaimu, aku ingin hidup bersamamu. Ini adalah alasan paling rasional mengapa dua orang manusia menikah. Apapun agamanya, apapun suku dan budayanya. Seorang laki-laki akan menikahi wanita karena:
"Aku senang melihatmu tersenyum"
"Aku ingin membuatmu bahagia"
"Aku tidak bisa hidup tanpamu"

Karena jika bukan alasan rasional ini, suatu pernikahan tidak akan bisa bertahan. Mencintai seseorang bukan berarti tidak membencinya, hanya saja tak bisa. Mengapa harus pacaran 7 tahun dulu baru siap menikah? Karena seorang laki-laki butuh waktu, mental, juga materi untuk menyatakan bahwa dirinya bisa membahagiakan wanita yang dicintainya. Bahkan jika dia sangat mencintaimu, dia masih butuh waktu yang tepat untuk menyatakan ingin hidup bersamamu. Geothe mengatakan, tidak ada hal yang lebih fundamental berdasarkan kebahagiaan, kecuali pernikahan.


xoxo,
uciramda

Marriage

Saturday, December 2, 2017

Gyeolhone daehayeo
Pernikahan adalah tentang
Joeun sarameul manna
Bertemu dengan orang yang baik
Joeun sarangeul hago
Memiliki cinta yang baik
Joeun jibeul gatneun geot
Dan membeli rumah yang bagus

Because This Is My First Life Ost Part 4 - Marriage by MoonMoon

Sebenarnya, apa arti pernikahan itu? Saya wanita yang sangat ingin menikah. Menurut agama saya, menikah adalah untuk menyempurnakan agama. Awalnya saya pikir hanya saya saja yang terlalu memikirkan pernikahan. Namun, ketika saya bertemu teman wanita yang juga single, mereka juga memiliki pernikahan dan suami impian, saat mereka menjelaskan, seperti tersirat harapan mungkin juga sebuah nama di dalam hati mereka. Keinginan menikah hanya pernah saya dengar dari sudut pandang teman wanita. Saya tidak pernah bertanya atau mendengar cerita pernikahan impian dari sudut pandang teman laki-laki.

Setelah menonton K-Drama Because This Is My First Life, saya mengetahui pandangan beberapa karakter laki-laki di drama tersebut tentang pernikahan. Saya tidak akan membahas tentang pernikahan impian saya, atau membahas alur cerita drama tersebut. Namun, saya akan membahas tentang pernikahan berdasarkan pemahaman yang saya dapatkan setelah menonton drama tersebut. Bukan tentang pernikahan secara agama atau suku budaya. Tapi tentang pernikahan secara rasional.

Nam Se-Hee, tidak ingin menikah, dia hanya ingin hidup dan meninggal bersama kucing peliharaannya dan di rumah yang dia cicil hampir seluruh hidupnya. Lalu Se-Hee memilih menikahi Yoon Ji-Ho karena dia merasa mereka sangat cocok untuk memenuhi kebutuhan hidup masing-masing dan merasa nyaman satu sama lain, bukan karena cinta. Namun ternyata, mereka saling jatuh cinta, dan Se-Hee memilih menerima keputusan Ji-Hoo untuk bercerai sebelum dia sempat menyatakan cintanya. Kemudian dia menyadari dia sangat kehilangan sosok wanita yang dicintainya dan sangat merindukannya.

Ma Sang-Goo yang jatuh cinta dengan wanita yang tidak ingin menikah dan tidak ingin kehidupan pribadinya diganggu, Woo Soo-Ji. Tetap sabar, tetap mencintai, tetap menjaga, dan menghibur kekasihnya itu. Dia sangat peduli dan memberi pengertian pada kekasihnya arti pernikahan.

Sim Won-Seok, seseorang yang sudah berpacaran selama 7 tahun dan sangat mencintai kekasihnya, Yang Ho-Rang. Merasa belum siap menikahi kekasihnya. Sementara Ho-Rang sangat ingin menikah, dan Won-Seok merasa terbebani dengan impian kekasihnya itu. Menurut Won-Seok, pernikahan dan cinta adalah dua hal yang berbeda. Kemudian dia memilih berpisah dengan Ho-Rang, karena walaupun dia sangat mencintai Ho-Rang, dia tidak percaya diri bisa membahagiakan kekasihnya. Dia merasa terbebani karena harus merelakan impiannya.

