SOCIAL MEDIA

Ketika saya merasa semesta sedang tidak berpihak kepada saya, saya selalu menghibur diri dengan mengatakan kalimat ini di dalam hati "It's okay Ci, sabar, semua ada waktunya". Suami pun turut membelai kepala saya sambil berkata "It's okay, yang penting sudah usaha", yang juga membuat saya merasa lebih tenang, karena masih ada yang mendukung saya.

It's okay selalu menjadi kata-kata ampuh untuk menghibur diri saya sendiri. Seperti quote dari Dhiman  yang saya share di story instagram beberapa hari lalu "It is okay if it's taking more time than you thought". Seperti kalimat menenangkan yang sudah pernah kita dengar dan baca dimana-mana "semua orang punya waktunya masing-masing". Saya selalu percaya itu, karena saya sudah pernah mengalami kesempatan waktu berarti itu.

Seperti pada potongan artikel You're Not Late! You're Not Early oleh Marie-Claire Kuja  

"Everyone is running their own race in their own time zone.

Don't envy or mock them.

They are in their own time zone and you are in yours.

Life is about waiting for the right moment to react.

So relax

You're not late

You're not early."


Seperti perjalanan menuju pantai di gambar ini, setelah tangga yang tinggi dan panjang yang ditutupi ranting-ranting tinggi, akan ada pemandangan pantai dengan pasir putih dan laut biru yang sangat indah. I believe, better days are coming. Semangat ya Suc, semua yang terjadi di muka bumi ini sungguh atas kehendak dan izin Allah.

It's okay, that's love :)

It's Okay

Wednesday, October 14, 2020

Ketika saya merasa semesta sedang tidak berpihak kepada saya, saya selalu menghibur diri dengan mengatakan kalimat ini di dalam hati "It's okay Ci, sabar, semua ada waktunya". Suami pun turut membelai kepala saya sambil berkata "It's okay, yang penting sudah usaha", yang juga membuat saya merasa lebih tenang, karena masih ada yang mendukung saya.

It's okay selalu menjadi kata-kata ampuh untuk menghibur diri saya sendiri. Seperti quote dari Dhiman  yang saya share di story instagram beberapa hari lalu "It is okay if it's taking more time than you thought". Seperti kalimat menenangkan yang sudah pernah kita dengar dan baca dimana-mana "semua orang punya waktunya masing-masing". Saya selalu percaya itu, karena saya sudah pernah mengalami kesempatan waktu berarti itu.

Seperti pada potongan artikel You're Not Late! You're Not Early oleh Marie-Claire Kuja  

"Everyone is running their own race in their own time zone.

Don't envy or mock them.

They are in their own time zone and you are in yours.

Life is about waiting for the right moment to react.

So relax

You're not late

You're not early."


Seperti perjalanan menuju pantai di gambar ini, setelah tangga yang tinggi dan panjang yang ditutupi ranting-ranting tinggi, akan ada pemandangan pantai dengan pasir putih dan laut biru yang sangat indah. I believe, better days are coming. Semangat ya Suc, semua yang terjadi di muka bumi ini sungguh atas kehendak dan izin Allah.

It's okay, that's love :)

Sebenarnya agak bingung ingin memberikan judul untuk tulisan ini. Sudahkah merasa cukup? Sebagai manusia, pasti sering sekali kita merasa tidak cukup. Selalu melihat keatas, bahkan selalu merasa kekurangan.
Tahun 2017, ketika saya memulai merantau ke Jakarta, tinggal sendirian sebagai anak kos. Saya mulai menerapkan hidup minimalis. Saya memulainya dari pakaian. Membawa pakaian ke rantau seadanya dan merasa cukup. Pernah waktu ikut call center training, kami disuruh menggunakan baju batik di satu hari setiap minggunya. Lalu saya hanya membeli satu baju batik, dan memakainya setiap minggu di hari baju batik. Lalu salah seorang teman training celetuk "batik lu ini-ini mulu Ci, emang nggak ada yang lain". Sebelum saya menjawab, ada teman lain yang bantu jawab dengan candaan. Anehnya, saya sama sekali tidak tersinggung dengan pernyataan teman saya. Karena kenyataannya memang hanya punya satu baju batik, and I'm okay. Bahkan bangga, karena tak perlu repot-repot mikir "hari ini pakai baju batik yang mana ya".

*
Cerita tentang saya merasa cukup dengan iphone 6S.

Tahun lalu saya selalu ingin punya ipad pro karena ingin sekali menggambar dari aplikasi procreate yang hanya ada di ipad pro. Tapi tidak diizinkan suami, karena buang-buang uang saja. Juga kata teman-temannya yang anak design grafis lebih bagus wacom dan photoshop untuk menggambar. Setelah dipikir-pikir lagi, benar juga ya. Untuk apa beli ipad pro, saya ingin menggambar untuk apa? Senang-senang saja atau untuk dijadikan bisnis? Toh photoshop juga bisa, hanya perlu belajar lagi. Pertanyaan dan pernyataan seperti itu terlintas dipikiran saya. Konsep hidup minimalis kembali terpikirkan. Beli sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Akhirnya saya melupakan ipad pro, tidak pernah lagi mencari tahu harga atau lihat review tentang ipad pro. Kemudian saya menemukan ada aplikasi yang sama persis dan ini versi pocketnya yang bisa digunakan di iphone. Ternyata iphone 6 saya waktu itu tidak mendukung untuk aplikasi itu. 

Singkat cerita, suami beli iphone 6S yang sebenarnya untuk dia (kebutuhan kerjaan). Malah dikasih ke saya (tukeran dengan iphone 6 saya) karena saya ingin sekali purchase aplikasi procreate pocket. Lalu beli stylusnya di Tokopedia. Dan saya bisa menggambar digital. Tentu saya senang sekali. Itu lebih dari cukup. Menurut saya toolsnya sama dengan yang ada di procreate ipad pro. Hanya saja ini layarnya lebih kecil. Tapi kalau tidak mempermasalahkan hal tersebut, it's okay. Kalau saya menghabiskan lebih banyak uang untuk beli ipad pro, pensilnya, aplikasinya. Mungkin perasaannya akan ada sedikit menyesal, karena begitu banyak uang yang dikeluarkan, yang sebenarnya saya tidak mampu. Sekarang saya tidak iri lagi melihat illustrator yang menggambar dengan ipad pro. Karena saya tahu, procreate pocket di iphone 6S saya sudah cukup.

Saya tidak menyangka konsep hidup minimalis ini bisa begitu melekat dengan saya. Karena untuk saat ini saya sudah merasa cukup dengan iphone 6S saya. Kameranya yang masih bagus, kondisinya yang masih mulus, bahkan sudah ada procreate pocket dan stylus untuk saya belajar gambar. Ini sudah lebih dari cukup. Saya tidak perlu menciptakan rasa cemburu yang saya tahu bahwa saya belum mampu untuk membeli kemewahan.

*
Kata Kak Diana Rikasari, tanya pada dirimu sendiri "What do you want?". Setelah mendengar perkataan itu, saya langsung merefleksikannya pada diri sendiri. "Suci, what do you want?". Saya sudah menjawabnya di jurnal saya. Intinya, saya ingin tetap minimalis dan merasa cukup. Tidak perlu memaksakan kemewahan gaya hidup yang belum mampu saya beli.


SR

Sudahkah Merasa Cukup?

Wednesday, April 22, 2020

Sebenarnya agak bingung ingin memberikan judul untuk tulisan ini. Sudahkah merasa cukup? Sebagai manusia, pasti sering sekali kita merasa tidak cukup. Selalu melihat keatas, bahkan selalu merasa kekurangan.
Tahun 2017, ketika saya memulai merantau ke Jakarta, tinggal sendirian sebagai anak kos. Saya mulai menerapkan hidup minimalis. Saya memulainya dari pakaian. Membawa pakaian ke rantau seadanya dan merasa cukup. Pernah waktu ikut call center training, kami disuruh menggunakan baju batik di satu hari setiap minggunya. Lalu saya hanya membeli satu baju batik, dan memakainya setiap minggu di hari baju batik. Lalu salah seorang teman training celetuk "batik lu ini-ini mulu Ci, emang nggak ada yang lain". Sebelum saya menjawab, ada teman lain yang bantu jawab dengan candaan. Anehnya, saya sama sekali tidak tersinggung dengan pernyataan teman saya. Karena kenyataannya memang hanya punya satu baju batik, and I'm okay. Bahkan bangga, karena tak perlu repot-repot mikir "hari ini pakai baju batik yang mana ya".

*
Cerita tentang saya merasa cukup dengan iphone 6S.

Tahun lalu saya selalu ingin punya ipad pro karena ingin sekali menggambar dari aplikasi procreate yang hanya ada di ipad pro. Tapi tidak diizinkan suami, karena buang-buang uang saja. Juga kata teman-temannya yang anak design grafis lebih bagus wacom dan photoshop untuk menggambar. Setelah dipikir-pikir lagi, benar juga ya. Untuk apa beli ipad pro, saya ingin menggambar untuk apa? Senang-senang saja atau untuk dijadikan bisnis? Toh photoshop juga bisa, hanya perlu belajar lagi. Pertanyaan dan pernyataan seperti itu terlintas dipikiran saya. Konsep hidup minimalis kembali terpikirkan. Beli sesuai kebutuhan, bukan keinginan. Akhirnya saya melupakan ipad pro, tidak pernah lagi mencari tahu harga atau lihat review tentang ipad pro. Kemudian saya menemukan ada aplikasi yang sama persis dan ini versi pocketnya yang bisa digunakan di iphone. Ternyata iphone 6 saya waktu itu tidak mendukung untuk aplikasi itu. 

