Dilan & Milea

Thursday, February 1, 2018

Sebelum Dilan di filmkan, saya sudah penasaran ingin membacanya, tapi dulu saya bukan orang yang suka beli buku, sukanya minjam, haha. Akhirnya saya tidak membacanya juga (karena tidak menemukan pinjaman), sampai satu hari saya menonton youtube channel seseorang yang sebenarnya video room tour, tapi ada beberapa menit dari video itu dia menyatakan pendapatnya bahwa dia tidak terlalu suka novel Dilan. Katanya, jika dia baca waktu masih SMA mungkin dia baper. Setelah menonton video itu saya putuskan untuk tidak baca saja.
Source: brilio.net 

Lalu setelah film Dilan 1990 tayang, Dilan viral, dengan banyak memenya. Ada yang berkomentar Iqbal tidak cocok memerankan sosok Dilan. Ada yang bilang akting Iqbal bagus, feelnya dapat, chemistrynya dapat. Kembalilah saya pada rasa penasaran itu, seperti apakah Dilan. Penasaran itu lebih kepada ingin membaca novelnya dulu daripada menontonnya. Lalu saya tau kepada siapa saya akan bertanya untuk mendapatkan komentar yang meyakinkan bahwa itu bagus, yaitu kepada Sukma. Benar saja, Sukma bilang "novel dan filmnya bagus Cik". Saking viralnya, grup chat yang lain juga mengajak nonton Dilan 1990, lalu saya jawab, ingin baca novelnya dulu. Dan Zonda mengirimkan 3 novel (E-Book) karya Pidi Baiq itu ke whatsapp saya dalam bentuk soft copy pdf.

Selesai membaca "Dilan. Dia adalah Dilanku tahun 1990", komentar saya, jika saya membacanya ketika masih SMA, pasti saya senyum malu-malu. Tapi saya bacanya sekarang yang sudah merasa agak dewasa, jadi saya senyum karena sedang bernostalgia. Saya melanjutkan membaca "Dilan. Dia adalah Dilanku tahun 1991", saat itulah kebaperan dimulai. Karena memang ada beberapa kejadian yang Dilan & Milea alami, saya alami juga saat berpacaran di waktu SMA. Seperti jadiannya di kertas bermaterai dan bertanda tangan (saya dulu jadiannya juga diatas kertas tapi tidak bermaterai), atau seperti candaan Dilan yang ajak ke KUA, atau setelah mereka bertemu lalu di telpon bilang rindu, atau hanya jalan-jalan dengan motor lalu pulang. Menurut saya, novel ini benar-benar mampu membuat pembacanya bernostalgia ke masa mereka masing-masing.

Awalnya saya pikir semua orang yang pernah SMA pasti merasakan kisah seperti Dilan & Milea. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, mungkin tidak semuanya merasakan kenangan seperti Dilan & Milea. Karena mungkin saja ada yang tidak ingin pacaran semasa SMA, atau mungkin pacarnya tidak suka bercanda seperti Dilan, atau juga bisa saja pacarnya punya sifat seperti Beni atau Kang Adi sehingga mereka bapernya pada bagian Beni dan Kang Adi. Tapi mereka yang dulu waktu SMA berpacaran dengan karakter seperti Dilan atau Milea, atau seperti kejadian-kejadian yang Dilan & Milea alami, pasti ini akan menjadi nostalgia yang luar biasa membuat baper.

Tapi ini hanya nostalgia, jangan lama-lama. Seperti yang Bunda katakan pada buku "Milea. Suara dari Dilan" halaman 318, "Masa lalu adalah masa lalu, tak usah dihindari atau kau tolak. Masa lalu akan menjadi penasihat yang baik. Tidak ada gunanya kau sesali. Biarlah itu hadir sebagai aliran yang membawamu pergi ke tujuan yang lebih baik. Terimalah kenyataan, dan terus hidup dengan melakukan apa yang benar dan menyenangkan". Lalu saya akan berterima kasih kepada Ayah Pidi Baiq karena sudah menulis kisah Dilan & Milea yang dia bilang hanya kisah sederhana, namun kesederhanaannya mampu membuat pembacanya kembali ke masa indah mereka dulu. Saya juga berterima kasih untuk "Milea. Suara dari Dilan", saya tidak akan menjelaskan mengapa, pokoknya terima kasih saja.

By the way, saya juga sudah nonton Dilan 1990 senin kemaren dengan Imel. Menurut saya, Dilannya ganteng (loh? haha). Secara keseluruhan bagus, saya suka. Yang pernah muda atau yang lagi dimasanya, pasti baperlah. Ini pendapat saya, bagaimana kamu, terserah padamu.

Sekian.


Suci, Jakarta 2018.

2 comments:

  1. Aku kemarin juga baru dapat e-book nya, tapi jadi mengurungkan niat buat baca. Kayaknya bakal nonton film ini segera. Soalnya takut kecewa sama ekspektasi kalau baca novelnya dulu, kayak pas ada film Dealova. Pas baca novelnya mah ampe nangis, pas nonton filmnya zonk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha karena kalau udah baca khayalannya beda kakk. Bagus kak, nonton deh kak, baper sih.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...