Sebelum episode terakhir release, saya setuju dengan statement Won-Seok bahwa pernikahan dan cinta itu adalah dua hal yang berbeda. Pernikahan bukan tentang betapa aku mencintaimu, tetapi tentang bertemu orang yang tepat di waktu yang tepat. Karena walaupun saya mencintai seseorang, mungkin orang tersebut belum tentu ingin menikahi saya. Mengapa orang yang pacaran 7 tahun harus menyatakan siap menikah setelah pacaran 7 tahun? Bahkan jika mereka tidak pacaran 7 tahun pun, jika mereka memang berjodoh, pasti akan bertemu di waktu tepat dengan cara yang tak pernah mereka sangka. Itulah mengapa saya mengatakan bahwa pernikahan itu tentang bertemu orang yang tepat di waktu yang tepat.

Kemudian, setelah menonton dua episode terakhir. Saya mengubah pemahaman statement di atas. Nam Se-Hee yang merasa sangat kehilangan Ji-Ho menjual rumahnya karena berpikir tidak akan bisa bersama Ji-Ho lagi. Won-Seok yang menolak wanita yang memilihnya karena merasa pikiran dan hatinya masih untuk orang yang sama, Ho-Rang. Soo-Ji yang akhirnya mulai terbuka tentang kehidupan pribadinya dengan Song-Goo karena merasa nyaman dan dicintai.

Lalu, inilah kesimpulan saya, bahwa pernikahan itu ada karena aku mencintaimu. Karena aku mencintaimu, aku ingin hidup bersamamu. Ini adalah alasan paling rasional mengapa dua orang manusia menikah. Apapun agamanya, apapun suku dan budayanya. Seorang laki-laki akan menikahi wanita karena:
"Aku senang melihatmu tersenyum"
"Aku ingin membuatmu bahagia"
"Aku tidak bisa hidup tanpamu"

Karena jika bukan alasan rasional ini, suatu pernikahan tidak akan bisa bertahan. Mencintai seseorang bukan berarti tidak membencinya, hanya saja tak bisa. Mengapa harus pacaran 7 tahun dulu baru siap menikah? Karena seorang laki-laki butuh waktu, mental, juga materi untuk menyatakan bahwa dirinya bisa membahagiakan wanita yang dicintainya. Bahkan jika dia sangat mencintaimu, dia masih butuh waktu yang tepat untuk menyatakan ingin hidup bersamamu. Geothe mengatakan, tidak ada hal yang lebih fundamental berdasarkan kebahagiaan, kecuali pernikahan.


xoxo,
uciramda


Manusia...
Manusia makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Mereka punya akal dan fikiran. Sebagai manusia yang berakal, kecenderungan mereka tetaplah salah dan khilaf. Manusia sering khilaf bahwa pencipta mereka adalah Allah SWT, banyak yang lupa bersyukur dan merasa paling berkuasa. Banyak juga yang sadar melakukan kesalahan, lalu gengsi untuk meminta maaf pada sesama mereka. Terkadang mereka juga suka menilai bahwa orang lain selalu salah, dan dia selalu benar. Tanpa kita (manusia) sadari bahwa setiap kita punya salah dan dosa. Yang sebenarnya bukan tugas kita untuk menghitung dan menghakimi dosa orang lain. Tetaplah jadi pendosa yang tau diri.

Mohon maaf lahir bathin, selamat libur lebaran yang hampir berakhir.


-uciramda-

Manusia

Thursday, June 29, 2017


Manusia...
Manusia makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Mereka punya akal dan fikiran. Sebagai manusia yang berakal, kecenderungan mereka tetaplah salah dan khilaf. Manusia sering khilaf bahwa pencipta mereka adalah Allah SWT, banyak yang lupa bersyukur dan merasa paling berkuasa. Banyak juga yang sadar melakukan kesalahan, lalu gengsi untuk meminta maaf pada sesama mereka. Terkadang mereka juga suka menilai bahwa orang lain selalu salah, dan dia selalu benar. Tanpa kita (manusia) sadari bahwa setiap kita punya salah dan dosa. Yang sebenarnya bukan tugas kita untuk menghitung dan menghakimi dosa orang lain. Tetaplah jadi pendosa yang tau diri.

Mohon maaf lahir bathin, selamat libur lebaran yang hampir berakhir.