Singkat cerita, suami beli iphone 6S yang sebenarnya untuk dia (kebutuhan kerjaan). Malah dikasih ke saya (tukeran dengan iphone 6 saya) karena saya ingin sekali purchase aplikasi procreate pocket. Lalu beli stylusnya di Tokopedia. Dan saya bisa menggambar digital. Tentu saya senang sekali. Itu lebih dari cukup. Menurut saya toolsnya sama dengan yang ada di procreate ipad pro. Hanya saja ini layarnya lebih kecil. Tapi kalau tidak mempermasalahkan hal tersebut, it's okay. Kalau saya menghabiskan lebih banyak uang untuk beli ipad pro, pensilnya, aplikasinya. Mungkin perasaannya akan ada sedikit menyesal, karena begitu banyak uang yang dikeluarkan, yang sebenarnya saya tidak mampu. Sekarang saya tidak iri lagi melihat illustrator yang menggambar dengan ipad pro. Karena saya tahu, procreate pocket di iphone 6S saya sudah cukup.

Saya tidak menyangka konsep hidup minimalis ini bisa begitu melekat dengan saya. Karena untuk saat ini saya sudah merasa cukup dengan iphone 6S saya. Kameranya yang masih bagus, kondisinya yang masih mulus, bahkan sudah ada procreate pocket dan stylus untuk saya belajar gambar. Ini sudah lebih dari cukup. Saya tidak perlu menciptakan rasa cemburu yang saya tahu bahwa saya belum mampu untuk membeli kemewahan.

*
Kata Kak Diana Rikasari, tanya pada dirimu sendiri "What do you want?". Setelah mendengar perkataan itu, saya langsung merefleksikannya pada diri sendiri. "Suci, what do you want?". Saya sudah menjawabnya di jurnal saya. Intinya, saya ingin tetap minimalis dan merasa cukup. Tidak perlu memaksakan kemewahan gaya hidup yang belum mampu saya beli.


SR
Kenapa saya sebut pinterestable? Karena pertama kali saya melihat coffee shop ini di pinterest. Saya kira coffee shop ini ada di Jepang. Setelah dicek lagi, ternyata ada di Indonesia, Bali!

Waktu diajak ke Bali sama suami Agustus 2019 lalu, saya masukkan Mannaka Bali ke list kami. Suami mengiyakan, alhamdulillahnya kesampaian mampir dan minum kopi disini. Ternyata konsep coffee shop Mannaka Bali, Japanese gitu. Terletak di pinggir jalan, kecil, simple, tapi cukup untuk buat foto jadi keren. Minumannya juga enak, saya pesan charcoal latte, suami hot latte (sepertinya, lupa namanya). Oh iya, mereka juga jual merchandise yang lucu-lucu banget. Saya beli totebagnya waktu itu, desainnya lucu, saya suka.

Berikut foto-foto saya dan suami sembari menunggu dan menikmati minuman kami.
Totebagnya yang dipajang di dinding sebelah kiri


Charcoal latte dan hot latte



Mannaka Bali
@mannaka.bali
Jl. Petitenget No.19C, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Badung, Bali, Indonesia



SR

Mannaka Bali, Coffee Shop yang Pinterestable

Monday, April 13, 2020

Kenapa saya sebut pinterestable? Karena pertama kali saya melihat coffee shop ini di pinterest. Saya kira coffee shop ini ada di Jepang. Setelah dicek lagi, ternyata ada di Indonesia, Bali!

Waktu diajak ke Bali sama suami Agustus 2019 lalu, saya masukkan Mannaka Bali ke list kami. Suami mengiyakan, alhamdulillahnya kesampaian mampir dan minum kopi disini. Ternyata konsep coffee shop Mannaka Bali, Japanese gitu. Terletak di pinggir jalan, kecil, simple, tapi cukup untuk buat foto jadi keren. Minumannya juga enak, saya pesan charcoal latte, suami hot latte (sepertinya, lupa namanya). Oh iya, mereka juga jual merchandise yang lucu-lucu banget. Saya beli totebagnya waktu itu, desainnya lucu, saya suka.

Berikut foto-foto saya dan suami sembari menunggu dan menikmati minuman kami.
Totebagnya yang dipajang di dinding sebelah kiri


Charcoal latte dan hot latte



Mannaka Bali
@mannaka.bali
Jl. Petitenget No.19C, Kerobokan Kelod, Kuta Utara, Badung, Bali, Indonesia



SR
Perempuan-perempuannya yang cantik, tempatnya yang indah. Gianyar begitu eksotis.

Agustus 2019 lalu, saya dan suami liburan ke Bali. Tempat kami menginap sewaktu sampai di Bali adalah Umah Hoshi, Sebatu, Gianyar, Bali. Mendarat di Bali sekitar pukul 17.00 an WITA, satu jaman nunggu motor sewaan. Akhirnya skip dulu lihat sunset dan makan malam di Jimbaran.

Kami cari tempat makan di pinggir jalan saja, selesai makan lanjut ke penginapan di Sebatu. Jujur, saya tidak mengira kalau tempat menginap kami akan dingin sekali. Itinerary suami yang atur, saya tinggal packing baju saja. Tidak tanya suami juga akan seperti apa weather disana, mikirnya ya Bali pasti panas ya, kan bule-bule pada berjemur ke Bali. Suami bilang kalau Sebatu itu daerah yang lebih tinggi dari kota, masih banyak hutan dan sawah-sawahnya. Tapi tidak bilang disana dingin banget (ternyata dia juga tidak tahu). Saya mikirnya ya tidak akan terlalu dingin, masih bisa ditahan lah, gitu. Ternyata fikiran itu salah besar. Sungguh Sebatu dingin sekaliiii.

Mungkin juga karena perjalanan kami menuju Sebatu sudah malam. Jalanannya sepi, gelap, tidak banyak lampu jalan, dan dingiiinnnn. Sungguh waktu itu saya kedinginan (apalagi suami yang bawa motor ya). Padahal masih pukul 20.00 atau 21.00 an WITA. Karena menuju desa, jadinya hampir tidak ada orang di luar rumah, bahkan rumahnya pun remang-remang gitu (lampu orange). Di tambah dengan pintu rumah Bali yang penuh dengan ukiran, agak merinding ya lihatnya malam-malam.

Di tengah gelap dan dinginnya jalanan, bulan dan bintang terasa terang sekali. Waktu itu banyak sekali bintang di langit Sebatu. Mungkin karena langitnya tidak banyak polusi seperti Jakarta, jadinya bintang seperti bertaburan di langit, indah sekali. Kami sampai berhenti di pinggir sawah untuk menikmati keindahan itu.

Sesampainya di Umah Hoshi, kami tidak bisa melihat pemandangan sekitar karena seperti di perjalanan tadi, gelap dan remang-remang. Disambut oleh resepsionis yang ramah, dengan pakaian khas Bali tidak ketinggalan bunga kamboja di telinganya yang membuat anggun (pokoknya Bali banget deh). Mbaknya juga informatif sekali tentang tempat wisata disekitar Sebatu, Gianyar.
Setelah pagi, semua keindahannya jelas terlihat.

Sesampainya di kamar, ternyata tidak kalah seram ya kamarnya (padahal saya yang request kalau nginap disana saja biar bisa menikmati suasana desanya Bali). Semuanya terbuat dari kayu, dinding, lantai, atap, pintu, meja, bangku, tempat tidur, lemari, bahkan kamar mandinya beratapkan langit (sebagiannya ada atap, tapi tetap agak seram  awalnya), lantai kamar mandi batu-batu putih, bathtub dari batu, hampir semua materialnya dari bahan alami, dan lampu yang masih remang-remang.
Kamar tempat kami menginap di Umah Hoshi

Malam semakin larut, saya tidak bisa tidur. Udara yang begitu dingin hingga 16 derajat Celcius, suara jangkrik yang terdengar jelas, pun suara dedaunan yang terhembus angin. Awalnya saya mengira itu semua seperti film horor, lalu saya menyadari bahwa suara-suara itu nyaman sekali. Kapan lagi saya bisa menikmati suasana seintim itu dengan alam ketika tidur. Akhirnya saya ketiduran juga.

Paginya kami menikmati teh hangat di teras kamar. Lanjut sarapan di restorannya Umah Hoshi. Letaknya di lantai dua, dengan view yang sangat indah. Sarapan ditemani musik khas Bali (akhirnya berganti lagu pop yang melow), disambut suara padi dan daun kelapa yang ditiup angin, juga suara air sungai yang mengalir, damai sekali bukan? Membayangkan lagi saja saya sudah ingin kembali kesana.
View dari Restoran Umah Hoshi

Tempat yang kami kunjungi selama / disekitar Gianyar.

Bali Handara Gate
Untuk foto disini ada tiketnya, kalau tidak salah Rp 30,000 an per orang. Waktu itu lagi ramai, weekend memang. Fotonya antre gitu, tapi antre yang teratur ya.
Awkward ya foto dilihat banyak antrean

Pura Ulun Danu Bratan
Setelah dari Handara Gate, lanjut kesini. Ada tiket masuknya juga, saya lupa berapa harganya. Mungkin Rp 40,000 - Rp 50,000 an per orang. Untung kami sempat foto-foto dengan Puranya, setelah itu kabutnya turun menutupi Pura. Mendadak jadi dingin sekali, saya sampai menggigil. Tapi bule-bule santai aja gitu.
Suami dan selembar uang kertas Rp 50,000

Warung Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku, Ubud
Kalau lagi di Ubud, jangan lupa makan disini ya. Nikmat sekali, terlihat dari fotonya kan. Mohon maaf, saya lupa budget makan disini.

Ubud Traditional Art Market
Saya penasaran saja dengan Pasar Ubud ini, sepertinya hits sekali di Pinterest. Ternyata memang tempat yang dicari bule-bule. Disekitar Ubud Traditional Art Market banyak sekali tempat makan, cafe, bar, toko baju, distro, dll. Yang mungkin menurut bule harganya terjangkau, tapi tidak dengan saya. Saya tidak belanja disini. Kami hanya makan siang di Halal Ubud Burger dan gelato (lupa nama brand gelatonya).

Setelah dari Ubud Tratidional Art Market, kami melanjutkan perjalanan ke hotel berikutnya yang letaknya lebih ke kota agar dekat dengan pantai.

Lalu saya menyadari bahwa Gianyar memang beda. Suasana Balinya masih kental sekali. Perempuannya yang dengan pakaian adat serta bunga kamboja di telinga. Pintu rumah yang Bali sekali. Janur yang dipasang disepanjang jalan. Alamnya yang indah, sejuk. Begitu eksotis, saya tidak tahu harus bagaimana lagi mendeskripsikan keindahan disana. Pokoknya eksotis sekali!

Semoga bisa kembali.


SR

Gianyar - Bali, Tempat yang Eksotis

Thursday, April 9, 2020

Perempuan-perempuannya yang cantik, tempatnya yang indah. Gianyar begitu eksotis.

Agustus 2019 lalu, saya dan suami liburan ke Bali. Tempat kami menginap sewaktu sampai di Bali adalah Umah Hoshi, Sebatu, Gianyar, Bali. Mendarat di Bali sekitar pukul 17.00 an WITA, satu jaman nunggu motor sewaan. Akhirnya skip dulu lihat sunset dan makan malam di Jimbaran.

Kami cari tempat makan di pinggir jalan saja, selesai makan lanjut ke penginapan di Sebatu. Jujur, saya tidak mengira kalau tempat menginap kami akan dingin sekali. Itinerary suami yang atur, saya tinggal packing baju saja. Tidak tanya suami juga akan seperti apa weather disana, mikirnya ya Bali pasti panas ya, kan bule-bule pada berjemur ke Bali. Suami bilang kalau Sebatu itu daerah yang lebih tinggi dari kota, masih banyak hutan dan sawah-sawahnya. Tapi tidak bilang disana dingin banget (ternyata dia juga tidak tahu). Saya mikirnya ya tidak akan terlalu dingin, masih bisa ditahan lah, gitu. Ternyata fikiran itu salah besar. Sungguh Sebatu dingin sekaliiii.

Mungkin juga karena perjalanan kami menuju Sebatu sudah malam. Jalanannya sepi, gelap, tidak banyak lampu jalan, dan dingiiinnnn. Sungguh waktu itu saya kedinginan (apalagi suami yang bawa motor ya). Padahal masih pukul 20.00 atau 21.00 an WITA. Karena menuju desa, jadinya hampir tidak ada orang di luar rumah, bahkan rumahnya pun remang-remang gitu (lampu orange). Di tambah dengan pintu rumah Bali yang penuh dengan ukiran, agak merinding ya lihatnya malam-malam.

Di tengah gelap dan dinginnya jalanan, bulan dan bintang terasa terang sekali. Waktu itu banyak sekali bintang di langit Sebatu. Mungkin karena langitnya tidak banyak polusi seperti Jakarta, jadinya bintang seperti bertaburan di langit, indah sekali. Kami sampai berhenti di pinggir sawah untuk menikmati keindahan itu.

Sesampainya di Umah Hoshi, kami tidak bisa melihat pemandangan sekitar karena seperti di perjalanan tadi, gelap dan remang-remang. Disambut oleh resepsionis yang ramah, dengan pakaian khas Bali tidak ketinggalan bunga kamboja di telinganya yang membuat anggun (pokoknya Bali banget deh). Mbaknya juga informatif sekali tentang tempat wisata disekitar Sebatu, Gianyar.
Setelah pagi, semua keindahannya jelas terlihat.

Sesampainya di kamar, ternyata tidak kalah seram ya kamarnya (padahal saya yang request kalau nginap disana saja biar bisa menikmati suasana desanya Bali). Semuanya terbuat dari kayu, dinding, lantai, atap, pintu, meja, bangku, tempat tidur, lemari, bahkan kamar mandinya beratapkan langit (sebagiannya ada atap, tapi tetap agak seram  awalnya), lantai kamar mandi batu-batu putih, bathtub dari batu, hampir semua materialnya dari bahan alami, dan lampu yang masih remang-remang.
Kamar tempat kami menginap di Umah Hoshi

Malam semakin larut, saya tidak bisa tidur. Udara yang begitu dingin hingga 16 derajat Celcius, suara jangkrik yang terdengar jelas, pun suara dedaunan yang terhembus angin. Awalnya saya mengira itu semua seperti film horor, lalu saya menyadari bahwa suara-suara itu nyaman sekali. Kapan lagi saya bisa menikmati suasana seintim itu dengan alam ketika tidur. Akhirnya saya ketiduran juga.

Paginya kami menikmati teh hangat di teras kamar. Lanjut sarapan di restorannya Umah Hoshi. Letaknya di lantai dua, dengan view yang sangat indah. Sarapan ditemani musik khas Bali (akhirnya berganti lagu pop yang melow), disambut suara padi dan daun kelapa yang ditiup angin, juga suara air sungai yang mengalir, damai sekali bukan? Membayangkan lagi saja saya sudah ingin kembali kesana.
View dari Restoran Umah Hoshi

Tempat yang kami kunjungi selama / disekitar Gianyar.

Bali Handara Gate
Untuk foto disini ada tiketnya, kalau tidak salah Rp 30,000 an per orang. Waktu itu lagi ramai, weekend memang. Fotonya antre gitu, tapi antre yang teratur ya.
Awkward ya foto dilihat banyak antrean

Pura Ulun Danu Bratan
Setelah dari Handara Gate, lanjut kesini. Ada tiket masuknya juga, saya lupa berapa harganya. Mungkin Rp 40,000 - Rp 50,000 an per orang. Untung kami sempat foto-foto dengan Puranya, setelah itu kabutnya turun menutupi Pura. Mendadak jadi dingin sekali, saya sampai menggigil. Tapi bule-bule santai aja gitu.
Suami dan selembar uang kertas Rp 50,000

Warung Nasi Ayam Kedewatan Ibu Mangku, Ubud
Kalau lagi di Ubud, jangan lupa makan disini ya. Nikmat sekali, terlihat dari fotonya kan. Mohon maaf, saya lupa budget makan disini.

Ubud Traditional Art Market
Saya penasaran saja dengan Pasar Ubud ini, sepertinya hits sekali di Pinterest. Ternyata memang tempat yang dicari bule-bule. Disekitar Ubud Traditional Art Market banyak sekali tempat makan, cafe, bar, toko baju, distro, dll. Yang mungkin menurut bule harganya terjangkau, tapi tidak dengan saya. Saya tidak belanja disini. Kami hanya makan siang di Halal Ubud Burger dan gelato (lupa nama brand gelatonya).

Setelah dari Ubud Tratidional Art Market, kami melanjutkan perjalanan ke hotel berikutnya yang letaknya lebih ke kota agar dekat dengan pantai.

Lalu saya menyadari bahwa Gianyar memang beda. Suasana Balinya masih kental sekali. Perempuannya yang dengan pakaian adat serta bunga kamboja di telinga. Pintu rumah yang Bali sekali. Janur yang dipasang disepanjang jalan. Alamnya yang indah, sejuk. Begitu eksotis, saya tidak tahu harus bagaimana lagi mendeskripsikan keindahan disana. Pokoknya eksotis sekali!

Semoga bisa kembali.


SR
My new happiness is my new blogger template :)

Ternyata sesuatu yang ditata ulang itu (termasuk blog) bisa menaikkan hormon endorfin juga ya. Tahun 2019 lalu, saya hanya posting satu tulisan saja. Entah kenapa, tidak semangat untuk membuat tulisan, padahal banyak sekali yang bisa saya ceritakan, mulai dari yang duka hingga yang suka. 

Setelah saya posting tulisan terakhir saya yang insomnia . Itu benar-benar mengembalikan mood saya. Setelah tulisan itu saya posting, saya langsung mengantuk sekali padahal masih pukul 20.00. Rasanya legaaaa sekali. Tapi waktu itu tetap tidurnya jam 00.00 an, itu lebih baik untuk saya daripada masih melek jam 02.30 (walaupun sebenarnya tidak baik ya). 

Akhirnya saya mengurangi membaca berita tentang Covid-19. Saya malah melihat-lihat kembali blogger yang saya ikuti, blognya Kak Diana Rikasari dan Kak Dindaps. Sebelumnya saya nonton live IG mereka, dan ada salah satu followers mereka bertanya ke Kak Diana "Bagaimana caranya tetap konsisten ngeblog?". Kak Diana jawab "pokoknya dia merasa ada yang kurang kalau dia tidak ngeblog sehari, walaupun hanya posting quotes atau foto, karena ngeblog adalah penutup harinya yang sudah lelah berkegiatan di siang hari" (lebih kurang seperti itu ya jawaban Kak Di). Saya jadi ingat tujuan saya ngeblog 6 tahun lalu, sharing to get happiness. Menceritakan isi fikiran saya yang tidak bisa saya ceritakan dengan lisan. Menceritakan isi fikiran saya yang sepertinya terlalu panjang kalau diceritakan di media sosial.

Lalu hari ini, saya baru tau kalau Kak Dindaps punya blog baru, karena dia sudah tidak mood dengan blog lamanya. Blog barunya Kak Dindaps refreshing sekali. Saya langsung kepikiran untuk mengganti template agar lebih fresh juga. And it works, terjadilah tulisan ini. I'm happy, alhamdulillah :)

Ini foto waktu saya dan suami memburu sunset di Candi Ratu Boko, Yogyakarta, Januari lalu. Kami sangat bahagia, akhirnya melihat sunset Jogja juga.

Kalau kamu sudahkah bahagia hari ini?