-uciramda-
Sudah pernah dengar atau baca kisah Sir Edmund Hillary si penakluk puncak gunung Everest dan Tenzing Norgay si pemandunya belum? Saya baru dengar kisahnya beberapa hari yang lalu dari seorang pemateri training.

Sir Edmund Hillary adalah seseorang yang bermimpi ingin menjadi orang pertama yang akan menginjakkan kakinya di puncak Gunung Everest. Dia ingin mewujudkan mimpinya dan mengajak Tenzing Norgay yang tinggal di dekat Gunung Everest untuk menjadi pemandunya. Akhirnya Sir Edmund Hillary bisa mencapai puncak Gunung Everest dan menancapkan bendera kebangsaannya disana. Setelah mereka turun, banyak wartawan yang menanti mereka, sebagian besar wartawan terfokus pada Sir Edmund Hillary, dan ada satu wartawan yang bertanya pada Tenzing Norgay "Mengapa bukan anda yang disebut sebagai orang pertama? Karena tentunya sebagai pemandu anda pasti berjalan di depan". Tenzing Norgay menjawab "Sebelum beberapa langkah menuju puncak Gunung Everest, saya mempersilahkan Edmund Hillary untuk jalan di depan. Karena itu adalah impian Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih impiannya".

Lalu yang bisa diambil dari kisah ini apa?

Bahwa untuk bisa menggapai suatu impian, pasti kita membutuhkan dukungan dari orang lain. Seperti Tenzing Norgay yang berarti orang yang ada dibalik kesuksesan orang lain. Setiap kita (manusia), sederhananya saja pasti sudah menjadi Tenzing Norgaynya orang tua kita.

Ketika sudah dewasa, sudah bisa bermimpi, lalu siapakah yang menjadi Tenzing Norgay kita? Orang tua, teman, sahabat, atau kekasih? Ingatlah, bahwa selalu ada dukungan dari orang disekitar kita mengapa kita harus tetap berjuang.


-uciramda-

Tenzing Norgay

Saturday, April 15, 2017

Sudah pernah dengar atau baca kisah Sir Edmund Hillary si penakluk puncak gunung Everest dan Tenzing Norgay si pemandunya belum? Saya baru dengar kisahnya beberapa hari yang lalu dari seorang pemateri training.

Sir Edmund Hillary adalah seseorang yang bermimpi ingin menjadi orang pertama yang akan menginjakkan kakinya di puncak Gunung Everest. Dia ingin mewujudkan mimpinya dan mengajak Tenzing Norgay yang tinggal di dekat Gunung Everest untuk menjadi pemandunya. Akhirnya Sir Edmund Hillary bisa mencapai puncak Gunung Everest dan menancapkan bendera kebangsaannya disana. Setelah mereka turun, banyak wartawan yang menanti mereka, sebagian besar wartawan terfokus pada Sir Edmund Hillary, dan ada satu wartawan yang bertanya pada Tenzing Norgay "Mengapa bukan anda yang disebut sebagai orang pertama? Karena tentunya sebagai pemandu anda pasti berjalan di depan". Tenzing Norgay menjawab "Sebelum beberapa langkah menuju puncak Gunung Everest, saya mempersilahkan Edmund Hillary untuk jalan di depan. Karena itu adalah impian Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih impiannya".

Lalu yang bisa diambil dari kisah ini apa?

Bahwa untuk bisa menggapai suatu impian, pasti kita membutuhkan dukungan dari orang lain. Seperti Tenzing Norgay yang berarti orang yang ada dibalik kesuksesan orang lain. Setiap kita (manusia), sederhananya saja pasti sudah menjadi Tenzing Norgaynya orang tua kita.

Ketika sudah dewasa, sudah bisa bermimpi, lalu siapakah yang menjadi Tenzing Norgay kita? Orang tua, teman, sahabat, atau kekasih? Ingatlah, bahwa selalu ada dukungan dari orang disekitar kita mengapa kita harus tetap berjuang.


-uciramda-


Ikhlas. Kata sederhana yang sulit untuk dilaksanakan.