-SR- 

New Happiness

Wednesday, April 1, 2020

My new happiness is my new blogger template :)

Ternyata sesuatu yang ditata ulang itu (termasuk blog) bisa menaikkan hormon endorfin juga ya. Tahun 2019 lalu, saya hanya posting satu tulisan saja. Entah kenapa, tidak semangat untuk membuat tulisan, padahal banyak sekali yang bisa saya ceritakan, mulai dari yang duka hingga yang suka. 

Setelah saya posting tulisan terakhir saya yang insomnia . Itu benar-benar mengembalikan mood saya. Setelah tulisan itu saya posting, saya langsung mengantuk sekali padahal masih pukul 20.00. Rasanya legaaaa sekali. Tapi waktu itu tetap tidurnya jam 00.00 an, itu lebih baik untuk saya daripada masih melek jam 02.30 (walaupun sebenarnya tidak baik ya). 

Akhirnya saya mengurangi membaca berita tentang Covid-19. Saya malah melihat-lihat kembali blogger yang saya ikuti, blognya Kak Diana Rikasari dan Kak Dindaps. Sebelumnya saya nonton live IG mereka, dan ada salah satu followers mereka bertanya ke Kak Diana "Bagaimana caranya tetap konsisten ngeblog?". Kak Diana jawab "pokoknya dia merasa ada yang kurang kalau dia tidak ngeblog sehari, walaupun hanya posting quotes atau foto, karena ngeblog adalah penutup harinya yang sudah lelah berkegiatan di siang hari" (lebih kurang seperti itu ya jawaban Kak Di). Saya jadi ingat tujuan saya ngeblog 6 tahun lalu, sharing to get happiness. Menceritakan isi fikiran saya yang tidak bisa saya ceritakan dengan lisan. Menceritakan isi fikiran saya yang sepertinya terlalu panjang kalau diceritakan di media sosial.

Lalu hari ini, saya baru tau kalau Kak Dindaps punya blog baru, karena dia sudah tidak mood dengan blog lamanya. Blog barunya Kak Dindaps refreshing sekali. Saya langsung kepikiran untuk mengganti template agar lebih fresh juga. And it works, terjadilah tulisan ini. I'm happy, alhamdulillah :)

Ini foto waktu saya dan suami memburu sunset di Candi Ratu Boko, Yogyakarta, Januari lalu. Kami sangat bahagia, akhirnya melihat sunset Jogja juga.

Kalau kamu sudahkah bahagia hari ini?


-SR- 
Sejak Pemerintah mengumumkan untuk social distancing atau self isolation, saya dan suami mengikuti kebijakan itu dengan tetap #dirumahaja. Berharap tidak tertular, atau menjadi carrier untuk orang lain, ya kita tidak tau kan, karena banyak yang positif tanpa mengalami gejala, pokoknya #dirumahaja.

Awalnya saya tidak apa-apa, karena memang saya adalah stay at home wife, suami pun freelancer, jadi memang lebih sering di rumah, jadi sepertinya #dirumahaja itu tidak akan terasa berat untuk saya, apalagi saya introvert, rumah adalah tempat ternyaman.

Minggu pertama, masih seperti biasa, saya masih ke tukang sayur langganan dan ke pasar komplek rumah membeli bahan makanan untuk beberapa hari ke depan. Masih nafsu makan, masih bisa tidur (tapi sebelumnya jam tidur saya dan suami memang agak kemalaman ya, jam 11 atau 12 malam bahkan lewat jam 12 kami baru tertidur). Tapi saya masih bisa bangun pagi, membuang sampah, menyiapkan sarapan, membuat empon-empon, jam 11/12 nya masak, makan siang, bersih bersih, yaa seperti kehidupan saya sebelum Covid-19 datang. Bahkan ada kegiatan tambahan, kami workout bersama di rumah selama 10-15 menit.

Saya masih bisa melanjutkan cita-cita saya, seperti belajar menggambar digital, mendekor rumah, memilah sampah, mengompos, membeli tanaman baru, tentu saja saya masih happy dan mood. Di minggu pertama juga, saya masih terasa baik-baik saja, saya masih bisa tertawa nonton Running Man, masih mood nonton film, saya sudah nonton The Flu (youtube), Silenced (viu), Kim Ji-Young Born 1982 (viu), dan A Taxi Driver (viu). Bahkan sudah punya beberapa list film korea lainnya yang akan saya tonton selanjutnya.

Tiba-tiba memasuki minggu kedua #dirumahaja, saya merasa tidak semangat, seperti kehilangan arah, bosan. Yang sangat parah, jam tidur kami makin kacau, saya dan suami jadi insomnia akut. Berhari-hari kami tidak bisa tidur, padahal jam sudah menunjukkan pukul 02.30 pagi. Tapi otak saya seperti terus berfikir, entah apa yang saya fikirkan. Bangun jadi kesiangan, tidak ada lagi membuat empon-empon di pagi hari (jadi pindah ke sore, bahkan malam hari), workout pun juga tidak ada. Saya juga makin takut ke pasar, bahan makanan sudah habis, mengandalkan go-food, kadang jadi tidak nafsu makan.

Tidak nafsu menggambar digital, tidak nafsu melanjutkan nonton marathon dari list film saya. Yang membantu mood saya terjaga untuk bisa tetap melakukan aktifitas rumah tangga ya dengar lagu favorit. Tapi itu tidak membuat saya merasa saya sudah baik-baik saja. 

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa yang membedakan #dirumahaja waktu sebelum pandemi Covid-19 dan sekarang?

Saya baru sadar, kegiatan saya berbelanja ke pasar yang hampir setiap hari itu bisa membangun mood saya seharian. Walaupun saya introvert, saya butuh menghirup udara luar rumah di pagi hari untuk melakukan semua aktifitas rumah tangga. Memikirkan akan belanja apa setiap pagi, melihat keramaian dan interaksi jual beli di pasar, ternyata itu membangun mood saya untuk semua aktifitas hari-hari saya. Lalu sekarang, ke pasar menjadi takut dan dibatasi, bahkan disarankan belanja online saja.

Biasanya kami punya tempat pelarian ketika saya dan suami sudah jenuh di rumah seharian, Bxchange Mall. Kadang hanya untuk mencari makan malam, atau sekedar untuk membeli madu di Farmers Market, atau membeli Sour Sally, atau memesan wedang ronde di Imperial Dimsum Kitchen, atau sekedar window shopping. Kami selalu mencari udara luar rumah malam hari untuk melepas kepenatan siang hari di rumah. Tapi sekarang, kami harus tetap di rumah walau sudah sangat bosan rasanya.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa yang membuat saya resah akhir-akhir ini?

Saya sedih sekali, kemungkinan besar @singanddo.co tidak akan menjual hampers lebaran tahun ini, padahal saya sudah merencanakannya dari tahun lalu. Saya sedih sekali, @lucude belum bisa mengeluarkan produk baru dalam waktu dekat. Tentu saja kesedihan ini bukan saya saja yang merasakan, semua orang yang punya usaha, pekerja, ojek online, pedagang, semuanya pasti terpukul. Ternyata memang manusia hanya bisa berencana, Allah lah yang menentukan.

Saya khawatir sekali, orang tua saya di Padang, Abang saya dan istrinya di Padang, Cece saya dan suaminya di Jakarta, Uda saya dan istrinya di Lampung, mereka juga hanya berdua saja di rumah. Saya khawatir sekali, Covid-19 sangat berbahaya untuk orang tua, saya khawatir sekali, semoga orang tua saya, mertua saya, seluruh orang tua di dunia ini baik-baik saja.

Saya sedih sekali, melihat banyaknya tenaga medis yang gugur karena kurangnya APD saat merawat pasien Covid-19.

Saya sedih sekali, setiap hari semakin bertambah korban Covid-19 di Indonesia yang meninggal.

Saya sedih sekali, mendengar orang-orang yang saya kenal tiba-tiba meninggal.

Saya sedih sekali, membaca dan melihat proses pemakaman korban Covid-19.

Saya khawatir sekali, Ramadhan dan Idul Fitri masih dipenuhi kekhawatiran pandemi ini.

Saya khawatir sekali, tiba-tiba saya atau suami saya tidak terbangun lagi setelah tidur.

Begitu banyak kekhawatiran dan kesedihan yang ternyata tidak saya sadari sebelum mengetik tulisan ini. Tiba-tiba saya menangis setelah mengetik ini, sesak di dada saya sedikit berkurang. Saya berharap, setelah menuangkan beban fikiran ini, bisa kembali memperbaiki jam tidur saya, juga mood saya.

Semoga pandemi ini segera berakhir, dan kita semua bisa bepergian keluar rumah tanpa ada rasa khawatir lagi. Aamiin.


-SR-

Insomnia

Sunday, March 29, 2020

Sejak Pemerintah mengumumkan untuk social distancing atau self isolation, saya dan suami mengikuti kebijakan itu dengan tetap #dirumahaja. Berharap tidak tertular, atau menjadi carrier untuk orang lain, ya kita tidak tau kan, karena banyak yang positif tanpa mengalami gejala, pokoknya #dirumahaja.

Awalnya saya tidak apa-apa, karena memang saya adalah stay at home wife, suami pun freelancer, jadi memang lebih sering di rumah, jadi sepertinya #dirumahaja itu tidak akan terasa berat untuk saya, apalagi saya introvert, rumah adalah tempat ternyaman.

Minggu pertama, masih seperti biasa, saya masih ke tukang sayur langganan dan ke pasar komplek rumah membeli bahan makanan untuk beberapa hari ke depan. Masih nafsu makan, masih bisa tidur (tapi sebelumnya jam tidur saya dan suami memang agak kemalaman ya, jam 11 atau 12 malam bahkan lewat jam 12 kami baru tertidur). Tapi saya masih bisa bangun pagi, membuang sampah, menyiapkan sarapan, membuat empon-empon, jam 11/12 nya masak, makan siang, bersih bersih, yaa seperti kehidupan saya sebelum Covid-19 datang. Bahkan ada kegiatan tambahan, kami workout bersama di rumah selama 10-15 menit.

Saya masih bisa melanjutkan cita-cita saya, seperti belajar menggambar digital, mendekor rumah, memilah sampah, mengompos, membeli tanaman baru, tentu saja saya masih happy dan mood. Di minggu pertama juga, saya masih terasa baik-baik saja, saya masih bisa tertawa nonton Running Man, masih mood nonton film, saya sudah nonton The Flu (youtube), Silenced (viu), Kim Ji-Young Born 1982 (viu), dan A Taxi Driver (viu). Bahkan sudah punya beberapa list film korea lainnya yang akan saya tonton selanjutnya.

Tiba-tiba memasuki minggu kedua #dirumahaja, saya merasa tidak semangat, seperti kehilangan arah, bosan. Yang sangat parah, jam tidur kami makin kacau, saya dan suami jadi insomnia akut. Berhari-hari kami tidak bisa tidur, padahal jam sudah menunjukkan pukul 02.30 pagi. Tapi otak saya seperti terus berfikir, entah apa yang saya fikirkan. Bangun jadi kesiangan, tidak ada lagi membuat empon-empon di pagi hari (jadi pindah ke sore, bahkan malam hari), workout pun juga tidak ada. Saya juga makin takut ke pasar, bahan makanan sudah habis, mengandalkan go-food, kadang jadi tidak nafsu makan.

Tidak nafsu menggambar digital, tidak nafsu melanjutkan nonton marathon dari list film saya. Yang membantu mood saya terjaga untuk bisa tetap melakukan aktifitas rumah tangga ya dengar lagu favorit. Tapi itu tidak membuat saya merasa saya sudah baik-baik saja. 

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa yang membedakan #dirumahaja waktu sebelum pandemi Covid-19 dan sekarang?

Saya baru sadar, kegiatan saya berbelanja ke pasar yang hampir setiap hari itu bisa membangun mood saya seharian. Walaupun saya introvert, saya butuh menghirup udara luar rumah di pagi hari untuk melakukan semua aktifitas rumah tangga. Memikirkan akan belanja apa setiap pagi, melihat keramaian dan interaksi jual beli di pasar, ternyata itu membangun mood saya untuk semua aktifitas hari-hari saya. Lalu sekarang, ke pasar menjadi takut dan dibatasi, bahkan disarankan belanja online saja.

Biasanya kami punya tempat pelarian ketika saya dan suami sudah jenuh di rumah seharian, Bxchange Mall. Kadang hanya untuk mencari makan malam, atau sekedar untuk membeli madu di Farmers Market, atau membeli Sour Sally, atau memesan wedang ronde di Imperial Dimsum Kitchen, atau sekedar window shopping. Kami selalu mencari udara luar rumah malam hari untuk melepas kepenatan siang hari di rumah. Tapi sekarang, kami harus tetap di rumah walau sudah sangat bosan rasanya.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri, apa yang membuat saya resah akhir-akhir ini?

Saya sedih sekali, kemungkinan besar @singanddo.co tidak akan menjual hampers lebaran tahun ini, padahal saya sudah merencanakannya dari tahun lalu. Saya sedih sekali, @lucude belum bisa mengeluarkan produk baru dalam waktu dekat. Tentu saja kesedihan ini bukan saya saja yang merasakan, semua orang yang punya usaha, pekerja, ojek online, pedagang, semuanya pasti terpukul. Ternyata memang manusia hanya bisa berencana, Allah lah yang menentukan.

Saya khawatir sekali, orang tua saya di Padang, Abang saya dan istrinya di Padang, Cece saya dan suaminya di Jakarta, Uda saya dan istrinya di Lampung, mereka juga hanya berdua saja di rumah. Saya khawatir sekali, Covid-19 sangat berbahaya untuk orang tua, saya khawatir sekali, semoga orang tua saya, mertua saya, seluruh orang tua di dunia ini baik-baik saja.

Saya sedih sekali, melihat banyaknya tenaga medis yang gugur karena kurangnya APD saat merawat pasien Covid-19.

Saya sedih sekali, setiap hari semakin bertambah korban Covid-19 di Indonesia yang meninggal.

Saya sedih sekali, mendengar orang-orang yang saya kenal tiba-tiba meninggal.

Saya sedih sekali, membaca dan melihat proses pemakaman korban Covid-19.

Saya khawatir sekali, Ramadhan dan Idul Fitri masih dipenuhi kekhawatiran pandemi ini.

Saya khawatir sekali, tiba-tiba saya atau suami saya tidak terbangun lagi setelah tidur.

Begitu banyak kekhawatiran dan kesedihan yang ternyata tidak saya sadari sebelum mengetik tulisan ini. Tiba-tiba saya menangis setelah mengetik ini, sesak di dada saya sedikit berkurang. Saya berharap, setelah menuangkan beban fikiran ini, bisa kembali memperbaiki jam tidur saya, juga mood saya.

Semoga pandemi ini segera berakhir, dan kita semua bisa bepergian keluar rumah tanpa ada rasa khawatir lagi. Aamiin.


-SR-
Beberapa minggu lalu, saya dan suami liburan ke Bali. Ini kali pertama saya dan kali kedua untuknya. Kami begitu semangat saat itu. Sesemangat saat saya menulis ini. Masih terasa hingga saat ini betapa indahnya Bali, baru saja kembali, tapi sudah rindu lagi. Bersyukur ada media untuk mengenang kenangan itu, a moment to remember, seperti sebuah judul film Korea.

Bukan ke Bali namanya kalau tidak ke pantai bukan. Karena ini pertama kalinya, saya juga ingin mengunjungi pantai yang sangat sering saya dengar jika mendengar Bali waktu dulu, seperti Kuta, Padang - Padang, atau Nusa Dua. Nggak mau, pantai - pantai itu udah ramai banget sekarang, begitu kata suami. Rencana awal yang ingin ke Pandawa, berubah ke Green Bowl Beach setelah merasa waktu kami tidak cukup untuk ke Pandawa. Pantainya keren, trus juga masih lumayan sepi, jadi aku bisa berenang di laut, begitulah keinginan suami.

Tapi menuju ke pantainya kita harus melewati anak tangga yaa, tambahnya. Oke gapapa, sekalian olahraga, jawab saya. Dan yaaa, kami menuruni anak tangga yang cukup banyak, dan ngos-ngosan. Tapi, lelahnya terbayar setelah sampai di bawah. Pasirnya yang putih, air lautnya yang bening, suara ombaknya yang menenangkan, sungguh memesona. Selain itu, disana juga ada goa yang juga tidak kalah memesona kalau mengambil foto dari sana, sayangnya saya tidak punya. Waktu itu saya lebih memilih menikmati suasana menenangkan itu, yang tidak akan saya temukan di Jakarta. 

Oiya info tambahannya, tidak dikenakan biaya tiket masuk ke pantai ini. Hanya saja lumayan banyak pedagang lokal disini, yang agak memaksa untuk membeli, kalau saya sih cukup terganggu. 

Ini beberapa potret oleh saya.



Potret oleh suami.



Ini ada bonus video. Dengarkanlah sebentar, sungguh memesona <3

Lokasi:
Green Bowl Beach, Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Indonesia.


Salam,
Suci Ramdasari

Green Bowl Beach yang Memesona

Tuesday, August 20, 2019

Beberapa minggu lalu, saya dan suami liburan ke Bali. Ini kali pertama saya dan kali kedua untuknya. Kami begitu semangat saat itu. Sesemangat saat saya menulis ini. Masih terasa hingga saat ini betapa indahnya Bali, baru saja kembali, tapi sudah rindu lagi. Bersyukur ada media untuk mengenang kenangan itu, a moment to remember, seperti sebuah judul film Korea.

Bukan ke Bali namanya kalau tidak ke pantai bukan. Karena ini pertama kalinya, saya juga ingin mengunjungi pantai yang sangat sering saya dengar jika mendengar Bali waktu dulu, seperti Kuta, Padang - Padang, atau Nusa Dua. Nggak mau, pantai - pantai itu udah ramai banget sekarang, begitu kata suami. Rencana awal yang ingin ke Pandawa, berubah ke Green Bowl Beach setelah merasa waktu kami tidak cukup untuk ke Pandawa. Pantainya keren, trus juga masih lumayan sepi, jadi aku bisa berenang di laut, begitulah keinginan suami.

Tapi menuju ke pantainya kita harus melewati anak tangga yaa, tambahnya. Oke gapapa, sekalian olahraga, jawab saya. Dan yaaa, kami menuruni anak tangga yang cukup banyak, dan ngos-ngosan. Tapi, lelahnya terbayar setelah sampai di bawah. Pasirnya yang putih, air lautnya yang bening, suara ombaknya yang menenangkan, sungguh memesona. Selain itu, disana juga ada goa yang juga tidak kalah memesona kalau mengambil foto dari sana, sayangnya saya tidak punya. Waktu itu saya lebih memilih menikmati suasana menenangkan itu, yang tidak akan saya temukan di Jakarta. 

Oiya info tambahannya, tidak dikenakan biaya tiket masuk ke pantai ini. Hanya saja lumayan banyak pedagang lokal disini, yang agak memaksa untuk membeli, kalau saya sih cukup terganggu. 

Ini beberapa potret oleh saya.



Potret oleh suami.



Ini ada bonus video. Dengarkanlah sebentar, sungguh memesona <3

Lokasi:
Green Bowl Beach, Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Indonesia.


Salam,
Suci Ramdasari
Bandung yang selalu memberikan rindu untuk ingin selalu kesana, membawa saya dan Ona berkeliling Kota Bandung pada Desember 2017 lalu. Keramahan Bandung tampak dari orang-orang disekelilingnya. Bagaimana Bandung menemani saya kala sunyi waktu itu.