Beberapa hari yang lalu, saya di chat oleh teman kuliah saya, Andi. Katanya dia sedang suntuk, singkat cerita, saya menyebutkan ciri ciri calon jodoh yang saya doakan. Andi membalas "Kasihan dong kalau jodoh yang datang nggak seperti itu". Tanpa pikir panjang saya spontan membalas "Harapannya begitu, tapi kalau jodohnya beda yaa sabar aja. Kadang kenyataan tak sesuai harapan". "Udah belajar ilmu ikhlas sekarang Ci?", kata Andi. Ketika membaca balasan chatnya, saya terdiam dan berfikir, ternyata saya bisa seikhlas itu. 

Seketika itu juga saya teringat tentang Ustad yang mengajarkan Alif di buku Negeri 5 Menara, bahwa ikhlas itu perlu untuk di ucapkan 'saya ikhlas'. Meski sebenarnya hati kita tidak ikhlas, tetapi ketika kita coba untuk menyebutkannya. Ternyata itu bisa menenangkan hati kita. Begitulah yang diajarkan oleh Ustad kepada Alif. 

Saya berharap, di kehidupan saya yang sekarang, saya bisa lebih ikhlas. Ketika kenyataan tak sesuai dengan yang saya harapkan. Saya bisa mengatakan "saya ikhlas dengan apa yang Allah tentukan untuk hidup saya".


-uciramda-

Ikhlas

Thursday, March 9, 2017


Ikhlas. Kata sederhana yang sulit untuk dilaksanakan.

Beberapa hari yang lalu, saya di chat oleh teman kuliah saya, Andi. Katanya dia sedang suntuk, singkat cerita, saya menyebutkan ciri ciri calon jodoh yang saya doakan. Andi membalas "Kasihan dong kalau jodoh yang datang nggak seperti itu". Tanpa pikir panjang saya spontan membalas "Harapannya begitu, tapi kalau jodohnya beda yaa sabar aja. Kadang kenyataan tak sesuai harapan". "Udah belajar ilmu ikhlas sekarang Ci?", kata Andi. Ketika membaca balasan chatnya, saya terdiam dan berfikir, ternyata saya bisa seikhlas itu. 

Seketika itu juga saya teringat tentang Ustad yang mengajarkan Alif di buku Negeri 5 Menara, bahwa ikhlas itu perlu untuk di ucapkan 'saya ikhlas'. Meski sebenarnya hati kita tidak ikhlas, tetapi ketika kita coba untuk menyebutkannya. Ternyata itu bisa menenangkan hati kita. Begitulah yang diajarkan oleh Ustad kepada Alif. 

Saya berharap, di kehidupan saya yang sekarang, saya bisa lebih ikhlas. Ketika kenyataan tak sesuai dengan yang saya harapkan. Saya bisa mengatakan "saya ikhlas dengan apa yang Allah tentukan untuk hidup saya".


-uciramda-
2016 segera berakhir. Hmm rasanya waktu terlalu cepat berlalu. Resolusi apa yang sudah tercapai di tahun ini? Atau masih banyak resolusi yang harus dilanjutkan di tahun 2017? Resolusi 2016 ku? Hmmm

Alhamdulillah tahun ini aku menyelesaikan pendidikan S1 ku (baca ini).

Setelah wisuda, lanjut bisnis atau kerja? Tidak ada diantara dua pilihan itu yang terlaksana dengan baik. Aku ingin keduanya, tapi nggak mungkin. Aku harus memutuskan pilihanku, dan jawabannya ada di tahun 2017. InsyaAllah.

3 bulan terakhir di 2016 aku ke jakarta untuk merantau, yeay kesampaian juga (baca ini). Walaupun nggak seperti yang aku harapkan, tetapi aku bahagia bisa mencicipi rasanya jadi anak kos, rasanya rindu keluarga dan rumah, rasanya rindu masakan mama, rasa hidup sendiri di negeri orang, harus mandiri, harus kuat. Yaaa, aku bahagia Allah dan orang tua ku memberikan kesempatan langka ini.

Cinta? Hmm masih dalam pencarian, masih dalam do'a, masih dalam do'a orang lain, masih saling mendo'akan, masih di waktu yang belum tepat, atau masih di keadaan yang belum siap. Mungkin masih begitu, atau mungkin caraku yang mencintai Allah yang belum tepat. Who's know? Cinta layak dijadiin resolusi nggak ya?

2016 berlalu begitu cepat, tidak banyak yang bisa ku capai. Semoga tahun 2017 bisa menjadi lebih baik, semoga impian dan cita cita ku bisa tercapai di tahun 2017. Aamiin. 