Potret Bandung oleh Suci

Potret Suci oleh Ona 
Lokasi: Jalan Asia Afrika, Alun-Alun Kota Bandung, Lapangan Gasibu, dan Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat.
Photograph by Suci Ramdasari and Rahmadona

Salam,
Suci Ramdasari

Potret Bandung

Tuesday, November 6, 2018

Bandung yang selalu memberikan rindu untuk ingin selalu kesana, membawa saya dan Ona berkeliling Kota Bandung pada Desember 2017 lalu. Keramahan Bandung tampak dari orang-orang disekelilingnya. Bagaimana Bandung menemani saya kala sunyi waktu itu.

Potret Bandung oleh Suci

Potret Suci oleh Ona 
Lokasi: Jalan Asia Afrika, Alun-Alun Kota Bandung, Lapangan Gasibu, dan Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat.
Photograph by Suci Ramdasari and Rahmadona

Salam,
Suci Ramdasari
Semua orang punya pikirannya masing-masing. Tentang apa saja, pekerjaan, orang yang dicintai, kampung halaman, dan lain-lain. Mungkin juga ada yang tidak suka terlalu bawa pikiran, mungkin. Karena setiap pikiran hanya diri kita sendiri yang mengetahui. Begitu juga saya, semalam banyak sekali yang saya pikirkan, hingga susah sekali untuk tidur.

Hari ini saya ingin me time, dan terima kasih pada suami sudah mengizinkan. Saya merasa sangat nyaman di tengah keramaian Starbucks, hanya ada saya dan pikiran saya. Sebelumnya tidak pernah saya merasa senyaman ini sendirian di keramaian. Saya bisa membuat list yang ingin saya lakukan. Menuangkan semua yang saya pikirkan semalam ke dalam planner saya. Menulis resep masakan yang ingin saya masak. Menulis blog. Mencari inspirasi. Membaca. Rileks, nyaman, dengan segelas signature chocolate favorit saya.

Once more, thank you so much Hubby ❤️


Jakarta,
Suci Ramdasari

Saya dan Pikiran

Friday, October 12, 2018

Semua orang punya pikirannya masing-masing. Tentang apa saja, pekerjaan, orang yang dicintai, kampung halaman, dan lain-lain. Mungkin juga ada yang tidak suka terlalu bawa pikiran, mungkin. Karena setiap pikiran hanya diri kita sendiri yang mengetahui. Begitu juga saya, semalam banyak sekali yang saya pikirkan, hingga susah sekali untuk tidur.

Hari ini saya ingin me time, dan terima kasih pada suami sudah mengizinkan. Saya merasa sangat nyaman di tengah keramaian Starbucks, hanya ada saya dan pikiran saya. Sebelumnya tidak pernah saya merasa senyaman ini sendirian di keramaian. Saya bisa membuat list yang ingin saya lakukan. Menuangkan semua yang saya pikirkan semalam ke dalam planner saya. Menulis resep masakan yang ingin saya masak. Menulis blog. Mencari inspirasi. Membaca. Rileks, nyaman, dengan segelas signature chocolate favorit saya.

Once more, thank you so much Hubby ❤️


Jakarta,
Suci Ramdasari
Menikah. Hari yang sangat saya tunggu, akhirnya datang jua.

"Asa dan rasa yang sepertinya diijabah semesta. Dia yang sempat ada dalam do'a, lalu terlupa, kemudian ditemukan". - Suci Ramdasari

Sejak lama, sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama, ketika guru agama saya membahas perihal jodoh itu juga pilihan, sepertinya saya sudah memimpikan bertemu jodoh dengan cara yang tak pernah saya duga, namun waktu itu hanya mimpi yang berlalu saja. Ketika berumur 20 tahun saya memulai kembali impian pernikahan saya. Singkat cerita, hingga saya berumur 23 tahun namun jodoh itu belum juga ada, saya ikhlaskan kepada Allah bagaimana jadinya pertemuan saya dengan jodoh saya.

Banyak yang bertanya bagaimana pertemuan dan proses saya dengan suami, yang sebenarnya sampai detik ini pun kami masih tidak percaya sudah memiliki pasangan hidup. Hingga hampir setiap hari mengucapkan terima kasih karena sudah mau.

Awal 2017, saya merasa sangat rindu dengan jodoh saya. Saya selalu sematkan dalam do'a agar segera dipertemukan dengan jodoh. Hingga saat saya memilih merantau ke Jakarta, tanggal 17 Februari 2017 ketika di perjalanan menuju Jakarta, saya niatkan "Ya Allah, sengaja aku ke Jakarta untuk mencari kerja dan mencari jodoh". Hari terus berlalu hingga 2017 pun hampir berlalu, dan tampaknya jodoh belum menampakkan dirinya.

Menuju 2018, saya introspeksi diri, saya tambahkan do'a, saya ikhlaskan diri, saya ikhlaskan masa lalu, dan bismillah semoga 2018 bisa bertemu jodoh dan menikah, begitu resolusi 2018 saya. Awal Februari 2018, ada teman pria di kantor yang sepertinya sedang mendekati saya. Dalam hati berkata "ah mungkin dia sedang bercanda". Hari demi hari tampaknya dia tidak bercanda, namun dia juga tidak pernah chat pribadi seperti bertanya lagi apa dan basa basi lainnya. Kami hanya berbicara ketika makan siang bersama dan bertemu ketika akan atau selesai shalat ashar di Masjid. Dan ada perubahan yang dia lakukan, dia mengikuti sosial media saya dan melihat aktifitas sosial media saya. Saya terus bertanya di dalam hati, "apakah dia serius atau sedang bercanda". Akhirnya pertanyaan ini saya tujukan kepada Sang Pemilik Hati bukan kepada dia.

Seperti pada kalimat saya "asa dan rasa sepertinya diijabah semesta". Do'a saya perihal bertanya tentang dia serius atau bercanda diijabah. Tanggal 17 Februari 2018, tepat 1 tahun saya berniat bertemu jodoh di Jakarta. Dia meminta izin melalui WhatsApp kepada Mama untuk melakukan pendekatan dengan saya. Yang akhirnya dia, Mama, dan saya bertemu keesokan harinya untuk menyatakan dia serius, tidak sedang bercanda, dan mohon izin untuk melakukan pendekatan (kebetulan waktu itu Mama sedang di Jakarta). Begitulah proses saya dan suami dimulai. Kurang lebih sebulan setelah hari itu, suami menelepon Papa yang berada di Padang untuk minta izin ingin melamar. Awal Mei 2018, kami lamaran di Padang, singkat, cepat, lancar, dan tidak ada hambatan, alhamdulillah. Kami mulai menyiapkan semua kebutuhan pernikahan. Semua proses lancar dan dimudahkan Allah. Lalu, 16 September 2018 kami menikah.

Banyak yang bilang proses perkenalan saya dan suami hingga menikah cukup singkat. Yaa begitulah, saya dan suami pun tidak menyangka. Ternyata jodoh saya hanya berjarak 3 meja dari meja kerja saya.

Sekian kisah saya, semoga yang sedang merindukan jodoh bisa lebih ikhlas hingga waktunya tiba, tetap dalam do'a semoga segera.

Kunjungi juga www.sucieko.com ya, ada kisah perjalanan saya dan suami :)


Jakarta,
Suci Ramdasari

Suci Menikah

Wednesday, October 10, 2018

Menikah. Hari yang sangat saya tunggu, akhirnya datang jua.

"Asa dan rasa yang sepertinya diijabah semesta. Dia yang sempat ada dalam do'a, lalu terlupa, kemudian ditemukan". - Suci Ramdasari

Sejak lama, sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama, ketika guru agama saya membahas perihal jodoh itu juga pilihan, sepertinya saya sudah memimpikan bertemu jodoh dengan cara yang tak pernah saya duga, namun waktu itu hanya mimpi yang berlalu saja. Ketika berumur 20 tahun saya memulai kembali impian pernikahan saya. Singkat cerita, hingga saya berumur 23 tahun namun jodoh itu belum juga ada, saya ikhlaskan kepada Allah bagaimana jadinya pertemuan saya dengan jodoh saya.

Banyak yang bertanya bagaimana pertemuan dan proses saya dengan suami, yang sebenarnya sampai detik ini pun kami masih tidak percaya sudah memiliki pasangan hidup. Hingga hampir setiap hari mengucapkan terima kasih karena sudah mau.

Awal 2017, saya merasa sangat rindu dengan jodoh saya. Saya selalu sematkan dalam do'a agar segera dipertemukan dengan jodoh. Hingga saat saya memilih merantau ke Jakarta, tanggal 17 Februari 2017 ketika di perjalanan menuju Jakarta, saya niatkan "Ya Allah, sengaja aku ke Jakarta untuk mencari kerja dan mencari jodoh". Hari terus berlalu hingga 2017 pun hampir berlalu, dan tampaknya jodoh belum menampakkan dirinya.

Menuju 2018, saya introspeksi diri, saya tambahkan do'a, saya ikhlaskan diri, saya ikhlaskan masa lalu, dan bismillah semoga 2018 bisa bertemu jodoh dan menikah, begitu resolusi 2018 saya. Awal Februari 2018, ada teman pria di kantor yang sepertinya sedang mendekati saya. Dalam hati berkata "ah mungkin dia sedang bercanda". Hari demi hari tampaknya dia tidak bercanda, namun dia juga tidak pernah chat pribadi seperti bertanya lagi apa dan basa basi lainnya. Kami hanya berbicara ketika makan siang bersama dan bertemu ketika akan atau selesai shalat ashar di Masjid. Dan ada perubahan yang dia lakukan, dia mengikuti sosial media saya dan melihat aktifitas sosial media saya. Saya terus bertanya di dalam hati, "apakah dia serius atau sedang bercanda". Akhirnya pertanyaan ini saya tujukan kepada Sang Pemilik Hati bukan kepada dia.

Seperti pada kalimat saya "asa dan rasa sepertinya diijabah semesta". Do'a saya perihal bertanya tentang dia serius atau bercanda diijabah. Tanggal 17 Februari 2018, tepat 1 tahun saya berniat bertemu jodoh di Jakarta. Dia meminta izin melalui WhatsApp kepada Mama untuk melakukan pendekatan dengan saya. Yang akhirnya dia, Mama, dan saya bertemu keesokan harinya untuk menyatakan dia serius, tidak sedang bercanda, dan mohon izin untuk melakukan pendekatan (kebetulan waktu itu Mama sedang di Jakarta). Begitulah proses saya dan suami dimulai. Kurang lebih sebulan setelah hari itu, suami menelepon Papa yang berada di Padang untuk minta izin ingin melamar. Awal Mei 2018, kami lamaran di Padang, singkat, cepat, lancar, dan tidak ada hambatan, alhamdulillah. Kami mulai menyiapkan semua kebutuhan pernikahan. Semua proses lancar dan dimudahkan Allah. Lalu, 16 September 2018 kami menikah.

Banyak yang bilang proses perkenalan saya dan suami hingga menikah cukup singkat. Yaa begitulah, saya dan suami pun tidak menyangka. Ternyata jodoh saya hanya berjarak 3 meja dari meja kerja saya.

Sekian kisah saya, semoga yang sedang merindukan jodoh bisa lebih ikhlas hingga waktunya tiba, tetap dalam do'a semoga segera.

Kunjungi juga www.sucieko.com ya, ada kisah perjalanan saya dan suami :)


Jakarta,
Suci Ramdasari

Sebenarnya ide tulisan dengan judul ini sudah terfikirkan oleh saya sejak awal Januari. Tapi ide ini tersendat karena bingung bagaimana harus mengembangkan judul ini menjadi paragraf. Lalu Sabtu kemaren saya diajak Tisa ikut bookasession yang diadakan oleh @bookabukucom yang langsung saya iyakan karena pertama free, kedua karena bosan Sabtu di kosan terus. Dari sesi tersebut saya mendapatkan tambahan insprasi untuk pengembangan judul ini menjadi paragraf.

Topik dari sesi itu adalah passion and perseverance. Dimana passion itu sepertinya sudah agak lama saya lupakan. Sebenarnya passion itu apa sih? Saya sendiri belum mengetahuinya dengan pasti. Tapi yang pasti menurut kacamata saya yang sangat awam, passion itu hanya profesi. Orang-orang yang sudah mengetahui passionnya, pasti sangat bergairah agar passion itu bisa menjadi profesi. Bahkan ada quotenya "pekerjaan yang paling enak adalah hobi yang dibayar". Dan passion, sepertinya sangat berpengaruh untuk judul ini.

/ker.ja/n sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah, mata pencaharian (KBBI). Empat tahun lalu, saya mengklaim pada orang tua saya, saya tidak ingin bekerja pada orang lain, saya inginnya jadi pengusaha. Namun nyatanya saat ini, saya bekerja untuk orang lain, saya bekerja untuk membantu mewujudkan mimpi orang lain. Empat tahun lalu, saya berfikir bahwa orang yang bekerja untuk orang lain itu tidak keren. Namun nyatanya saat ini, saya menikmati saja bekerja untuk orang lain. Saya menyadari, pikiran saya empat tahun lalu itu sangat salah, tidak ada yang salah dengan kerja bukan? Selama itu halal dan tidak membebani dirinya sendiri, bahkan sebenarnya kerja itu harus. Karena kita membutuhkan uang untuk bertahan hidup, salah satu caranya ya kerja. Dan mungkin saja kerja untuk beberapa orang menjadi passionnya. Saat ini saya menyadari, mereka yang bekerja dengan posisi dan gaji yang tinggi itu juga keren. Pasti untuk mendapatkan itu, mereka butuh proses yang tidak sebentar juga.

/usa.ha/n kegiatan di bidang perdagangan (dengan maksud mencari untung) (KBBI). Apakah semua orang yang membuka usaha menjadi pengusaha? Tidak. Tapi semua orang bisa memulai untuk membuka usaha, selama punya modal dan niat, ya bisa-bisa saja. Orang yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan pada orang lain, pasti mencoba untuk berjualan. Atau yang sudah bosan bekerja di kantor mikirnya "bagusnya buka usaha apa ya?". Tapi semua yang bisa membuka usaha, tidak akan semuanya juga bisa menjadi pengusaha. Mereka yang bisa berinovasi, yang berani mengambil resiko, dan mengembangkan usahanya itulah pengusaha. Mungkin juga menjadi pengusaha itu adalah passionnya, sehingga mereka bisa.

/kar.ya/n 1. pekerjaan; 2. hasil perbuatan, buatan, ciptaan (KBBI). Sebenarnya menurut saya, orang yang paling keren itu adalah orang yang bisa meng-uang-kan karyanya. Seperti yang saya tulis di paragraf dua, mungkin ini yang dimaksud hobi yang dibayar. Tapi sesungguhnya, yang tidak kita ketahui, jalan berliku dan terjal seperti apa yang mereka lalui untuk bisa seperti itu. Mungkin karena alasan itulah mengapa orang-orang ini saya anggap sangat keren. Mereka sanggup mengambil keputusan dan tindakan untuk menghasilkan karya yang mereka inginkan, meninggalkan pekerjaan, lalu bahagia.

Orang yang bekerja pada orang lain dengan posisi dan gaji yang tinggi, sesungguhnya mereka punya beban dan tanggung jawab yang sangat tinggi. Orang yang bekerja dengan posisi yang bisa dianggap rendah atau pedagang kaki lima, mereka tetap semangat untuk tetap bekerja karena mereka harus makan dan menghidupi keluarga mereka. Seorang pengusaha, atau seorang yang berkarya, mungkin butuh waktu yang lama, konflik yang rumit, proses yang tidak mudah dan berliku hingga mereka bisa dikenal. Seperti quote yang saya lupa saya dapatkan darimana "tidak perlu iri pada rezeki orang lain, kamu tidak tau apa yang telah diambil darinya". Sekarang menurut saya, apapun pekerjaannya, apapun yang mereka jual, siapapun yang berani membuat karya. Menurut saya, mereka semua keren.


xoxo,
uciramda

Bicara Tentang Kerja, Pengusaha, dan Karya

Sunday, January 28, 2018

Sebenarnya ide tulisan dengan judul ini sudah terfikirkan oleh saya sejak awal Januari. Tapi ide ini tersendat karena bingung bagaimana harus mengembangkan judul ini menjadi paragraf. Lalu Sabtu kemaren saya diajak Tisa ikut bookasession yang diadakan oleh @bookabukucom yang langsung saya iyakan karena pertama free, kedua karena bosan Sabtu di kosan terus. Dari sesi tersebut saya mendapatkan tambahan insprasi untuk pengembangan judul ini menjadi paragraf.

Topik dari sesi itu adalah passion and perseverance. Dimana passion itu sepertinya sudah agak lama saya lupakan. Sebenarnya passion itu apa sih? Saya sendiri belum mengetahuinya dengan pasti. Tapi yang pasti menurut kacamata saya yang sangat awam, passion itu hanya profesi. Orang-orang yang sudah mengetahui passionnya, pasti sangat bergairah agar passion itu bisa menjadi profesi. Bahkan ada quotenya "pekerjaan yang paling enak adalah hobi yang dibayar". Dan passion, sepertinya sangat berpengaruh untuk judul ini.

/ker.ja/n sesuatu yang dilakukan untuk mencari nafkah, mata pencaharian (KBBI). Empat tahun lalu, saya mengklaim pada orang tua saya, saya tidak ingin bekerja pada orang lain, saya inginnya jadi pengusaha. Namun nyatanya saat ini, saya bekerja untuk orang lain, saya bekerja untuk membantu mewujudkan mimpi orang lain. Empat tahun lalu, saya berfikir bahwa orang yang bekerja untuk orang lain itu tidak keren. Namun nyatanya saat ini, saya menikmati saja bekerja untuk orang lain. Saya menyadari, pikiran saya empat tahun lalu itu sangat salah, tidak ada yang salah dengan kerja bukan? Selama itu halal dan tidak membebani dirinya sendiri, bahkan sebenarnya kerja itu harus. Karena kita membutuhkan uang untuk bertahan hidup, salah satu caranya ya kerja. Dan mungkin saja kerja untuk beberapa orang menjadi passionnya. Saat ini saya menyadari, mereka yang bekerja dengan posisi dan gaji yang tinggi itu juga keren. Pasti untuk mendapatkan itu, mereka butuh proses yang tidak sebentar juga.

/usa.ha/n kegiatan di bidang perdagangan (dengan maksud mencari untung) (KBBI). Apakah semua orang yang membuka usaha menjadi pengusaha? Tidak. Tapi semua orang bisa memulai untuk membuka usaha, selama punya modal dan niat, ya bisa-bisa saja. Orang yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan pada orang lain, pasti mencoba untuk berjualan. Atau yang sudah bosan bekerja di kantor mikirnya "bagusnya buka usaha apa ya?". Tapi semua yang bisa membuka usaha, tidak akan semuanya juga bisa menjadi pengusaha. Mereka yang bisa berinovasi, yang berani mengambil resiko, dan mengembangkan usahanya itulah pengusaha. Mungkin juga menjadi pengusaha itu adalah passionnya, sehingga mereka bisa.