-uciramda-

Goodbye 2016

Saturday, December 31, 2016

2016 segera berakhir. Hmm rasanya waktu terlalu cepat berlalu. Resolusi apa yang sudah tercapai di tahun ini? Atau masih banyak resolusi yang harus dilanjutkan di tahun 2017? Resolusi 2016 ku? Hmmm

Alhamdulillah tahun ini aku menyelesaikan pendidikan S1 ku (baca ini).

Setelah wisuda, lanjut bisnis atau kerja? Tidak ada diantara dua pilihan itu yang terlaksana dengan baik. Aku ingin keduanya, tapi nggak mungkin. Aku harus memutuskan pilihanku, dan jawabannya ada di tahun 2017. InsyaAllah.

3 bulan terakhir di 2016 aku ke jakarta untuk merantau, yeay kesampaian juga (baca ini). Walaupun nggak seperti yang aku harapkan, tetapi aku bahagia bisa mencicipi rasanya jadi anak kos, rasanya rindu keluarga dan rumah, rasanya rindu masakan mama, rasa hidup sendiri di negeri orang, harus mandiri, harus kuat. Yaaa, aku bahagia Allah dan orang tua ku memberikan kesempatan langka ini.

Cinta? Hmm masih dalam pencarian, masih dalam do'a, masih dalam do'a orang lain, masih saling mendo'akan, masih di waktu yang belum tepat, atau masih di keadaan yang belum siap. Mungkin masih begitu, atau mungkin caraku yang mencintai Allah yang belum tepat. Who's know? Cinta layak dijadiin resolusi nggak ya?

2016 berlalu begitu cepat, tidak banyak yang bisa ku capai. Semoga tahun 2017 bisa menjadi lebih baik, semoga impian dan cita cita ku bisa tercapai di tahun 2017. Aamiin. 


-uciramda-
Sudah nonton K-Drama Reply 1988? Kalau sudah pasti bakal baper (bawa perasaan) banget dengar nama Jung Hwan kan? Iyaaa, cowok nggak romantis yang hanya bisa memendam perasaannya untuk sahabat wanita satu-satunya Deok Sun. Yang akhirnya, dia harus mengikhlaskan cinta pertamanya untuk sahabatnya juga Choi Taek. Daaannnn kalimat bijak Jung Hwan setelah patah hati, kereeennnn bangeet. Ini dia...

"Takdir tidak selalu mendatangimu di setiap waktu. Setidaknya, jika kau ingin memakai istilah takdir itu seharusnya terjadi seringkali di saat-saat paling mendebarkan yang terjadi karena kebetulan. Itulah yang membuatnya disebut takdir. Itulah sebabnya kata lain dari takdir adalah kesempatan.

Pada akhirnya takdir dan waktu tidak terjadi begitu saja, terlepas dari sebab yang kebetulan. Mereka adalah hasil dari ketulusan, pilihan yang sederhana, yang bisa menciptakan kesempatan yang menakjubkan. Bersikap teguh hati, membuat keputusan tanpa keragu raguan, itulah yang membentuk kesempatan. Dia lebih menginginkannya, lebih dari aku. Dan aku seharusnya bisa lebih berani. Itu bukan karena tidak ada kesempatan. Tetapi sering kali karena keragu raguan."

Jung Hwan "Reply 1988" Said

Friday, October 28, 2016

Sudah nonton K-Drama Reply 1988? Kalau sudah pasti bakal baper (bawa perasaan) banget dengar nama Jung Hwan kan? Iyaaa, cowok nggak romantis yang hanya bisa memendam perasaannya untuk sahabat wanita satu-satunya Deok Sun. Yang akhirnya, dia harus mengikhlaskan cinta pertamanya untuk sahabatnya juga Choi Taek. Daaannnn kalimat bijak Jung Hwan setelah patah hati, kereeennnn bangeet. Ini dia...

"Takdir tidak selalu mendatangimu di setiap waktu. Setidaknya, jika kau ingin memakai istilah takdir itu seharusnya terjadi seringkali di saat-saat paling mendebarkan yang terjadi karena kebetulan. Itulah yang membuatnya disebut takdir. Itulah sebabnya kata lain dari takdir adalah kesempatan.

Pada akhirnya takdir dan waktu tidak terjadi begitu saja, terlepas dari sebab yang kebetulan. Mereka adalah hasil dari ketulusan, pilihan yang sederhana, yang bisa menciptakan kesempatan yang menakjubkan. Bersikap teguh hati, membuat keputusan tanpa keragu raguan, itulah yang membentuk kesempatan. Dia lebih menginginkannya, lebih dari aku. Dan aku seharusnya bisa lebih berani. Itu bukan karena tidak ada kesempatan. Tetapi sering kali karena keragu raguan."

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui"
-Al Baqarah: 216-

Dulu waktu masuk jurusan IPA di SMA, aku punya cita-cita ingin jadi dokter gigi. Namun ternyata hasil SNMPTN aku lulus di Teknik Pertanian Universitas Andalas. Waktu itu sempat malas dan tidak ingin melanjutkan di jurusan itu. Tapi aku bertahan dan hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah aku mulai tanpa berfikir bahwa itu adalah pilihan terbaik yang Allah berikan kepadaku. Beberapa minggu yang lalu, gigiku sakit. Singkat cerita aku dibantu oleh sahabatku Bulan untuk menambal gigiku. Dia sedang koas dokter gigi di Baiturrahmah Padang. Karena dulu sempat bercita-cita ingin menjadi dokter gigi, aku cukup excited sampai di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Baiturrahmah Padang. Aku banyak bertanya tentang studinya yang sedang koas dan Bulan pun menceritakannya dengan senang hati, karena dia juga tau dulu aku ingin menjadi dokter gigi.

Setelah sempat dua kali mondar-mandir di kehidupan mahasiswa koas dokter gigi. Aku menyadari bahwa "ternyata tempatku memang bukan disana, ternyata Allah sudah mengatur hidupku sesuai kemampuanku, aku sadar aku tidak sanggup berada di kedokteran gigi baik secara finansial maupun ilmu pengetahuanku waktu itu. Kalau misalkan aku lulus, lalu orang tuaku akan bayar dengan apa alat-alat yang mahal itu, alhamdulillah aku tidak lulus kedokteran gigi yaa Allah". Tanpa sadar aku langsung bersyukur karena tidak lulus kedokteran gigi 2011 lalu. Astagfirullah, untuk menyadari bahwa pilihan Allah tepat untukku, aku butuh 5 tahun untuk menyadarinya. Walaupun kita punya rencana, tetapi rencana Allah yang lebih baik untuk kita. Selalu bersyukur yaa :)  

Belajar Lebih Bersyukur

Monday, October 17, 2016

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui"
-Al Baqarah: 216-

Dulu waktu masuk jurusan IPA di SMA, aku punya cita-cita ingin jadi dokter gigi. Namun ternyata hasil SNMPTN aku lulus di Teknik Pertanian Universitas Andalas. Waktu itu sempat malas dan tidak ingin melanjutkan di jurusan itu. Tapi aku bertahan dan hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah aku mulai tanpa berfikir bahwa itu adalah pilihan terbaik yang Allah berikan kepadaku. Beberapa minggu yang lalu, gigiku sakit. Singkat cerita aku dibantu oleh sahabatku Bulan untuk menambal gigiku. Dia sedang koas dokter gigi di Baiturrahmah Padang. Karena dulu sempat bercita-cita ingin menjadi dokter gigi, aku cukup excited sampai di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Baiturrahmah Padang. Aku banyak bertanya tentang studinya yang sedang koas dan Bulan pun menceritakannya dengan senang hati, karena dia juga tau dulu aku ingin menjadi dokter gigi.

Setelah sempat dua kali mondar-mandir di kehidupan mahasiswa koas dokter gigi. Aku menyadari bahwa "ternyata tempatku memang bukan disana, ternyata Allah sudah mengatur hidupku sesuai kemampuanku, aku sadar aku tidak sanggup berada di kedokteran gigi baik secara finansial maupun ilmu pengetahuanku waktu itu. Kalau misalkan aku lulus, lalu orang tuaku akan bayar dengan apa alat-alat yang mahal itu, alhamdulillah aku tidak lulus kedokteran gigi yaa Allah". Tanpa sadar aku langsung bersyukur karena tidak lulus kedokteran gigi 2011 lalu. Astagfirullah, untuk menyadari bahwa pilihan Allah tepat untukku, aku butuh 5 tahun untuk menyadarinya. Walaupun kita punya rencana, tetapi rencana Allah yang lebih baik untuk kita. Selalu bersyukur yaa :)  

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...