/kar.ya/n 1. pekerjaan; 2. hasil perbuatan, buatan, ciptaan (KBBI). Sebenarnya menurut saya, orang yang paling keren itu adalah orang yang bisa meng-uang-kan karyanya. Seperti yang saya tulis di paragraf dua, mungkin ini yang dimaksud hobi yang dibayar. Tapi sesungguhnya, yang tidak kita ketahui, jalan berliku dan terjal seperti apa yang mereka lalui untuk bisa seperti itu. Mungkin karena alasan itulah mengapa orang-orang ini saya anggap sangat keren. Mereka sanggup mengambil keputusan dan tindakan untuk menghasilkan karya yang mereka inginkan, meninggalkan pekerjaan, lalu bahagia.

Orang yang bekerja pada orang lain dengan posisi dan gaji yang tinggi, sesungguhnya mereka punya beban dan tanggung jawab yang sangat tinggi. Orang yang bekerja dengan posisi yang bisa dianggap rendah atau pedagang kaki lima, mereka tetap semangat untuk tetap bekerja karena mereka harus makan dan menghidupi keluarga mereka. Seorang pengusaha, atau seorang yang berkarya, mungkin butuh waktu yang lama, konflik yang rumit, proses yang tidak mudah dan berliku hingga mereka bisa dikenal. Seperti quote yang saya lupa saya dapatkan darimana "tidak perlu iri pada rezeki orang lain, kamu tidak tau apa yang telah diambil darinya". Sekarang menurut saya, apapun pekerjaannya, apapun yang mereka jual, siapapun yang berani membuat karya. Menurut saya, mereka semua keren.


xoxo,
uciramda

Ini postingan pertama saya di tahun 2018. Tadinya ingin jadi postingan terakhir di 2017, lalu ada ajakan dari seorang kawan yang tidak ingin saya tolak, jadi saya menunda posting blog saja akhirnya.

Agak melenceng dari judul, boleh ya saya sedikit throw back 2017 di satu paragraf ini. Hmm 2017, jika saya throw back, hidup saya biasa saja dan tak banyak pencapaian berharga di tahun lalu. Sedih. Tapi seharusnya saya tidak membicarakan hasil, karena hasil yang bagus itu hadiah dari perjuangan proses yang baik. Mungkin 2017 saya belum mendapatkan hasil, karena di tahun lalu adalah waktu dimana saya sedang bertumbuh (pikir saya). Iya bertumbuh, bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik (wishlist). Awal 2017 adalah hari-hari tergalau saya, bahkan hingga pertengahan 2017 masih galau. Alhamdulillah akhir Juli Allah menjawab do'a dan membuka mata saya untuk belajar memperbaiki diri. Saya menemukan banyak cara untuk memperbaiki proses saya saat bertumbuh, yang membuat saya berenergi untuk siap menjalani 2018.

Bismillah 2018.
Di tahun ini, saya juga ingin bisa menulis caption seperti Raisa "upload foto sendiri dengan perasaan yang disimpan sendiri, penuh haru, penuh syukur, untuk tahun 2018 yang luar biasa. Cuma bisa bilang, tahun ini jauh lebih indah dari segala yang saya bisa unggah di social media. Alhamdulillah".

Jadi akhir 2017 saya menulis resolusi 2018 saya di story instagram. Yaitu: 1. lebih bahagia, 2. sehat jasmani dan rohani, 3. bertemu jodoh, 4. menjadi Suci Ramdasari. Ini adalah resolusi secara garis besar dari 14 resolusi yang saya tulis di planner saya. Poin 2, 3, 4 adalah untuk mencapai poin 1 "lebih bahagia". Poin 1, 2, 3 untuk menjadi poin 4 yaitu "menjadi Suci Ramdasari"

Minggu-minggu terakhir 2017, saya membaca review sebuah buku yang berjudul The Happiness Project karya Gretchen Rubin. Karena saya sudah merasa kurang bahagia sejak pertengahan 2017, lalu menemukan review ini membuat saya semangat. Hingga menjadikannya resolusi 2018. Sebenarnya saya masih baca setengahnya, tapi masih setengah bacaan saja buku ini sudah sangat membantu saya. Menjadi lebih bahagia adalah tujuan Gretchen, begitu juga dengan saya.

Lalu mengapa poin 2, 3, 4 untuk mencapai poin 1 "lebih bahagia"? Karena untuk bahagia, saya membutuhkan poin 2, tubuh yang sehat agar saya bisa berenergi untuk menjalani hari-hari, tentu saja hati dan jiwa juga harus sehat agar kebahagiaan itu menjadi balance untuk dunia dan akhirat. Poin 3, poin yang sebenarnya saya butuhkan sejak lama (kode banget ya Allah T.T). Geothe mengatakan, tidak ada hal yang lebih fundamental berdasarkan kebahagiaan, kecuali pernikahan. Apalagi saya seorang yang selalu suka bercerita pada orang yang nyaman tentang suka duka hidup saya, yang pasti akan mencapai poin 1 itu. Poin 4, menurut Gretchen, menjadi diri sendiri, melakukan apa yang ingin dilakukan, akan menjadi bahagia. Walaupun tidak semua orang berkesempatan bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan, tapi saya ingin mencoba.

Lalu mengapa poin 1, 2, 3 menjadi poin 4? Karena poin 1, 2, 3 adalah proses untuk saya bertumbuh agar bisa menjadi poin 4 "menjadi Suci Ramdasari", Suci Ramdasari yang lebih baik, yang lebih bahagia, dan lebih bersyukur. Lebih daripada itu, saya tidak ingin mengingkari kehidupan yang sudah saya miliki. Saya ingin mengubah hidup tanpa mengubah kehidupan saya (The Happiness Project, hal xxii).

Bismillah 2018, semoga bahagia.


xoxo,
uciramda

Bismillah 2018

Monday, January 1, 2018

Ini postingan pertama saya di tahun 2018. Tadinya ingin jadi postingan terakhir di 2017, lalu ada ajakan dari seorang kawan yang tidak ingin saya tolak, jadi saya menunda posting blog saja akhirnya.

Agak melenceng dari judul, boleh ya saya sedikit throw back 2017 di satu paragraf ini. Hmm 2017, jika saya throw back, hidup saya biasa saja dan tak banyak pencapaian berharga di tahun lalu. Sedih. Tapi seharusnya saya tidak membicarakan hasil, karena hasil yang bagus itu hadiah dari perjuangan proses yang baik. Mungkin 2017 saya belum mendapatkan hasil, karena di tahun lalu adalah waktu dimana saya sedang bertumbuh (pikir saya). Iya bertumbuh, bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik (wishlist). Awal 2017 adalah hari-hari tergalau saya, bahkan hingga pertengahan 2017 masih galau. Alhamdulillah akhir Juli Allah menjawab do'a dan membuka mata saya untuk belajar memperbaiki diri. Saya menemukan banyak cara untuk memperbaiki proses saya saat bertumbuh, yang membuat saya berenergi untuk siap menjalani 2018.

Bismillah 2018.
Di tahun ini, saya juga ingin bisa menulis caption seperti Raisa "upload foto sendiri dengan perasaan yang disimpan sendiri, penuh haru, penuh syukur, untuk tahun 2018 yang luar biasa. Cuma bisa bilang, tahun ini jauh lebih indah dari segala yang saya bisa unggah di social media. Alhamdulillah".

Jadi akhir 2017 saya menulis resolusi 2018 saya di story instagram. Yaitu: 1. lebih bahagia, 2. sehat jasmani dan rohani, 3. bertemu jodoh, 4. menjadi Suci Ramdasari. Ini adalah resolusi secara garis besar dari 14 resolusi yang saya tulis di planner saya. Poin 2, 3, 4 adalah untuk mencapai poin 1 "lebih bahagia". Poin 1, 2, 3 untuk menjadi poin 4 yaitu "menjadi Suci Ramdasari"

Minggu-minggu terakhir 2017, saya membaca review sebuah buku yang berjudul The Happiness Project karya Gretchen Rubin. Karena saya sudah merasa kurang bahagia sejak pertengahan 2017, lalu menemukan review ini membuat saya semangat. Hingga menjadikannya resolusi 2018. Sebenarnya saya masih baca setengahnya, tapi masih setengah bacaan saja buku ini sudah sangat membantu saya. Menjadi lebih bahagia adalah tujuan Gretchen, begitu juga dengan saya.

Lalu mengapa poin 2, 3, 4 untuk mencapai poin 1 "lebih bahagia"? Karena untuk bahagia, saya membutuhkan poin 2, tubuh yang sehat agar saya bisa berenergi untuk menjalani hari-hari, tentu saja hati dan jiwa juga harus sehat agar kebahagiaan itu menjadi balance untuk dunia dan akhirat. Poin 3, poin yang sebenarnya saya butuhkan sejak lama (kode banget ya Allah T.T). Geothe mengatakan, tidak ada hal yang lebih fundamental berdasarkan kebahagiaan, kecuali pernikahan. Apalagi saya seorang yang selalu suka bercerita pada orang yang nyaman tentang suka duka hidup saya, yang pasti akan mencapai poin 1 itu. Poin 4, menurut Gretchen, menjadi diri sendiri, melakukan apa yang ingin dilakukan, akan menjadi bahagia. Walaupun tidak semua orang berkesempatan bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan, tapi saya ingin mencoba.

Lalu mengapa poin 1, 2, 3 menjadi poin 4? Karena poin 1, 2, 3 adalah proses untuk saya bertumbuh agar bisa menjadi poin 4 "menjadi Suci Ramdasari", Suci Ramdasari yang lebih baik, yang lebih bahagia, dan lebih bersyukur. Lebih daripada itu, saya tidak ingin mengingkari kehidupan yang sudah saya miliki. Saya ingin mengubah hidup tanpa mengubah kehidupan saya (The Happiness Project, hal xxii).

Bismillah 2018, semoga bahagia.


xoxo,
uciramda

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...